Guru, Hindari“Diskriminasi Bawah Sadar”! Agar Proses Belajar Lebih Maksimal

diskriminasi guru. sejutaguru.com || sumber gambar: internet

Oleh: Ali Fauzi

Ada yang sadar, ada juga yang tidak sadar. Banyak yang sudah membuangnya, lebih banyak lagi yang masih memilikinya. Padahal, jika kita membiarkannya terus menerus, akan berakibat buruk dalam pendidikan. Itulah efek dari Diskriminasi Bawah Sadar.

Istilah diskriminasi bawah sadar saya temukan dari ilmuwan sosial Malcolm Gladwell. Kita akan memahaminya perlahan-lahan. Jangan lupa sak-seruput ya…

Share
Continue Reading

Kompetisi Sebagai Ideologi Dalam Pendidikan

kompetisi dalam pendidikan || tribunnews.com

Oleh: Ali Fauzi

Mengapa orang percaya bahwa kompetisi itu sehat?

Jawabannya adalah karena kompetisi bukan sekadar persaingan atau ketidaknyamanan yang harus dihadapi oleh individu maupun kelompok. Kompetisi bisa berarti upaya meninggikan derajat kebaikan untuk diri dan sesama.

Lebih dari itu, kompetisi sudah menjadi ideologi yang merasuk dan mendistorsi pikiran kita. Ketika salah menyikapinya, baik pikiran maupun tindakan, maka semakin sengit kita berkompetisi, makin sedikit yang kita dapatkan.

Yuk, kita lihat daftar kompetisi dalam deretan fakta!

  • PISA (Peringkat pendidikan dunia)
  • Olimpiade internasional
  • Peringkat kampus terbaik (tingkat dunia dan nasional)
  • O2SN (dari tingkat daerah hingga nasional)
  • Lomba guru berprestasi (dari tingkat daerah hingga nasional)
  • Daftar sekolah tinggi terbaik berdasarkan kriteria.
  • Peringkat hasil UN dan UNBK (tingkat nasional dan regional)
  • Daftar sekolah terbaik atau unggulan
  • Guru teladan
  • Lulusan terbaik tingkat sekolah
  • Pengelompokan kelas berdasarkan kemampuan
  • Peringkat kelas
  • Dan seterusnya
  • Dan seterusnya.

Dalam Islam, orang mengenal kalimat fastabiqul khoirot. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kalimat yang digunakan adalah kebaikan, bukan kepandaian.

Mari menyikapi kompetisi dengan tepat!

Salam.

Share
Continue Reading

Membicarakan “Impor Guru”, Tidak Penting

sumber gambar: regional.kompas.com

A: Banyak orang sudah lupa dengan kata tanya”mengapa”. Mereka lebih ingat kata tanya “Apa”.

B: Apa maksudmu, kawan?

A: Ketika ada berita tentang impor guru, lebih banyak yang merespon dengan kata tanya “Apa” ketimbang “mengapa”. Lebih sempit lagi, berita tersebut mereka posisikan sebagai penantang. Seolah-olah, mereka mendapat tantangan dengan pertanyaan: Apa sikapmu kalau impor guru benar terjadi? Apa responmu jika kebijakan ini ada? Dan seterusnya.

B: Saya kira penting, kita merespon dengan cara itu. Apakah kawan masih ingat dengan teori “test the water”?

Share
Continue Reading

Memilih Active Reading Ketimbang Speed Reading

Oleh: Ali Fauzi

Saya kagum dengan pelatihan atau seminar tentang cara membaca cepat, bahkan super cepat. Banyak pula buku yang mengupas tentang metode ini. Namun, ada kerugian yang harus kita terima ketika kita menggunakan baca cepat terhadap sebuah buku. Tentu, ada keuntungannya.

Thomas Frank dalam bukunya 10 Steps to Earning Awesome Grades, menulis bahwa janganlah membaca buku layaknya membaca koran. Saat membaca koran, kita hanya ingin mengetahui inti kejadian hari ini. Salah satu efek dari metode baca koran adalah sikap reaktif.

Share
Continue Reading

Kepala Sekolah Yang “Buruk” Berakibat Fatal Pada Pendidikan

peran kepala sekolah || sumber gambar: cnnindonesia.com

Oleh: Ali Fauzi

Jika proyeknya adalah memotong pohon, maka guru harus memastikan dirinya untuk memiliki kemampuan memotong pohon dengan cara yang tepat. Sedangkan kepala sekolah harus memastikan bahwa yang dipotong adalah pohon yang tepat. Bukan sembarang pohon.

Meskipun ujung tombak pendidikan di sekolah adalah guru, namun peran kepala sekolah tak kalah besarnya dengan peran guru. Jika guru adalah pemimpin belajar di kelas, maka kepala sekolah adalah pemimpin belajar para guru.

Share
Continue Reading

PISA; Kisah Tes Terbesar Di Dunia

sumber gambar: internet

Ole: Ali Fauzi

“Your education today is your economy tomorrow”, begitulah ucap lelaki yang rambutnya sudah memutih. Dia adalah Andreas Schleicher.

Schleicher-lah orang yang memimpin tes terbesar di dunia ini. Tes tersebut tidak menguji memory siswa dan kurikulum yang berbasis pengetahuan. Menurutnya, jika kita hanya mengajar dan membuat tes apa yang kita ajarkan berdasarkan hafalan, maka robot mampu melakukannya lebih baik. Ingin bukti, tanyalah google tentang sejarah, maka dia akan menunjukkan ribuan sumber sejarah dalam hitungan detik.

Schleicher adalah ilmuwan data Jerman. Dialah yang memimpin perubahan tes ini dari tes akademik yang beorientasi materi menjadi tes yang mengukur berbagai keterampilan, pola pikir, kolaborasi, empati, dan kreativitas. Dia memiliki visi ingin mengubah cara negara-negara di seluruh dunia mengajar anak-anak dan generasi mereka.

Share
Continue Reading

KKM Tidak Pernah Membatasi. Inilah Alasannya…

Oleh: Ali Fauzi

Permainan roller coaster harus memenuhi standar atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) tentang keselamatan. Dengan standar tersebut, pembuat roller coaster tidak pernah kehilangan cara untuk membuat permainan tersebut menjadi menantang dan menyenangkan.

Begitulah seharusnya kita memosisikan KKM.

Menganalogikan KKM dalam belajar dengan permainan roller coaster tidak sepenuhnya tepat. Roller coaster adalah benda mati, sedangkan proses belajar adalah proses dinamis dengan modal dan kondisi yang berbeda-beda. Analogi di atas hanyalah pemantik untuk melihat KKM dari sudut pandang lain. Mari kita ulik titpis-tipis saja.

Share
Continue Reading
1 2 3 5