Jangan Mendisiplinkan Anak!

disiplin

 

Oleh: Ali Fauzi

Setiap guru dan setiap orangtua pasti menginginkan anak atau anak didiknya menjadi anak yang disiplin. Tetapi, ada aturan penting yang harus diingat, “Jangan mendisiplinkan anak, tetapi didiklah anak untuk menjadi disiplin.”

Mendisiplinkan anak dan mendidik anak untuk menjadi disiplin itu dua hal berbeda. Kita, sebagai guru atau orangtua, hanya perlu introspeksi ke bagian mana kita bersikap.

Share
Continue Reading

Orangtua Yang Diidolakan Anak


Oleh: Ali Fauzi

Setiap anak butuh belajar tentang informasi baru (pelajaran di sekolah), belajar tentang mengelola emosi, belajar tentang Tuhannya, dan belajar tentang hidup dengan orang lain. Itu karena mereka sedang mengenal dunia. Dengan beberapa kebutuhan inilah, orangtua dan guru harus memahami betul bahwa belajar, bermain, berteman, dan beribadah itu sama-sama pentingnya. Maka, berilah porsi yang seimbang kepada masing-masing tersebut.

Share
Continue Reading

Kenapa Kita Menjadi Orangtua?

Oleh:  Ali Fauzi


Kalau saja matahari terbit di pagi hari kemudian tenggelam pada sore hari, dan itu memang karena seharusnya begitu dan tidak ada yang lain, maka ayat-ayat Tuhan tidak perlu menyebut matahari sebagai tanda kekuasaan-Nya. Faktanya, Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia dan tanpa makna.

Dengan anak kebanggaan kami yang masih berusia 20 bulan, kami benar-benar menjadi orangtua. Ketika aku luangkan waktu sejenak dengan membaca sebuah buku, aku mendapat renungan menarik kenapa kita menjadi orang tua. Sungguh tidak sederhana, tetapi juga tidak sulit.

Kenapa kita menjadi orang tua?
Karena anak-anak memilih kita dan ingin belajar tentang cara hidup kita, cara kita beraksi dalam berbagai situasi, dan strategi kita dalam mengharapkan sesuatu yang akan kita capai di masa yang akan datang.

Karena anak-anak kita ingin belajar, maka kita harus menjadi pribadi yang terbuka.

Share
Continue Reading

Komunikasi Efektif dengan Anak


Oleh: Ali Fauzi

Seorang anak sedang mengobrol dengan teman sebangkunya. Mereka sangat asyik. Tampak ada keintiman yang membuatnya hanyut. Mereka saling menunjukkan benda satu sama lain. Sesekali mata mereka bertemu untuk meyakinkan diri. Beberapa detik kemudian, tiba-tiba salah satu dari mereka menggerakkan bola matanya ke arah teman lainnya. Ketika melihat keheningan, pandangan anak tersebut langsung menuju ke arah guru yang sedang mengajar.
Sang guru tersenyum. Si anak pun langsung memahami arti senyum gurunya. Senyum dengan tatapan pasti. Si anak langsung berhenti saling bicara karena memang bukan waktunya saling berbicara. Si anak juga membalas senyum guru dengan senyum kesadaran.

Share
Continue Reading

Membangun Kebiasaan Anak Mengerjakan PR

Oleh : Ali Fauzi

Setelah seharian belajar, pulang pun belajar lagi. Bukan hal yang menyenangkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Tak heran, jika sekarang istilah “PR” dijadikan istilah untuk suatu hal yang menyebalkan dan melelahkan. Bagaimana dengan anak Anda? Apakah ia dan Anda harus bertengkar dulu sebelum akhirnya ia mengerjakan pekerjaan rumahnya? Bagaimana membuat pekerjaan rumah menjadi hal yang dilakukan disiplin bagi anak?

Francie Alexander, dari Scholastic, situs untuk membantu anak belajar mengatakan, bahwa anak-anak usia sekolah dasar secara garis besar menghabiskan waktu antara 40-60 menit per hari untuk mengerjakan PR. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda dan si anak lakukan untuk membangun kebiasaan mengerjakan PR.

Share
Continue Reading

Reward; 10 Alasan untuk Waspada Menggunakannya


Oleh: Ali Fauzi

Ketika mulai belajar, hal pertama yang harus dilakukan terhadap siswa/anak adalah memunculkan kemauan untuk belajar. Ibarat kita hendak menuang air ke dalam gelas, maka gelasnya harus terbuka dahulu. Dalam kondisi tertutup, maka hanya ada satu kemungkinan yaitu air akan tumpah dan tidak akan masuk ke dalam gelas. Dalam kondisi terbuka, maka kemungkinan air untuk masuk pasti ada.

Share
Continue Reading