THE PIANIST, MUSIK DALAM KEKACAUAN PERANG


pernah dimuat di harian Suara Merdeka, 4 September 2005

Judul : The Pianist
Penulis : Wladyslaw Szpilman
Alih bahasa : Agung Prihantoro
Cet. : I, 2005
Tebal : xiv + 354 hlm.
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta

Terbit pertama kali dengan judul Death of a City di Polandia tahun 1946, buku ini langsung dilarang terbit oleh penguasa Polandia yang merupakan kaki tangan Stalin. Setelah itu tak pernah dicetak ulang, baik di Polandia maupun di luar negeri. Menurut Wolf Biermann, seperti yang dikatakan dalam penutup buku ini, “terlalu banyak kebenaran yang menyakitkan tentang kerja sama antara orang-orang Rusia, Polandia, Ukraina, Latvia, dan Yahudi dengan orang-orang Nazi Jerman”.

Tahun 2002, karya Szpilman terbit dalam bentuk pita seluloid atau film dengan judul The Pianist arahan sutradara Roman Polanski. Film yang meraih sukses ini memenangi tiga Academy Award, termasuk sutradara dan aktor terbaik. Sebuah film yang harus menunggu empat dekade untuk membuatnya. Disebut-sebut sebagai film terbaik tentang pembunuhan massal setelah Schindler’s List karya Steven Spielberg.

Buku ini cukup memikat banyak orang, karena sekaligus menjadi dokumen perang yang tidak biasa. Tidak hanya kisah perseteruan perang, namun buku ini berisi detail-detail kemanusiaan yang bagi sebagian pihak terlalu menyakitkan sebagai kebenaran. Szpilman dapat menjelaskannya dengan apik, sehalus, dan sejujur alunan piano yang dimainkannya seumur hidup. Tidak sentimentil dan sangat menyentuh.

Dibuka dengan pengantar yang sangat bagus dari anak Wladyslaw Szpilman yang bernama Andrzej Szpilman, yang menceritakan bagaimana dia menemukan buku di rak buku ayahnya, ketika dia mencari tahu kenapa dirinya tidak pernah bertemu kakek nenek dari pihak ayah. Dia menyadari bahwa ayahnya bukanlah seorang penulis, melainkan “seseorang yang hidup dalam dan dengan musik”. Namun, buku ini bisa sangat signifikan bagi banyak orang.

Kisah ini bermula ketika perang dunia II sampai ke tanah Polandia tahun 1939. Wladyslaw Szpilman lahir 5 Desember 1911 di Sosnowiec, Polandia; bekerja sebagai pianis untuk stasiun radio Polandia. Dia hidup dengan keluarganya di Ghetto (perkampungan minoritas yahudi) Warsawa, Polandia. Mereka adalah keluarga Yahudi.
Meletuslah perang antara Polandia melawan tentara Jerman. Tidak lama setelah itu, tentara Jerman pun berhasil menduduki Warsawa. Tembok pemisah antara tentara Jerman dan warga sipil Polandia ditegakkan dengan kokoh sebagai pembeda. Pembedaan ras, terutama bagi golongan Yahudi di Ghetto sangat menyiksa. Di sana, dari waktu ke waktu, warga yahudi hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Karena secara acak, mereka akan dibunuh dengan sia-sia oleh tentara Jerman.

Perburuan warga yahudi terus berlanjut hingga tahun 1942. sampai tiba waktunya, mereka harus diungsikan ke Umschlagplatz yang terletak di perbatasan Ghetto. Ini semacam kamp di tepi rel-rel kereta api yang dikelilingi oleh jalan-jalan, lorong-lorong, dan trotoar kotor. Sebuah tempat dengan masa depan yang tidak jelas, dimana semua orang mencurigainya sebagai kematian. Sikap tentara Jerman ini “seperti membawa biri-biri ke tukang jagal”. Demikian salah satu kalimat yang terucap dengan nada pasrah.

Di Umschlagplatz inilah, akhirnya Szpilman berpisah dengan keluarganya, dan tak mendapatkan khabar apapun hingga dia meninggal. Dia diselamatkan oleh salah seorang tentara Yahudi yang peduli terhadapnya.

Dari seluruh 3,5 juta orang Yahudi yang pernah hidup di Polandia, 240.000 diantaranya mampu bertahan hidup selama kekuasaan Nazi. Sebagai catatan tambahan, diantara enam belas ribu orang Arya yang dikenang di Yad Vashem, sebuah situs penting Yahudi di Jerusalem, sepertiganya adalah orang Polandia.

Kisah Szpilman mencapai puncak ketika dia bertahan hidup terpisah dari keluarga dan orang-orang dekatnya. Dia termasuk salah satu diantara orang-orang yang dipekerjakan setiap hari di wilayah Arya di Warsawa, dan turut menyelundupkan ke dalam Ghetto, bukan hanya roti dan kentang, tetapi juga amunisi dan perlawanan Yahudi. Karena kelaparan yang sangat, perlawanan pun dapat dipatahkan dengan mudah. Perang di Polandia mencapai puncaknya. Szpilman dengan penuh ketakutan dan sembunyi-sembunyi, harus berlindung di belakang orang-orang non-Yahudi. Dia dipindahkan dan disembunyikan dari gedung satu ke gedung yang lain.

Dalam kondisi yang demikian, Szpilman sering mengalami kelaparan. Selama tiga sampai lima hari perutnya tak terisi makanan. Hal ini disebabkan oleh kondisi sembunyi-sembunyi dan pengiriman makanan yang tidak pasti. Namun, semangatnya untuk bertahan hidup tak mampu dipatahkan oleh rasa lapar.

Adalah sebuah kenyataan pada saat itu; apabila seseorang di Perancis menyembunyikan seorang Yahudi, akan dikirim ke penjara atau ke kamp konsentrasi; di Jerman, akan dihukum mati; tetapi di Polandia, seluruh keluarga anda akan dihukum mati.
Kisah panjang Szpilman ini akhirnya menemui sedikit kelegaan, ketika dia dalam kondisi setengah sekarat, ditemukan diantara reruntuhan kota Warsawa dan diselamatkan oleh tentara Jerman kapten Wilm Hosenfeld. Bahkan, Hosenfeld membawakan Szpilman makanan, selimut, dan mantel ke tempat persembunyiannya.

Buku ini ditulis oleh Szpilman persis setelah masa-masa perang tersebut. Peristiwa yang terbentang antara tahun 1939 sampai dengan tahun 1945. Aroma perang dan detail traumanya sangat terasa. Sebuah buku yang di satu sisi menjadi catatan harian mengenang selama perang. Dan di sisi lain, buku ini menjadi semacam terapi bagi Szpilman setelah masa-masa traumatik yang panjang dan melelahkan. Namun, semuanya diungkapkan dengan halus dan mengalir begitu saja. Menurut saya Szpilman adalah seorang penulis yang baik. Dia mampu menerangkan dengan sangat bagus hal-hal yang seharusnya kita ketahui dengan benar.

Setelah berkeliling dunia bermain musik, Szpilman hidup dan tinggal di Warsawa hingga meninggal pada 6 Juli 2000.
Kisah yang hampir sama bagusnya dengan buku aslinya mampu divisualisasikan oleh Roman Polanski. Inspirasi terkuat Roman Polanski dalam membuat film The Pianist datang dari sebuah kenyataan bahwa dia juga pernah menjadi tahanan di Ghetto, Polandia selama perang dunia II. Dia kembali ke Polandia dari Perancis dengan orang tuanya hanya dua tahun sebelum PD II dimulai. Ibunya meninggal di kamp konsentrasi. Dan dia bertemu kembali dengan bapaknya pada tahun 1945.

Akhirnya, The Pianist menjadi semacam catatan harian di ‘neraka’. Namun, kebenaran yang menjadi larangan di masa lalu, menjadi memikat dan menarik perhatian di masa kini. Kebenaran yang diungkapkannya adalah sebuah fakta dari sisi lain kebenaran itu sendiri.

Share
Continue Reading

KESAKSIAN SEORANG DOKTER DARI LEBANON


Judul : Tears of Heaven; Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina
Penulis : Dr. Ang Swee Chai
Alih bahasa : Dina Mardiana
Tebal : 656 hlm.
Penerbit : Mizan, Bandung
Cet : I, Juli 2006

Pada saat terbit pertama kali tahun 1989, buku yang berjudul asli “From Beirut to Jerusalem” karya dr. Ang Swee Chai ini membuat banyak orang Amerika marah karena kesaksiannya yang berani dan vulgar tentang pembantaian massal di Sabra-Shatilla, kamp pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon, pada 1982. Tidak lama setelah itu, pencetakan dan penerbitan buku ini dihentikan.

Satu tahun kemudian, penerbit Harper Collin mengembalikan hak cipta kepada dr. Ang Swee dan menerbitkan buku “From Beirut to Jerusalem” versi Thomas Friedman, seorang kolumnis koran terkemuka Amerika Serikat, New York Times. Sebuah buku yang sama-sama mengulas tentang konflik Arab-Israel. Tentu saja versi Friedman lebih populer bagi orang Amerika.

Penulis buku ini, dr. Ang Swee Chai, adalah seorang dokter bedah ortopedi kelahiran Penang, Malaysia. Buku “Tears of Heaven” merupakan kesaksian nyata tentang pembantaian manusia yang menukik hingga inti permasalahannya. Sebuah buku yang penuh darah dan kengerian. Tak ada buku lain yang lebih otoritatif dan paling detil menceritakan pembantaian Sabra-Shatila selain buku ini; termasuk bahkan di antara buku yang ditulis oleh orang-orang Arab maupun Muslim sendiri.

Buku yang tergolong gemuk ini menuturkan secara kronologis kesaksian dan perjalanan penulisnya dari Lebanon hingga Jerusalem. Buku ini dimulai dengan sejarah singkat background keluarga tempat dr. Ang Swee tumbuh. Sebagai seorang kristen fundamentalis, dr. Ang Swee tumbuh dalam keyakinan yang mendukung Israel, membenci orang-orang Arab, dan memandang PLO sebagai teroris yang harus dikutuk dan ditakuti. Namun setelah menyaksikan televisi tentang penyerbuan tentara Israel ke Lebanon, pandangan dr. Ang Swee tentang Israel, PLO, dan orang-orang Arab-Palestina, berubah.
Melihat penyerbuan yang terus menerus berlangsung, hati dr. Ang Swee tergerak pedih. Dalam salah satu pengakuannya, dr. Ang Swee mengatakan, setidaknya kepedihan itu “pertama, karena mereka telah disakiti oleh Israel, kedua karena aku seorang kristiani, dan ketiga karena aku seorang dokter”. Akhirnya, dr. Ang Swee mendapatkan kesempatan untuk membantu dan menolong para korban perang di Lebanon.

Di Beirut, khususnya di Sabra-Shatila, dr. Swee tidak hanya menemukan betapa bergunanya ketrampilan menjadi dokter dalam menolong manusia lain, tapi juga tentang betapa terbatasnya profesi ini dalam situasi segila itu. Berada di tengah pembantaian, dr. Swee mengaku tidak berdaya: sementara menolong orang yang sekarat, dia melihat tak jauh darinya perempuan dibantai dan diperkosa seperti binatang. Di hari berikutnya, orang-orang bersenjata memasuki rumah sakit dan memerintahkan semua orang yang memegang paspor luar negeri untuk meninggalkan tempat itu. Dipaksa meninggalkan tempat itu, para dokter digiring melalui kamp. Pemandangan saat itu masih terus menghantuinya sampai sekarang. “Ada banyak orang dikumpulkan, pria, wanita, dan anak-anak yang memandang kami dengan mata penuh ketakutan,” kenang dr. Ang Sweee. “Mayat ada di mana-mana. Saya tersandung sesosok mayat.” Dalam kengerian, ia lihat mata mayat itu telah dicungkil.

Perjalanan dr. Ang Swee Chai, yang kini tinggal di Inggris, merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Ia menjadi saksi korban-korban pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat sipil, wanita dan anak-anak. Kondisi itu telah mengubah pandangannya yang semula mendukung Israel dan menganggap orang-orang Arab sebagai teroris, kini ia mendukung setiap upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan korban-korban kekejaman Israel yang pada umumnya adalah bangsa Arab.

Ilmu kedokteranlah yang telah membuat buku ”From Beirut to Jerusalem” jauh lebih bermakna ketimbang buku-buku yang bisa ditulis seorang wartawan perang. dr. Swee bisa secara rinci melukiskan jenis luka, peluru apa yang merobek tulang tengkorak korban, dan bahan-bahan kimia apa yang terkandung dalam amunisi Israel. Detail kepedihan fisik dan psikis sangat terasa. Gaya bertuturnya yang mengalir membuat buku ini mudah diikuti dan dicerna. Meski barangkali tidak seindah kisah-kisah perjalanan seperti karya Naipul dan Theroux, namun pembaca akan dapat merasakan emosi kepedihan dan pergolakan yang dialami dr. Ang Swee.

Buku ini juga menceritakan pada 1984 ketika Ang kembali ke Inggris, dia dan beberapa pekerja medis membentuk badan amal untuk membantu warga Palestina. Mereka menamakannya MAP, Medical Aid for Palestine. Mereka bertujuan membangun kembali rumah sakit-rumah sakit Palestina dan menyediakan suplai obat-obatan. Berkat pengorbanan itulah pada 1987, pemimpin PLO, Yasser Arafat, menganugerahi dr Ang Swee Chai dengan gelar Star of Palestine. Inilah penghargaan tertinggi bagi pengabdian kepada rakyat Palestina. Setelah dimulainya Intifada, Ang mengalihkan perhatiannya untuk membantu warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

Lebanon seolah telah menjadi tanah air kedua bagi dr. Ang Swee. Setiap kali kekerasan menimpa Lebanon dan orang Palestina, setiap kali itu pula hatinya terpanggil dan berangkat kesana. Tahun 1985, ketika perang Ramadhan, juga tahun 1988 ketika intifada baru dimulai, dia harus kembali lagi ke Lebanon.

Perjuangan Dr. Ang Swee tidak hanya membantu para korban perang. sebagai orang Timur, ia juga harus berjuang melawan Pers Barat dalam mengungkap kebenaran dan kemudian bersaksi di depan komisi Kahan yang menyelidiki pembantaian itu. Komisi tersebut, akhirnya memutuskan bahwa Menteri Pertahanan Ariel Sharon (yang di kemudian hari menjadi Perdana Menteri) bertanggung jawab “secara personal” atas pembantaian itu dan dipaksa mundur dari jabatannya pada 1983.

Buku ini pada awalnya adalah surat-surat Dr. Ang Swee selama di Lebanon kepada suaminya, Francis Khoo yang berada di London, yang dititipkan melalui palang merah internasional atau para jurnalis. Judul “From Beirut to Jerusalem” dipilih karena bagi Dr. Ang Swee ada harapan besar yang masih menyala dalam diri setiap orang Palestina bahwa kelak suatu hari nanti mereka akan dapat kembali ke tanah suci, Jerusalem.

Membaca buku ini berarti merasakan dari dekat pembantaian manusia melalui pengalaman penulisnya. Buku ini juga dapat menjadi pelajaran untuk bersikap rendah hati, peduli terhadap sesama yang terkena musibah, juga merupakan semangat tinggi untuk tetap bertahan hidup sebagai manusia dan masyarakat. Pesan utama buku ini adalah, selamatkan Lebanon, selamatkan masyarakat manusia dari kekejaman dalam bentuk apapun.
Akhirnya, melalui buku ini juga upaya dr. Ang Swee Chai berkeliling ke berbagai negara adalah untuk menuturkan pengalamannya kepada orang-orang. “Saya ingin dunia mengetahui pembantaian itu,” katanya.[]

Share
Continue Reading

Dua Sahabat Pengejar Layang-layang


Judul Buku : The Kite Runner
Pengarang : Khaled Hosseini
Alih Bahasa : Berliani M. Nugrahani
Cet. : I, Maret 2006
Tebal : xiv+616 hlm.
Penerbit : Qanita, Bandung

Sebuah buku terkadang hadir dengan fantasi luar biasa, cerita kepahlawanan yang apik, dan penuh visi besar, yang kesemuanya menantang keberanian kita untuk melihat dunia di luar diri kita. Sedangkan buku yang lainnya datang lebih halus, lebih bijaksana, mengajak pembacanya berpikir dari dalam dirinya, memberinya kekuatan untuk menanyakan hidup, kepercayaan, Tuhan, tindakan-tindakan sexual, cinta, politik, atau apapun yang mungkin ada dalam pikiran pembacanya. Novel “The Kite Runner”, karya Khalid Hosseini ini tampaknya memiliki kedua karakter tersebut. Sebuah novel yang berani, kuat, menyentuh, dan bertaburan persoalan-persoalan moral.

The Kite Runner ini merupakan sepenggal kisah tentang persahabatan, pengkhianatan, kehormatan, pengampunan, dan nilai-nilai sosial dengan sejarah Afghanistan modern sebagai latar belakang ceritanya. Ini adalah sebuah gaya berkisah yang mengingatkan kita pada penulis-penulis Rusia abad ke-19. Gaya bertutur yang berani dan gentle dalam novel ini juga mengingatkan lebih jauh akan gaya berkisah Boris Pasternak dalam Dr. Zhivago. Bedanya, narasi yang digunakan Hosseini terasa lebih halus, familiar, dan mudah diikuti.

Dua lelaki, satu rahasia. Novel ini mengisahkan tentang persahabatan yang tak terlupakan antara dua anak laki-laki yang hidup di Kabul, Amir dan Hasan. Mereka tumbuh di rumah yang sama, berbagi atap bersama, namun hidup dalam dunia yang berbeda. Amir adalah anak terpelajar orang kaya Muslim-sunni dari etnik Pashtun. Sedangkan ayah Hasan adalah pelayan di rumah Amir. Hasan adalah seorang Muslim-Syiah dari etnik Hazara, sebuah kaum minoritas di Afghanistan. Di balik perbedaan itu, mereka hidup layaknya saudara.

Hosseini melukiskan kehidupan Afghanistan pra-revolusi dengan penuh kehangatan dan selera humor yang tinggi. Namun, pertentangan antar etnik juga tergambar sangat menyayat hati dalam novel yang bersetting lebih dari tiga puluh tahun yang lalu ini.
Masa kecil Amir dan Hasan diliputi dan dipenuhi dengan kisah dan permainan layang-layang di Kabul. Hasan dan Amir adalah pengejar layang-layang (The Kite Runner) yang handal. Alkisah, ketika pesta adu layang-layang terbesar diadakan, Amir dan Hasan menjadi pemenangnya. Namun, peristiwa itu ternyata sekaligus mengakibatkan sebuah peristiwa rahasia yang memilukan, peristiwa yang akhirnya menyebabkan perpisahan mereka setelah lebih dari dua puluh tahun bersama. Sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh Amir dan Hasan.

Metafor ‘layang-layang’ yang digunakan Hosseini dalam The Kite Runner untuk mengungkapkan konflik sosial bangsanya, sungguh mengagumkan. Metafor sederhana yang menyentuh tradisi dan budaya Afghanistan. Negeri gurun ini dikenal dunia sebagai negara yang misterius, terutama pasca-serangan 11 September 2001 di AS dan didaulatnya kaum fundamentalis di Taliban. Afghanistan telah mengalami masa-masa Monarchy, Demokrasi, pengasingan dan perang saudara yang terus bergejolak hingga kini.

Maka, novel ini telah berperan sekaligus menjadi media informatif yang sangat bagus tentang sejarah Afghanistan bagi masyarakat dunia. Sebuah kisah yang mampu membuat kita menangis dan tertawa. Kepedihan-kepedihan yang dengan sangat detail diungkapkan oleh Hosseini akan terasa begitu pedih dalam benak pembaca.
Secara keseluruhan, novel ini mengisahkan pergolakan pribadi akan permasalahan-permasalahan sosial dalam setting sejarah yang kelam. Sebuah kisah yang kurang lebih mengingatkan kita pada novel klasik Gone With The Wind karya Margaret Mitchell.
Pada saat perang sipil terjadi, Rusia menginvasi Afghanistan, ratusan bahkan ribuan rakyat Afghanistan diasingkan. Begitu juga dengan Amir dan ayahnya, Baba. Mereka harus melarikan diri ke Amerika Serikat. Tradisi Afghan yang menekankan kebanggan dan kehormatan harus dipertaruhkan. Di California, Baba bekerja di pompa bensin, dan di akhir pekan, Baba dan Amir pergi ke pasar loak bersama komunitas orang-orang Afghan. Disamping itu, Amir juga melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan kemudian menikah. Kerja keras Baba dan kebiasaannya merokok telah mengakibatkan dirinya sakit. Tak lama kemudian, Baba meninggal dunia.

Kisah kelam personal dan sosial memuncak, ketika Amir menjumpai kehancuran bangsanya saat kembali ke kampung halaman, dengan harapan akan membantu Hasan dan keluarganya. Tanah kelahirannya yang indah telah hancur dan berubah total. Aroma kepedihan terasa dimana-mana.

Khaled Hosseini, penulis novel ini, lahir dan besar di Kabul, Afghanistan. Hosseini adalah anak dari seorang diplomat yang mendapat suaka politik ke Amerika Serikat pada tahun 1980. Maka tak heran, setiap inci dan detail kisah beserta istilah-istilah lokal terasa begitu kuat. Hosseini sendiri mengakui bahwa seluruh nama tempat, kisah, dan peristiwa yang dialami Amir sebagian besar terilhami dari pengalaman dirinya sewaktu di Kabul. Namun, tokoh Amir dalam novel ini sepenuhnya fiktif belaka.
Persinggungan fisik dan psikologis yang terlukis dalam novel ini pada akhirnya memberikan pelajaran tentang bagaimana sebuah individu dan masyarakat ketika berjuang di tengah-tengah kekerasan yang terus terjadi sampai sekarang. Membaca buku ini juga akan memberi pengetahuan tentang alasan mengapa sebuah budaya bisa luntur dan hilang.
Novel The Kite Runner ini adalah novel pertama Hosseini, bahkan novel pertama orang Afghan yang ditulis dalam bahasa Inggris. Namun, dalam debutnya yang pertama, novel ini telah merebut hati banyak pembaca di Barat dan di Timur sendiri. Sebuah novel yang disebut-sebut telah sekaligus menjadi sejarah sosial-politik negara Afghanistan yang paling mudah dipahami.

Apa yang telah dilakukan oleh Hosseini dalam novelnya ini merupakan usaha yang sangat jarang dilakukan oleh para penulis novel zaman sekarang. Ia telah menyelipkan sebuah pendidikan politik antar bangsa di balik serentetan peristiwa lokal. Tentu saja dengan bangunan setiap tokoh yang emosional dan menyentuh dalam setiap halaman novel ini.

Semangat yang membara dalam novel ini adalah munculnya optimisme yang sangat kuat akan datangnya masa depan yang lebih baik dan damai di negeri Afghanistan. Melalui penuturan yang sangat personal, penulis novel ini telah menemukan suara hatinya sebagai orang Afghanistan yang telah mengalami masa lalu yang kelam di negerinya. Sebuah pengalaman yang telah menggerakkan hati dan pikiran diri dan orang lain.[]

Share
Continue Reading

The Judges, Menelusuri Jejak Perjalanan ‘Sang Pengadil’


Pernah dimuat di harian Media Indonesia, 7 Agustus 2005

Judul : The Judges; Sang Hakim
Penulis : Elie Wiesel
Alih bahasa : Sofia Mansoor
Tebal : xiv + 365 hal.
Penerbit : BENTANG, Yogyakarta
Tahun : 2005, cetakan I

Sebuah buku terkadang hadir dengan fantasi luar biasa, cerita kepahlawanan yang apik, dan penuh visi besar, yang kesemuanya menantang keberanian kita untuk melihat dunia di luar diri kita. Sedangkan buku yang lainnya datang lebih halus, lebih bijaksana, mengajak pembacanya berpikir dari dalam dirinya, memberinya kekuatan untuk menanyakan hidup, kepercayaan, Tuhan, tindakan-tindakan sexual, cinta, politik, atau apapun yang mungkin ada dalam pikiran pembacanya. Novel “The Judges”, karya pemenang Nobel perdamaian tahun 1986 ini, merupakan wakil dari type yang kedua. Sebuah novel yang berani, misterius, filosofis, religius, dan bertaburan persoalan-persoalan moral.

“The Judges” mengisahkan sebuah thriller yang tanpa melibatkan pertentangan fisik, sebagaimana karya Clive Barker atau John Grisham. Novel ini juga mengingatkan kita lebih jauh tentang eksplorasi diri secara introspektif dalam karya Albert Camus “The Fall”, juga seperti cerita pendek Sartre “The Wall” yang mengisahkan perpaduan antara kemarahan dan keputusasaan seseorang dalam menghadapi eksekusi.

Novel ini berkisah tentang lima orang penumpang dari pesawat yang terpaksa melakukan pendaratan darurat di sebuah lapangan udara kecil di Connecticut akibat badai salju yang hebat. Pesawat yang sedianya akan membawa mereka dari Amerika Serikat menuju Israel itu, untuk sementara tidak bisa melanjutkan penerbangan.

Setengah jam kemudian, datanglah sejumlah mobil untuk mengangkut seluruh penumpang ke tempat-tempat penampungan sementara, sambil menunggu cuaca membaik. Kelima orang yang akan dikisahkan ini secara kebetulan berada dalam mobil yang sama. Mereka adalah: Claudia, George, Bruce, Yoav, dan Razziel.

Mobil tersebut membawa mereka ke sebuah rumah balok kayu di sebuah desa terpencil dekat pegunungan antara New York dan Boston. Tuan rumah yang menerima mereka adalah seorang lelaki yang menyebut dirinya ‘Sang Hakim’, bersama seorang pelayan dengan panggilan ‘Si Bongkok’. Alih-alih menolong para korban, ternyata Sang Hakim malah menjadikan mereka berlima sebagai tawanan yang harus ikut serta dalam permainan yang telah disiapkannya. Pada akhir permainan nanti, salah seorang dari mereka — yang paling tidak berharga –harus mati.

Teka-teki kematian inilah yang membuat para tokohnya dibiarkan bertutur sendiri-sendiri, mengenali diri dan kediriannya. Dimana mereka harus mengingat kembali perjalanan hidupnya selama ini. George, si Juru Arsip dengan setumpuk rahasia penting negara, juga dengan sebuah rahasia yang bisa menjatuhkan seorang politisi di tangannya; Claudia, si cantik yang bekerja di sebuah teater, baru saja meninggalkan suaminya dan telah menemukan cinta baru; Bruce, seorang calon pendeta yang berubah menjadi perayu ulung dan playboy; Yoav, seorang tentara; serta Razziel, seorang guru agama yang pernah menjadi tahanan politik. Penulis novel ini, Elie Wiesel—yang di tahun 1995 termasuk satu dari lima puluh orang besar Amerika dalam edisi spesial ke-50 Who’s Who In America—mampu menampilkan dan menghidupkan sebuah cerita dengan sangat detail dan menawan.

Semua merasa berhak untuk terus melanjutkan hidup yang berharga ini. Tak ada yang rela mati demi yang lain, sebab di suatu tempat di dunia ini, masih ada orang-orang tercinta yang menanti kedatangan mereka: istri, kekasih, anak-anak, ayah, sahabat, dan lain sebagainya. Mengapa kita, manusia, selalu saja terlambat menyadari betapa beruntungnya diri ini memiliki orang-orang yang dengannya kita dapat berbagi rasa cinta?

Novel ini menarik tidak hanya karena misterius, namun juga penuh dengan pesan-pesan kemanusiaan, sebagaimana juga yang sering diusung Wiesel dalam karya-karyanya. Elie Wielsel, penulis novel ini, adalah penerima 110 gelar kehormatan dan lebih dari 120 gelar yang lainnya. Dia telah menerima beberapa penghargaan atas karya-karyanya, termasuk karya non-fiksinya seperti autobiografi Night (1960), The Jews of Silence (1966), dan A Beggar in Jerusalem (1970). Lebih dari limapuluh buku telah ditulis oleh Wiesel.

Namun, di luar berbagai penghargaan yang diterimanya, dalam ‘The Judges’, yang terbit pertama kali tahun 2002, Wiesel menyajikan cerita lain yang lebih emosional, meski tetap menampilkan sisi humanisme yang selalu disuarakannya tanpa henti. Ironisnya, seperti ditulis dalam pengantar penerbit di buku ini, Wiesel justru diam seribu bahasa tatkala Zionis Israel melakukan pelanggaran kemanusiaan terhadap Bangsa Palestina. Sebagai seorang yang gencar mengkampanyekan isu-isu kemanusiaan, ia memilih bungkam menyaksikan pelanggaran HAM yang terjadi di depan hidungnya itu. Bagaimana bisa ia, yang pernah merasakan sendiri kepedihan akibat kekejaman NAZI, bersikap mendua seperti itu?.

Lewat karyanya ini, Wiesel ingin mengingatkan bahwa betapa masih banyak yang berharga dalam setiap diri dan orang-orang di sekitar kita. Sebuah kenyataan yang akan menyadarkan dan mengingatkan kita terhadap hakekat kemanusiaan itu sendiri. Bahwa setiap tindakan apapun yang melukai orang lain tetaplah patut direnungkan kembali. Demi diri kita, demi kemanusiaan.

Barangkali, apabila yang diinginkan oleh Wiesel adalah sebuah kisah misteri dengan ketegangan dan kejutan yang mempesona, Wiesel tidak sepenuhnya berhasil. Namun, apabila tujuan utama novel ini adalah menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, maka memang Wiesel-lah salah satu orang yang patut disimak karya-karyanya.

‘Sang Hakim’ Kemanusiaan bisa hadir dalam bentuk siapa dan apa saja. Sesuatu yang kecil bisa menjadi pahlawan hanya gara-gara memaksa kita harus merenungkan kembali nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Di balik aktifitas sebagai mantan pemenang Nobel perdamaian, Wiesel berhasil menampilkan seorang pahlawan kamanusiaan yang lebih hakiki, bernama ‘Sang Hakim’.[]

Share
Continue Reading

‘RING’ DAN PESAN KEMATIAN UNTUK DUNIA

Pernah dimuat di harian Media Indonesia, 9 Januari 2006

Judul : RING
Penulis : Koji Suzuki
Penerjemah : Utti Setiawati
Tebal : 433 hlm.
Cet. : I, November 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

Koji Suzuki sering disebut sebagai Stephen King dari Jepang. Novel-novel horornya memikat tidak hanya bagi masyarakat Jepang. Karya masterpiece-nya yang berjudul “Ring”, telah memukau banyak orang dan menghasilkan tren supernatural baru di seluruh dunia.

Sejarah dunia mencatat dan mengenal Jepang sebagai sebuah negara dengan tradisi lokal tinggi dan teknologi yang maju. Kondisi masyarakatnya yang konsumerisme telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan tradisi-tradisi lokal. Persinggungan keduanya terus terjadi. Kondisi inilah yang ditangkap dengan baik oleh Koji Suzuki. Novel yang telah difilmkan di Jepang dengan judul Ringu dan di Hollywood dengan judul Ring ini menggambarkan teror di Jepang pada era postmodern. Sebuah teror yang lahir dari perpaduan tradisi lokal dan dunia modern di Jepang. Sungguh, ancaman ini adalah teror psikologis yang mengkhawatirkan.

Situasi pertentangan antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru yang terjadi di Jepang dan dunia secara keseluruhan inilah yang telah memberi kekuatan makna tersendiri bagi novel ‘Ring’. Novel ini menarik bukan hanya karena ceritanya yang menegangkan, menakutkan, dan mencekam. Novel yang bersetting di Tokyo ini sangat kompleks, memuat tema-tema seperti misanthropy, hermaphrodisme, gender, kasih sayang, penyakit, media, moralitas, juga nilai-nilai utilitarianisme. Sebuah perpaduan genius yang memikat.

Kisah menarik ini diawali ketika suatu malam di Tokyo, empat remaja tewas dengan tidak wajar di tempat terpisah. Kazuyuki Asakawa, seorang jurnalis surat kabar di Tokyo, adalah orang pertama yang menyadari dan mengetahui peristiwa tersebut dan kemudian tertantang untuk mengungkap misteri di balik kematian yang tidak wajar dan sulit dipahami tersebut.

Ya, semua bermula dari kisah supir taksi mengenai tewasnya Shuichi Iwata yang kemudian mengingatkan Asakawa kepada keponakan istrinya, Tomoko Oishi, yang juga tewas pada malam yang sama dan dengan penyebab yang sama: serangan jantung mendadak. Keyakinan Asakawa pun menguat setelah ia mendapatkan berita dua orang remaja lainnya yang juga tewas pada malam yang sama. Bahwa peristiwa tersebut tidak sekedar kebetulan, melainkan ada misteri yang terselubung. Oleh virus atau apapun.

Penulis novel ini, Koji Suzuki, sengaja membangun karakter cerita dengan sederhana, kuat dan cepat. Setelah melakukan penelusuran, Asakawa pergi ke sebuah resort di Hakone. Sebuah tempat dimana empat remaja tersebut menginap bersama seminggu sebelumnya dan menonton sebuah video yang mengandung kutukan kematian bagi penontonnya, termasuk Asakawa. “Siapapun yang menonton gambar-gambar ini ditakdirkan untuk mati pada jam yang sama satu minggu dari sekarang”.

Kutukan itu sebenarnya memiliki penangkal. Celakanya, bagian yang mengatakan tentang penangkal itu, justru rusak terhapus. Maka, Asakawa harus berlomba dengan waktu memecahkan misteri penangkal atau ia sendiri harus mati seperti keempat remaja sebelumnya. Satu-satunya orang yang dapat membantu, yang ada dalam pikiran Asakawa adalah Ryuji Takayama, teman sekolahnya dulu yang juga seorang profesor filsafat.

Kisah ini mengalir begitu dingin dan mencekam. Penulis novel ini menghadirkan plot yang menakutkan dan mengejutkan, yang kesemuanya dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari. Cerita pun bergerak secara mengejutkan. Istri dan anak Asakawa ternyata juga telah menonton video tersebut. Asakawa menjadi takut dan berusaha lebih keras. Akhirnya, sedikit demi sedikit terkuaklah tabir gelap yang melingkupi kutukan itu. Si pembuat kutukan adalah Sadako, seorang gadis jelita yang meninggal dua puluh lima tahun lalu. Ia merekam video maut tersebut melalui lensa matanya dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, mencoba menyampaikan pesan kepada dunia luar (penonton) perihal kematiannya. Petualangan pun dimulai.

Yang membuat novel ini istimewa adalah kompleksitas makna yang dikandungnya. Misal, perubahan jenis kelamin tokoh protagonist Kazuyuki Asakawa yang laki-laki dalam novel menjadi tokoh protagonist berjenis kelamin perempuan dalam filmnya, baik yang di Jepang, (Ringu, 1998), maupun yang di Hollywood (Ring, 2002). Pertimbangan utama memilih tokoh perempuan adalah bahwa tradisi merawat anak perempuan di Jepang bersifat maternalistik atau tugas seorang ibu. Sebenarnya, pemilihan Suzuki dengan karakter laki-laki dalam novel ini adalah ingin memberi wacana baru atas tugas seorang ayah bagi masyarakat Jepang. Tema hermaphrodisme muncul dalam tokoh Sadako. Dan sepanjang novel, persoalan-persoalan moralitas, utilitarianisme bertaburan memperkuat karakter penceritaan novel ini.

Semakin menyentuh dan menarik. Novel ini juga menyajikan tema drama yang tampak kuat meski hanya muncul beberapa saat. Tepatnya, cinta seorang ayah terhadap istri dan anaknya. Sebagaimana diakui oleh Koji Suzuki, dasar tema novel ini sebenarnya tentang cinta Suzuki kepada anaknya. Disamping itu, tampaknya pengarang tidak ingin memberi celah bagi pembaca untuk mengernyitkan dahi. Dengan sangat detail dan apik, Koji Suzuki secara brillian telah menciptakan ketegangan yang mampu membuat betah pembacanya dari halaman ke halaman buku ini. Sebuah kisah horror yang tanpa melibatkan darah.

Bangunan kombinasi antara dimensi mistis dan ilmu pengetahuan modern yang tertuang dalam novel ini sungguh mengagumkan. Psikologi paranormal, studi atas dunia supernatural dan okultisme, seringkali dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun dalam buku ini, psikologi paranormal justru menjadi salah satu kunci untuk menyingkap struktur alam semesta. Hal inilah yang tampak bagi sebagian kalangan disebut sebagai pseudo-science.

Bungkusan lokal atas nilai-nilai universal dalam novel ini menjadikannya sebagai sebuah buku lintas dunia, meski sedikit terbatas ruang lingkupnya. Bagi penyuka kisah-kisah horror dan thriller psikologi, karya-karya Koji Suzuki sangat layak disimak. Bagi pecinta cerita detektif, buku ini sangatlah tidak mengecewakan.
Novel yang dalam versi Jepangnya telah terjual lebih dari tiga juta kopi ini pada akhirnya menjadi sebuah pesan kematian bagi dunia. Sebuah pesan yang akan menggugah kesadaran manusia terhadap diri dan peradabannya. Teror yang mengemuka dalam kisah novel ini hanya bagian dari “sebuah ujian bagi spesies manusia. Di setiap abad, Setan akan muncul kembali dengan samaran yang berbeda. Kau bisa membasminya, dan terus membasminya, tapi dia akan terus datang lagi, lagi, dan lagi”(hlm.433).

Peradaban manusia boleh maju setinggi langit. Namun, anak peradaban itu sendirilah yang akan melahirkan pembunuhnya. Ancaman akan hilangnya perdamaian, kenyamanan, dan ketenteraman manusia bisa menjadi semacam teror kematian untuk dunia. Selamatkanlah diri, keluarga, dan peradabanmu!. Inilah pesan utama buku ini.[]

Share
Continue Reading

KISAH NESTAPA PENJUAL DONGENG


Judul Buku :
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Rahartati Bambang
Tebal : 394 hlm.
Cet. : I, Februari 2006
Penerbit : Mizan, Bandung


Gaarder selalu memiliki ketangkasan khusus dalam memasuki pikiran dan dunia anak-anak. Seluruh anak yang lahir dalam karyanya selalu memiliki keunikan, kecerdasan, dan cenderung eksentrik. Setiap keunikan dalam diri anak-anak khayal Gaarder selalu mencerminkan kebebasan dan kemerdekaan sikap dan pikir. Cerita yang disajikan Gaarder pun selalu mudah diikuti, imajinatif, sekaligus menakjubakan.
Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini merupakan kisah yang kompleks, mengisahkan perjalanan seorang anak dengan bakat imajinasi yang luar biasa menuju kehidupannya yang lebih tua dan dewasa. Novel yang berjudul asli The Ringmaster’s Daughter ini mengukuhkan sekali lagi status Gaarder sebagai salah satu penulis Skandinavia paling menonjol, sekaligus sebagai seorang novelis dan pendongeng yang andal.
Mengisahkan cerita anak-anak dengan segala hobi dan kebiasaannya, masa keremajaan yang harus disiapkan, serta menyiapkan masa tua yang matang adalah bagian dari upaya regenerasi yang berkualitas. Kecerdasan yang lebih, keunikan anak-anak, dan segala macam nilai kejujuran di usia dini adalah sederetan tema yang begitu lihai dipersembahkan oleh Gaarder dalam setiap karya-karyanya. Pembaca setia Gaarder tentu tak bisa melupakan kisah gadis misterius dalam Sophies World (Dunia Sophie), juga kisah menarik lainnya dalam Solitaire Mystery, Christmas Mystery, Maya, Through A Glass Darkly, dan Vita Brevis. Nyatalah, Gaarder telah membuktikannya dengan brillian sebagai pencerita dengan kualitas prima.
Petter “Si Laba-Laba”, tokoh utama dalam novel Putri Sirkus ini adalah sosok yang misterius, unik, dan penuh imajinasi. Dialah sosok yang paling membuat penasaran dalam karya Gaarder setelah Sophie Amundsend dalam Dunia Sophie. Sebagaimana anak kecil lainnya, keingintahuan Petter terhadap segala sesuatu begitu besar. Namun, Petter memiliki imajinasi yang begitu bebas, liar, dan kuat. Ia pun sulit menemukan kawan dan lebih suka menyendiri di dalam dunia yang diciptakannya sendiri. Tontonan acara televisi, film-film yang dia tonton bersama ibunya di bioskop telah menciptakan alam yang seolah-olah nyata dalam dunia khayalnya. Akhirnya, ia pun tumbuh tampak menjadi seorang anak yang dewasa sebelum waktunya.
Aktivitas sehari-hari yang dijalaninya bersama sang ibu, telah menginspirasi Petter terhadap dunia perempuan. Ketika sang ibu meninggal, Petter benar-benar masuk dalam kesendirian yang sesungguhnya. Kebebasan berimajinasi Petter pun menemui aral. Imajinasinya bukan terhambat ataupun mandek, melainkan butuh media komunikasi psikis dan fisik untuk menajamkan pisau khayalnya. Dari sinilah, novel ini tampak bukan novel yang sepenuhnya cocok untuk anak-anak. Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini lebih merupakan sebuah pesta pora imaji dan cerita. Sebuah dongeng fantasi untuk orang dewasa.
Mengajak wanita untuk sekedar ngobrol, nonton, bahkan menginap di apartemen telah menjadi kebiasaan sehari-hari Petter sepeninggal ibunya. Dengan gaya hidup seperti itu, Petter membutuhkan penghasilan lebih. Kemampuan imajinasinya yang mengagumkan telah memproduksi secara massal cerita-cerita dalam dunia khayalnya. Akhirnya, Petter menciptakan Writer’s Aid, sebuah program yang didesain untuk menyediakan cerita-cerita bagi pengarang-pengarang besar internasional yang mengalami kebuntuan ide.
Petter memiliki kemampuan bercerita yang sangat prima. Namun dia tidak ingin menjadi penulis. Ketenaran adalah salah satu hal yang dibencinya. Memberi penulis sebuah kompas alur cerita adalah hal yang sangat disukainya. Karena di masa kecil hingga dewasa, Petter begitu terobsesi dengan cerita, dongeng, dan film. Tentu saja, disamping tujuannya untuk mendapatkan penghasilan lebih.
Gaya bertutur Gaarder selalu penuh makna nan ringan diikuti. Beberapa dongengnya begitu mengesankan, bertaburan kata-kata indah, penuh makna sosial, filosofis, kekeluargaan, dan begitu menyentuh. Inilah yang mengingatkan kita akan pentingnya mengkomunikasikan ide dan nilai-nilai moral melalui cerita.
Kehidupan Petter menjadi lebih baik. Salah satu kisah yang paling membuatnya terobsesi sepanjang hidupnya adalah cerita Panina Manina, kisah seorang putri sirkus yang terpisah dengan ayahnya sejak kecil. Setelah menjadi bintang gadis pemain trapeze yang terkenal, Panina Manina harus bertemu dengan ayahnya dalam kondisi patah leher dalam pertunjukan sirkus. Sungguh, sebuah kisah yang mengharukan.
Kisah Panina Manina yang begitu dikaguminya selama ini, ternyata telah mempengaruhi hidup Petter melebihi yang dia bayangkan. Sungguh sebuah alur yang menakjubkan dan tak terduga dari novel ini.
Julukan Petter “si laba-laba” pun telah benar-benar membentuk sistem laba-laba dalam kehidupan Petter. “Sungguh Menakjubkan menjadi seekor laba-laba. Sepanjang hari ia merajut dengan segulung benang yang ada dalam dirinya”(hlm.231). Program Writer’s Aid yang pada mulanya sukses, kini semakin tampak boroknya. Petter mulai terperangkap dalam jejaring yang dibuatnya sendiri. Perselingkuhan penulis berskala internasional pun terbongkar.
Dengan plot yang begitu ragam, kuat, dan ringan, Gaarder—mantan seorang guru filsafat—benar-benar piawai dalam bertutur. Nilai-nilai sosial dan budaya diolahnya dengan sangat ringan. Akhirnya, novel ini menjadi hadiah persembahan tidak hanya bagi penggemar Gaarder, namun juga penggemar dunia fantasi dan dongeng-dongeng klasik.
Dari sebuah novel kecil ini, kita akan merasa mendapatkan sebuah pelajaran yang begitu besar tentang nilai-nilai kebersamaan, kemerdekaan diri, dan pentingnya nilai-nilai keluarga. Bagi penggemar novel-novel filsafat, novel ini tidaklah mengecewakan. Bagi yang tidak menyukai filsafat, novel ini begitu berharga dan amat sayang untuk dilewatkan.[]

Share
Continue Reading

MOZART; SI JENIUS YANG PENURUT


Judul buku : MOZART; Simfoni Hidup Sang Maestro
Penulis : Peter Gay
Penerjemah : Agung Prihantoro
Tebal : 233 hlm.
Cet. : I, April 2005
Penerbit : Bentang, Yogyakarta

Ada satu saat dalam sejarah musik di mana semua pihak yang berlawanan pandangan sepakat, dan saat itu ada pada Mozart. Seorang komposer yang tidak perlu merevisi satu nada pun dalam karyanya.
Mozart adalah seorang musisi dan komponis besar, yang namanya menurut Robert Schumann, merupakan salah satu dari tiga jenius musik bersama Ludwig van Beethoven dan Johann Sebastian Bach. Dia juga dianggap setingkat dengan prestasi Raphael dan Shakespeare dalam bidangnya. Sebagian orang menyebutnya sebagai salah satu jenius terbesar dalam peradaban Barat. Dia telah menghasilkan lebih dari 600 karya selama hidupnya yang hanya berumur 35 tahun.
Namun, Mozart yang jenius ternyata juga memiliki sisi lain kehidupan yang menarik, terutama hubungannya dengan ayahnya. Mozart adalah seorang anak penurut yang taat kepada ayah dan keluarganya.
Orang biasa menyebut dan mengenalnya Mozart. Padahal nama lengkapnya agak panjang, Wolfgang Amadeus Mozart. Dan, setelah dibaptis namanya menjadi lebih panjang lagi: Joannes Christostomos Wolfgang Gottlieb Mozart. Ayahnya, Leopold Mozart, adalah seorang musisi profesional yang berpendidikan tinggi. Lahir dari keluarga musisi pada 27 Januari 1756 di Salzburg, Austria, Mozart menjadi sosok fenomenal dan mungkin sebelumnya tidak ada orang seperti dia. Pada usia tiga tahun ia telah mulai belajar musik dan memahami pelajaran secepat pelajaran tersebut diberikan kepadanya. Pada usia lima tahun ia telah mencipta beberapa karya dan kord-kord yang menyenangkan. Saat berumur enam tahun, ia telah menulis sejumlah karya cantik untuk harpsikord dan berupaya menciptakan sebuah konserto.
Mozart kecil, Si Anak Ajaib yang dikenal sebagai pencipta Eine Kleine Nachtmusik, juga simfoni, konserto, opera, dan sonata, memang tak ubahnya sebuah bintang nan amat cemerlang di angkasa musik. Bukan saja musik-musik gubahannya mempesona, tetapi juga karena ia melambangkan kejeniusan yang fenomenal. Julukan “sang maestro Mozart” diberikan kepadanya pada usia belum genap delapan tahun. Di sisi lain, kehidupan keluarganya yang penuh gejolak juga patut disimak. Ayah Mozart, Leopold Mozart, adalah figur yang dominan. Dan Mozart, di luar bakat briliannya sebagai komposer, terus menjadi “anak kecil” di bawah bayang-bayang ayahnya.
Kisah hubungan antara Mozart dan ayah (keluarganya) ini, menjadi sorotan utama buku ini. Hidup sebagai borjuis lokal membuat ayah Mozart sangat berambisi menjadikan anak-anaknya untuk bekerja keras demi kehidupan dan martabatnya kelak. Karenanya, keluarga Mozart memegang teguh nilai-nilai borjuis lokal; kerja keras, jujur, setia pada pasangan, dan cepat melunasi tagihan.
Wolfgang Mozart adalah anak yang baik dan penurut, tetapi apakah Leopold Mozart adalah ayah yang baik?. Pengaruh ayahnya tampak sangat jelas dan bertahan sangat lama sehingga tak seorang pun penulis biografi Mozart dapat melewatkan hubungan ayah-anak yang penting ini. Leopold Mozart adalah guru, kolaborator, penasehat, perawat, sekretaris, impresario, agen pers, dan pemandu sorak bagi Mozart. Sejak sangat belia, ia tahu siapa paling berjasa bagi dirinya: “sesudah Tuhan”, katanya, “papa-lah yang paling banyak berjasa.” Meski terkadang dengan kesabaran dan kerendahan hati yang menyentuh, ia menangkis tuduhan kasar ayahnya yang hampir selalu tanpa dasar menduga Mozart melakukan kesalahan atau kekeliruan tertentu. “Aku hanya memiliki satu permintaan,” tulisnya dengan nada sedih pada akhir tahun 1777, ketika usianya mendekati dua puluh dua, “yaitu janganlah terlalu berprasangka buruk tentang diriku.”
Sikap ayahnya yang demikian merupakan tuntutan sekaligus kekhawatiran sang ayah terhadap kehidupan keluarganya. Hidup dari keluarga sederhana, tumpuan hidup dan ekonomi keluarga Mozart diperoleh dari kegiatannya bermusik. Singkatnya, ada beragam motivasi yang membentuk hubungan Leopold Mozart dengan sang anak dan ini tentu sangat manusiawi. Langkah-langkah Leopold Mozart ini diantaranya didorong oleh kekhawatirannya yang irasional tentang masalah keuangan keluarga.
Mozart merupakan komponis pertama dalam sejarah yang berusaha hidup dari pekerjaannya sebagai seniman yang berdiri sendiri. Ini terjadi, terutama setelah hubungannya dengan uskup agung Hieronymus, pangeran Colloredo, retak pada tahun 1781, dan sampai akhir hayatnya, Mozart hidup dalam kemiskinan.
“Keliru kalau orang mengira bahwa seni datang dengan gampang pada saya. Tidak seorang pun yang mencurahkan begitu banyak waktu dan pikiran bagi komposisi seperti saya. Tidak ada seorang empu (musik) masyhur yang musiknya tidak saya kaji berulang-ulang.”
Penjelasan Mozart di atas mungkin ia pandang perlu karena pencinta musik gubahannya banyak yang mempercayai bahwa musik adalah urusan gampang bagi jenius kelahiran Salzburg tahun 1756 ini. Wajar saja dugaan itu muncul. Sebab, bagi Mozart, musik itu seperti begitu saja lahir dan mengalir indah, dengan style yang bisa dikatakan sempurna. Yang mendengar musik Mozart pun lebih kurang akan berpandangan sama.
Kemasyhuran Mozart di bidang musik menyebabkan nama dan komposisinya–selain Johann Sebastian Bach–menjadi paling sering dijadikan tema festival di seluruh dunia hingga kini. Sebagian dari festival-festival tersebut sudah berumur bertahun-tahun dan termasuk festival yang bergengsi di dunia, seperti halnya “Mostly Mozart Festival” di New York yang sudah berumur 37 tahun dan selalu dihadiri artis-artis besar dunia.
Komponis besar ini hanyalah satu dari sekian banyak komponis kondang dari Austria. Sebut saja Ludwig van Beethoven, Anton Bruckner, Franz Joseph Hayden, Franz Schubert, Johann Srausses, Franz von Suppe, Franz Lehar, Gustav Mahler, Richard Strauss, Alban Berg, Anton Webern, dan Arnold Schoenberg. Austria juga menghasilkan dirigen kondang, misalnya, Felix Weingartner, Clemens Krauss, dan Herbert von Karajan. Itulah sebabnya Austria disebut sebagai “Bumi Musik”. Di Vienna, Austria, ada dua gedung opera yang begitu kondang, Volksoper (Opera Rakyat) yang dibuka tahun 1904, dan Vienna State Opera yang dibuat pada tahun 1869.
Puluhan atau bahkan ratusan buku telah dibuat tentang Mozart. Sejarah hidupnya telah banyak ditulis oleh banyak penulis biografi. Masa hidupnya yang pendek, tetapi menarik menjadi sumber cerita yang dirangkai secara imajinatif oleh Franz Xaver Niemetschek, seorang pemuja Mozart dari Praha, dalam Leben des K.K.Kapellmeisterswolfgang Gottlieb Mozart nach Originalquellen Beschrieben (1798), yang juga dianggap sebagai penulis biografi Mozart pertama. Sebuah biografi utuh terbaru karya Maynard Solomon, Mozart: A Life (1995),merupakan buku yang sangat mengesankan karena penulisnya memakai perspektif psikoanalitis dalam mengeksplorasi penguasaan musik Mozart. Sebuah buku lebih dari 600 halaman ini, mampu menyuguhkan informasi tentang karir musik Mozart dan menelisik kehidupan batinnya yang ditulis secara mendetail. Dan masih banyak buku-buku yang lain.
Sementara itu, buku yang ditulis oleh Peter Gay ini terfokus pada konflik endemik ayah-anak, dan banyak mengutip buku hasil tesis Solomon. Inilah sisi lain kehidupan Mozart. Di satu sisi, dia harus menerima perlakuan ayahnya yang dominan terhadap dirinya, di sisi lain dia harus tetap mencipta dan menggubah karya musik yang bagus.
Bahkan, kisah hidup Mozart juga diangkat dalam pita seluloid pada tahun 1984. Sebuah film yang diangkat dari cerita hidup Mozart berjudul Amadeus garapan sutradara Milos Forman telah memenangkan delapan Academy Award. Sebuah penghargaan yang luar biasa.
Dalam sakit parah di masa-masa akhir hidupnya, sebuah Requiem agung diciptanya, yang ternyata menjadi pengantar kematiannya sendiri pada tahun 1791. Mozart segera dilupakan orang. Tanda kuburnya pun tak pernah diketahui pasti hingga sekarang. Seniman besar sepanjang abad ini mewarisi dunia dengan karya musik dalam jumlah dan nilai keindahan yang luar biasa besar dan tinggi. Musiknya penuh kewajaran. Ekspresi dan keagungan dituangkannya dalam keseimbangan isi dan bentuk yang klasik sempurna.
Kini, berbagai penghargaan dan festival-festival musik di seluruh dunia yang menggunakan namanya semakin banyak. Penghormatan dan penghargaan semakin meluas. Selanjutnya, kita layak menyimak sebuah kaidah mazhab Mozartian: semakin orang menganggap serius musik Mozart, semakin serius dia diperhitungkan.[]

Share
Continue Reading