BEBAN BERAT PEREMPUAN SUCI


Pernah dimuat di harian Media Indonesia, 8 Oktober 2006

Judul : Perempuan Suci
Penulis : Qaisra Shahraz
Alih Bahasa : Anton Kurnia dan Atta Verin
Tebal : 517 hlm
Cet. : I, Agustus 2006
Penerbit : Mizan, Bandung

Hampir setiap penulis novel yang keluar dari tanah kelahirannya dan menetap di negara lain, selalu mengangkat tema-tema lintas-budaya dalam setiap karya mereka. Konflik dua nilai dan tradisi yang berbeda selalu memikat di tangan para penulis imigran. Tidak hanya benturan nilai yang terasa menarik, namun narasi yang unik dan detail yang tajam selalu mampu menawarkan pesona yang berbeda. Gaya penulisan ini pulalah yang terdapat dalam diri Qaisra Shahraz, perempuan penulis Inggris kelahiran Pakistan.

Qaisra Shahraz, penulis novel ini, memiliki bakat yang istimewa. Dia tidak hanya sukses di bidang menulis, ia juga sukses di bidang pendidikan. Ketika menjadi jurnalis freelance, ia menulis feature dan artikel untuk beberapa koran dan majalah nasional maupun internasional. Ia juga menulis cerita-cerita pendek, skenario untuk televisi dan radio, juga dengan sangat piawai menulis novel. Maka, tak heran atas berbagai prestasinya itulah, ia masuk dalam daftar The Asian Women of Achievement Awards pada tahun 2002 dan masuk dalam daftar the Muslim News Awards for Excellence tahun 2003.

Novel “Perempuan Suci” ini adalah debut pertama Shahraz dalam menulis novel. Sebuah novel lintas budaya yang bersetting di Pakistan, Kairo, London, Arab Saudi, dan Malaysia. Novel ini merupakan sebuah kisah yang menggambarkan secara khusus salah satu kehidupan masyarakat desa di Pakistan. Tidak banyak novel karya penulis Pakistan yang bersetting kehidupan desa. Beberapa diantara mereka adalah Bapsi Sidhwa dengan novel The Bride (1983), Tehmina Durrani dengan Blasphemy (1998).

Dengan menggunakan tokoh protagonis wanita, Shahraz ingin menunjukkan bahwa wanita di Pakistan memiliki kekuatan, kemandirian dan independensi yang luar biasa. Namun, di balik itu semua mereka sangat lemah dan tidak memiliki kekuasaan untuk mengontrol nasib hidupnya dalam masyarakat. Karena itu, mereka memiliki rahasia dan kisah hidup pribadi yang tidak pernah diketahui masyarakat lain. Kondisi seperti inilah yang tercermin dalam diri Zarri Bano, tokoh utama novel ini.

Bersetting di Sindu, Pakistan, Zarri Bano adalah wanita yang sangat beruntung; cantik, tumbuh dalam keluarga muslim yang kaya, hidup dengan kemewahan, dan berpendidikan tinggi. Di umurnya yang ke 27 tahun, Zarri Bano belum juga menikah. Berbagai pinangan laki-laki dari berbagai penjuru daerah di Pakistan, tidak ada yang menarik hatinya. Suatu ketika, lelaki dari Karachi, Sikander Din, telah membuat hatinya terpikat dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta pun bersemi. Pesta pertunangan pun diadakan dengan resmi.

Dengan penciptaan karakter tokoh yang kuat, alur cerita pun bergerak cepat. Sehingga kita akan merasakan dan menikmati novel ini halaman demi halaman dengan sangat ringan. Konflik pun bermula ketika Jafar, adik kandung Zarri Bano, meninggal mendadak dalam sebuah kecelakaan. Berdasarkan tradisi nenek moyang yang berlaku, ketika satu-satunya ahli waris laki-laki meninggal dunia, maka ahli waris diturunkan kepada anak perempuan pertama. Perempuan itu disyaratkan tidak akan pernah meninggalkan rumah ayahnya. Akibatnya, dia tidak bisa menikah dan harus menjadi Perempuan Suci.

Zarri Bano pun harus menerima takdirnya sebagai seorang Perempuan Suci, seorang Shahzadi Ibadat. Yakni, perempuan yang harus menikah dengan al-Qur’an, keimanan dan agamanya. Sosok perempuan yang disimbolkan sebagai ulama Islam, seorang guru moral dan keagamaan bagi ratusan perempuan muda di kota dan daerah, seorang perempuan yang menjadi simbol kesucian dan ibadah dalam bentuk yang paling murni.

Konflik cerita berkembang mencapai puncak. Identitas diri Zarri Bano pun terkoyak. Sebagai perempuan yang memiliki gelar master, ia sangat mendukung gerakan feminis. Ia pernah menolak segala macam bentuk tirani, baik oleh laki-laki ataupun oleh masyarakat tertentu. Maka, novel ini berkembang dengan isu yang sangat beragam; feminisme, agama, pertentangan tradisi dan modernitas, serta pencarian identitas sebagai diri dan masyarakat. Kini, ketika sang ayah menghendakinya menjadi perempuan suci, Zarri Bano bagaikan boneka lilin yang bisa dirubah-rubah bentuknya sesuai keinginan sang ayah.

Sebagai Perempuan Suci, tentu saja Zarri Bano tidak bisa dan tidak akan menikah dengan lelaki yang dicintainya. Semua terjadi hanya karena kecemburuan seorang Habib Khan, ayah Zarri Bano, terhadap lelaki yang mencintai anak perempuannya. Dengan keinginan menyelamatkan tanah dan hartanya, sang ayah mengorbankan anak perempuannya untuk melakukan selibat. Sebuah tradisi yang dalam ajaran Islam sendiri tidak pernah ada. Akibatnya, keutuhan keluarga harus menjadi taruhannya. Karena Shahzada, ibu Zarri Bano, tidak menyetujui apabila anak perempuan tercintanya tidak bisa menjadi wanita normal yang menikah dan memberikan cucu kepadanya.

Gaya bertutur novel ini terasa memesona dan sangat apik. Kemampuan penulisnya sebagai pencerita sudah tidak diragukan lagi. Cerita pendeknya yang pertama, A Pair of Jeans dan The Elopement, telah diterbitkan beberapa kali di berbagai negara. Bahkan di Jerman, cerpen tersebut telah menjadi literatur pokok di sekolah dan perguruan tinggi. Sederet penghargaan telah diterimanya di bidang penulisan. Cerpennya yang berjudul New Horizons, New Spheres mendapatkan penghargaan bergengsi Commonword Prize tahun 1988. Cerpennya Perchavah mendapatkan penghargaan Ian St James Award tahun 1994. Bahkan, drama serial TV karyanya, Dil Hee To Hai, sangat populer dan memenangkan dua penghargaan bergengsi. Kemampuan inilah yang ia curahkan untuk menulis novel yang berjudul asli The Holy Women ini. Novel ini memenangkan Jubilee Award pada tahun 2002.

Membaca novel ini serasa menyaksikan langsung dan berada di Pakistan. Aroma lokal sepanjang halaman buku ini sangat terasa dengan dipertahankannya istilah-istilah lokal dalam bahasa Urdu. Keistimewaan novel ini memuncak pada titik balik cerita. Yakni ketika lelaki yang dicintai Zarri Bano, Sikander, harus menikah dengan adik kandungnya sendiri, Ruby.

Keistimewaan novel ini terletak pada narasi yang unik, plot yang memukau, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan kemasan cerita cinta, kisah pertautan agama dan tradisi, benturan nilai-nilai lama dan nilai baru yang saling bertautan, pertentangan modernitas dan tradisionalitas yang saling bertemu, semua dibungkus dengan sangat indah, sederhana, logis, apik, yang membuat novel ini menjadi begitu memikat dan mengalir, layaknya kita menonton film “Jumanji”.

Menjadi perempuan suci, baik secara tradisi maupun agama, tidaklah mudah. Ia harus menguasai ilmu-ilmu agama dengan sangat baik. Ia dituntut untuk mengunjungi beberapa daerah dan negara untuk menyampaikan pesan-pesan Allah yang tertuang dalam al-Qur’an. Namun, sekali lagi, kesempatan untuk menyempurnakan hidup dengan meraih kebahagiaan dalam menikah menjadi hal yang sia-sia. Inilah permainan spektrum emosi yang saling bertabrakan antara agama dan dosa. Sebuah perpaduan unik dan mempesona dari seorang Qaisra Shahraz.

Novel Perempuan Suci, pada akhirnya, tidak hanya berpesan pada masyarakat tertentu. Meski dalam kemasan lokal, nilai-nilai yang tersirat di dalamnya begitu luas dan universal. Tradisi lokal yang ditampilkan dalam novel ini hanyalah sebuah potret bagaimana sebuah tradisi bertahan dalam pusaran zaman yang serba modern. Ia mengajarkan kita untuk saling mengenal tradisi, agama, dan budaya yang berbeda. Ia mengajarkan kedewasaan bersikap, menemukan identitas diri, dan ketulusan untuk memaafkan.[]

Share
Continue Reading

MENGUAK EKSOTISME KEJAHATAN LINTAS BUDAYA


Pernah dimuat di harian Jawa Pos, 11 September 2006

Judul buku : Liu Hulan, Jaring-jaring Bunga
Penulis : Lisa See
Penerjemah : Utti Setiawati
Tebal : 639+xvi hlm.
Cet. : I, februari 2006
Penerbit : Qanita, Bandung

Di tangan Lisa See, Cina benar-benar menjadi negara yang luar biasa, eksotis, menakutkan, sekaligus dihormati. Bahkan, untuk cerita thriller dengan plot yang padat, Cina menjadi setting yang sempurna. Lisa See dalam novelnya yang berjudul Liu Hulan, Jaring-jaring Bunga ini telah melakukannya untuk Beijing dengan sangat memikat sebagaimana yang telah dilakukan Sir Arthur Conan Doyle untuk London atau Dashiell Hammett untuk San Francisco pada tahun 1920-an.
Novel yang berjudul asli Flower Net ini sering disebut sebagai Gorky Park zaman ini. Gorky Park merupakan novel thriller internasional karya Martin Cruz Smith yang sangat populer di tahun 1980-an. Novel Liu Hulan yang bersetting di Cina dan Amerika ini pernah meraih nominasi Edgard Award untuk cerita misteri terbaik. Sebuah novel yang menyajikan misteri konspirasi internasional yang berlapis-lapis dan memikat. Sebuah novel yang mampu melihat dengan tajam kecurigaan-kecurigaan dari kota terlarang di balik kesannya yang eksotis di permukaan.
Dunia modern mengenal Cina sebagai Miracle Asia. Kini Cina telah menggeser Amerika sebagai konsumen terbesar dunia untuk berbagai produk. Dalam bidang teknologi, negara itu juga telah menjelma menjadi produsen terbesar di dunia untuk barang-barang elektronik. Tak ada negara yang memainkan permainan ekonomi dunia lebih baik daripada Cina. Namun di balik pertumbuhannya yang cepat itu, Cina juga telah menjadi area bisnis terlarang dan tersembunyi berskala internasional.
Potret kehidupan masyarakat Cina dengan sejarahnya yang besar, dengan perekonomiannya yang begitu cepat inilah yang tergambar sangat apik, mempesona, dan menjadi setting kekuatan cerita dalam novel ini. Sebuah novel yang menjadi sumbangan berharga bagi detail dan kompleksitas dua budaya yang berbeda. Sebuah intrik politik, sosial, ekonomi, sekaligus sebuah pertaruhan akan keberlanjutan tradisi lokal, semuanya terlukis dengan sangat memikat dalam karya Lisa See, seorang novelis perempuan berdarah Cina.
Kisah menegangkan ini bermula dengan terbunuhnya putera seorang duta besar Amerika Bill Watson di sebuah danau beku di taman Bei Hai di dekat Kota Terlarang—Beijing. Pada saat yang hampir bersamaan, di Los Angeles, David Stark dari Kantor Jaksa Penuntut AS, sedang disibukkan oleh temuan mayat Guang Heng Lai—seorang Pangeran Merah anggota komunitas elit politik Cina—di sebuah kapal China Peony yang mengangkut sejumlah imigran gelap Cina yang terapung-apung karena badai di perairan California.
Pemerintah Cina dan Amerika mencurigai adanya keterkaitan dalam kematian tersebut. Mereka pun sepakat untuk menjalin kerjasama dalam memecahkan misteri di balik kejahatan lintas budaya tersebut. Asisten Jaksa Penuntut Umum AS, David Stark bertolak ke Cina menemui Detektif Liu Hulan. Investigasi pun dilakukan. David dan Hulan pun terseret dalam penyelidikan yang mulanya seperti tak berhubungan menjadi kasus yang kait mengkait dan menyeret mereka dalam konspirasi dan jalinan rumit Rising Phoenix, sebuah triad yang saat itu tak tersentuh dan berkuasa baik di Cina maupun Amerika Serikat.
Proses investigasi membawa David dan Hulan ke sudut-sudut wilayah Beijing. Cerita ketegangan ini pun berkembang semakin menarik dengan bumbu-bumbu drama. Yakni sebuah fakta bahwa antara David dan Hulan sebenarnya pernah bertemu dan menjalin asmara ketika Hulan menempuh pendidikannya di AS. Cinta yang telah terkubur sekian lama seakan terungkit kembali ketika secara tidak terduga mereka harus bertugas untuk mengungkap kasus ini secara bersama-sama.
Dengan plot yang sangat padat dan beragam, Lisa See mengembangkan alur cerita dengan brilliant yang mampu membuat pembacanya betah berjam-jam untuk segera menghabiskan novel ini. Perpaduan antara romantisme, ketegangan, penyelundupan, rahasia-rahasia keluarga dan pemerintah, dan cerita detektif menjadikan novel ini masuk dalam daftar bestseller nasional dan sebagai New York Times Notable Book tahun 1997 dan Los Angeles Best Books List tahun 1997.
Karena peristiwa yang terkait dengan pembunuhan tersebut semakin berliku-berliku, maka detektif Liu Hulan menerapkan metode Jaring-jaring Bunga, sebuah metode yang digunakan berabad-abad lalu di Cina. Jaring Bunga adalah jaring bulat hasil pintalan tangan yang dipasangi beban di ujung-ujungnya. Ketika jaring ini dilempar, jaring ini akan berkembang seperti bunga, mendarat di permukaan air, tenggelam ke kedalaman yang gelap dan menangkap semua yang berada dalam lingkupannya.
Mampukah David dan Hulan dengan metode Jaring-jaring Bunga mengungkap misteri di balik pembunuhan tersebut? siapa dan apa yang menyebabkan kematiannya?
Latar belakang sejarah Cina, di antaranya disinggung soal Revolusi Kebudayaan di bawah pimpinan Mao Zedong, serta perang dingin Cina-Amerika, serta kompleksitas tema seperti; nilai-nilai keluarga, kedokteran, kejahatan, perekonomian, pemerintahan, pendidikan, percintaan, nilai-nilai patriarchal, hubungan bilateral Cina-Amerika, semuanya telah menjadikan novel ini istimewa nan sexy. Meski novel ini adalah debut pertama Lisa See, namun dia telah menunjukkan dirinya sebagai pencerita dengan kemampuan dan talenta yang besar.
Nilai-nilai dan tradisi Cina dalam novel ini, serta gaya kehidupan masyarakatnya di zaman modern digambarkan dengan sangat detail, mengagumkan, dan mudah diikuti. Detail kisah tentang kehidupan keluarga dan masyarakat Cina-Amerika yang tergambar dalam novel ini adalah pengembangan fiksi dari buku memoar Lisa See yang berjudul On Gold Mountain: The One Hundred Year Odyssey of My Chinese-American Family, sebuah buku yang menelusuri jejak perjalanan nenek moyang Lisa, Fong See, yang berasal dari Cina. Sebuah buku yang menjadi bestseller nasional dan menjadi New York Times Notable Book tahun 1995.
Pada akhirnya, novel Liu Hulan, Jaring-jaring Bunga yang ditulis oleh mantan jurnalis untuk beberapa media terkenal seperti The New rok Times, Publisher’s Weekly, The Washington Post ini menjadi pengetahuan berharga bagi hubungan dua kebudayaan yang berbeda. Novel ini sangat cocok bagi pecinta kisah-kisah romantis, detektif, dan thriller yang menegangkan.[]

Share
Continue Reading

Belajar Menulis Kepada Stephen King


Judul : STEPHEN KING ON WRITING
Penulis : Stephen King
Pengantar : Remy Sylado
Penerjemah : Rahmani Astuti
Tebal : xl + 413 hlm.
Cet. : I, September 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

Tidak dapat disangkal, Stephen King adalah orang yang piawai dan selalu sukses membuat cerita dan meramu kata, dalam setiap karya-karyanya. Bahkan setelah seribu halaman, pembaca tetap tidak ingin meninggalkan dunia yang telah diciptakan oleh si pengarang untuk kita atau oleh tokoh-tokoh rekaan yang hidup disana. Dia selalu mampu menghipnotis pembacanya dan membuatnya betah. Tak heran, novelnya selalu ditunggu dan laris di pasaran.
Stephen King, si Raja Horor, sempat merasa ragu menulis buku ini. Menulis tentang menulis biasanya dilakukan bukan oleh para penulis novel populer seperti dirinya. Keyakinan itu datang lewat sahabatnya, Amy Tan, yang mengatakan bahwa buku ini boleh dan perlu ditulis oleh sang maestro seperti dirinya.
Hasilnya, buku yang berjudul asli On Writing: A Memoir of the Craft ini mendapat sambutan luar biasa, dan meraih penghargaan Bram Stoker Award pada tahun 2000 dalam kategori non-fiksi, penghargaan Horror Guild tahun 2001, dan Locus Award tahun 2001. Sebuah buku yang meneguhkan bahwa Stephen King tidak hanya jago menulis fiksi, tapi juga jago menulis non-fiksi.
Untuk membaca buku ini, anda tidak harus menjadi penggemar King. Seperti dalam setiap karyanya, King selalu menjadi penulis bersahabat. Buku Stephen King On Writing ini menyediakan sebuah klinik mini penulisan yang sangat nyaman, jujur, menghibur, dan inspiratif. Saat membaca buku ini, pembaca seperti sedang menghadapi sebuah novel gurih yang tanpa sadar—seperti saat kita menikmati novel-novel horornya—yang sudah menghanyutkan kita untuk tidak mengerjakan hal-hal lain selain melahapnya habis.
Buku ini dibuka dengan Curriculum Vitae (biografi) Stephen King. Dia mengisahkan kehidupan masa kecilnya dengan seorang ibu dan kakanya, ketergantungannya pada minuman keras dan heroin, pengaruh istrinya dalam hidup dan karier kepenulisan, kisah karyanya ditolak oleh beberapa penerbitan, dan semua kehidupan sebelum dia menjadi penulis terkenal.
Di bagian dua, inti buku ini, King berbagi ilmu dengan menjawab rasa penasaran banyak penggemarnya tentang bagaimana dia memiliki ketrampilan menulis, mendapatkan ide, meramu cerita dengan plot dan detail yang sangat logis, serta memilih diksi. King menunjukkan apa yang dapat kita pelajari tentang kosakata arcane dari H.P Lovecraft, kepadatan Hemingway, autentisitas Grisham, dan obscene artful dari Richard Dooling, fragemen sentence dari Jonathan Kelleremen.
Pelajaran menulis dari sang maestro ini, terasa sangat ringan baik bagi pemula, juga sangat berharga bagi para penulis senior. Sebuah buku pelajaran menulis tanpa merasa diajari, sehingga mampu menggerakkan kita dengan ringan dan penuh tekad. Seperti kata Remy Sylado dalam kata pengantar, “ia menulis dengan cerdas, dengan rasa, dengan ingatan yang tajam, dengan kebajikan, dengan kejujuran, serta tentu saja dengan bahasa yang plastis, sehingga orang yang membacanya telah masuk dengan senang hati ke dalam wilayahnya, terbuai, dan terpuaskan.”
“Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus dilakukan: banyak membaca dan banyak menulis. Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas”, begitulah kata Stephen King. Karena, engkau tidak akan dapat memesona orang lain dengan kekuatan tulisanmu sebelum ada orang lain yang melakukan hal serupa itu kepadamu. Diawali dengan ‘peralatan’ dan persiapan yang harus dimiliki sebelum menulis, King juga melengkapi buku ini dengan contoh-contoh novel terkenal yang baginya penuh dengan kalimat-kalimat tidak perlu dan boros. Sungguh, kekayaan istimewa buku ini.
Buku ini hadir pada saat yang tepat. Ketika tayangan televisi mengisi hampir seluruh aktifitas kita, berarti telah mengambil sebagian besar waktu kita untuk membaca. Pengaruh buruk TV telah secara langsung membelusukkan masyarakat ke pola budaya instan, pamrih hadiah, konsumerisme, slogan gaya hidup, dan segala remeh temeh yang berbau pasar. Karena, dengan “mematikan kotak yang terus menerus berbunyi itu, maka kemungkinan kualitas hidupmu akan meningkat, demikian pula kualitas tulisanmu”(Hlm. 202).
King melengkapi buku ini dengan kisahnya tertabrak mobil pada tahun 1999. Dia menyelesaikan buku ini saat sedang terluka akibat kecelakaan tersebut. sebuah peristiwa yang justru membuat buku ini jauh lebih kuat dan mempesona. Buku ini ditutup dengan rekomendasi King atas sejumlah buku yang dibacanya selama tiga atau empat tahun terakhir ini, dan menurutnya, dalam beberapa hal telah mempengaruhi tulisannya.
Baru-baru ini Stephen King menjadi salah satu pemenang Quills Award untuk buku-buku populer, setelah pada tahun 2003 meraih penghargaan Medal 2003 dari National Book Foundation (NBF) AS, karena selama ini telah menulis lebih dari 200 cerita pendek dan 40 buku.
Kepiawaian King meramu dan mengolah kata, selalu mampu membuat orang untuk membaca, tak terkecuali bagi orang yang tidak pernah membaca buku. Kesuksesannya itulah yang dia terapkan dalam buku ini, yang berisi gabungan antara autobiografi dan saran, inspirasi dan instruksi. Sebuah buku yang menjadi ‘hadiah bagi para penulis’.
Membaca buku ini akan meninggalkan kesan seolah-olah kita mengetahui bagaimana rasanya berpikir seperti Stephen King. Bagi penulis, buku ini amatlah berharga. Bagi pembaca buku, buku ini amatlah penting untuk disimak. Bagi yang tidak suka keduanya, buku ini sangat layak untuk dipertimbangkan membaca di waktu-waktu senggang. Sungguh, akan bermanfaat.

Share
Continue Reading

‘SANG GURU CINTA’ SEJATI

Judul : The Guru of Love
Penulis : Samrat Upadhyay
Penerjemah : Mahanani Putri
Tebal : 486 hlm.
Cetakan : I, Mei 2005
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta

Sejak diterbitkan pertama kali tahun 2003, novel yang bersetting di Nepal ini mendapat sambutan luar biasa, melebihi yang diperkirakan pengarangnya. Penulisnya, Samrat Upadhyay, ingin mengolah tema-tema universal dalam setting lokal. Tema seperti kesulitan mencari uang, ketidaksetiaan, dan kejahatan atau kekejaman mertua. Novel “The Guru of Love” ini adalah kisah cinta keluarga yang tidak biasa dengan detail apik penuh warna dan angel yang unik.
Dunia mengenal Nepal sebagai negara ibukota kerajaan Himalaya. Sebuah negara yang dikenal eksotis sekaligus spiritual. Namun, pada tahun 2001, semuanya berubah setelah putra mahkota Pangeran Dipendra membunuh orang tuanya, Raja Birendra dan Ratu Aishwarya, dan delapan anggota kerajaan lainnya, sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri. Pangeran Dipendra seringkali membicarakan dan berdebat dengan ibunya tentang pilihan untuk pasangan hidupnya kelak. Dan Sang ibu tidak menyetujui pilihan sang pangeran.
Permasalahan seputar bagaimana pernikahan diatur di Kathmandu, juga Nepal secara keseluruhan, pada zaman kontemporer inilah yang juga mendasari latar kekuatan novel “The Guru of Love” ini. Sebuah novel yang Membuka selubung kekuatan yang saling mempengaruhi antara cinta dan ketidaksetiaan, diri dan keluarga, privasi dan politik, dan bahkan antara erotis dan spiritual.
Bersetting di Kathmandu tahun 1990 pada saat pergolakan dan transisi Nepal menuju negara demokrasi. Dikisahkan, Ramchandra, lelaki miskin setengah baya yang juga guru matematika, memiliki berbagai persoalan hidup yang menimpa diri, keluarga, dan daerah bangsanya, Kathmandu, Nepal. Sebuah kota kecil yang penuh dengan konflik modernisasi, pemerintahan yang statis, dan ledakan penduduk. Dimana Ramchandra harus belajar mengakomodasi antara tradisi lokalnya dengan hasratnya yang sangat modern.
Di luar waktunya mengajar, Ramchandra harus membuka les tambahan di rumah kontrakannya untuk menambah pendapatan keluarga. Istri Ramchandra, Goma, adalah keturunan dari keluarga kaya raya. Sebuah perkawinan yang dari sudut pandang budaya setempat tidak seimbang. Karena di Nepal, seperti tetangganya India, kasta dan kekayaan sangat menentukan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Warna dan konflik inilah yang membuat novel yang ditulis oleh pria kelahiran Nepal yang kini bermukim di Cleveland, Amerika Serikat ini memiliki daya tarik Asia yang eksotis.
Melihat kondisi anaknya yang miskin, orang tua Goma tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghina dan mengejek Ramchandra sebagai menantunya, dan mengungkap kegagalannya sebagai pemberi nafkah keluarga yang baik. Pertentangan antara mertua dan menantu pun tak terhindarkan. Konflik ini barangkali mengingatkan kita akan kata-kata dalam novel Il Postino yang menyebutkan bahwa mertua adalah “lembaga yang paling menyebalkan di dunia”. Perkawinan Ramchandra dan Goma dikaruniai dua anak yang cerdas, Sanu dan Rakesh.
Suatu hari, seorang wanita muda miskin yang juga seorang ibu single, Malati, datang mengetuk pintu rumah Ramchandra untuk meminta memberikannya pelajaran tambahan dengan harapan agar dapat lulus ujian akhir. Permintaan Malati dikabulkan. Dan Ramchandra pun terpikat. Tidak hanya karena kecantikannya, tetapi juga oleh rasa ingin membantu dan juga sifatnya yang mudah tergoda. Cinta pun bersemi. Sebuah affair antara Ramchandra dan Malati menguak. Hubungan gelap terjalin dengan rapi dan tertatih-tatih berjalan secara perlahan.
Boleh jadi, cinta segitiga; Ramchandra, Goma, dan Malati yang menjadi tema novel ini adalah tema yang sudah biasa. Namun, Upadhyay yang juga merupakan penulis Arresting God in Kathmandu (2001) ini, mampu menggambarkan karakter psikologis yang luar biasa sebagus dalam menggambarkan realitas kehidupan sosial politik Nepal yang kompleks saat itu.
Affair antara Ramchandra dan Malati akhirnya sampai ke telinga Goma, istri Ramchandra. Percekcokan Ramchandra dan Goma semakin menambah sengsara kehidupan keluarganya. Upadhyay dengan brilliant mampu mengolah dan menghidupkan seluruh karakter tokoh dan kehidupan dalam novel ini dengan luar biasa.
Yang membuat novel ini istimewa dan lain dari biasanya adalah pada cara-cara yang tidak biasa yang menjadi solusi bagi permasalahan orang-orang dewasa dan permasalahan keluarga. Penderitaan panjang Goma melahirkan sesuatu yang unik dan istimewa untuk membantu menyembuhkan solusi affair suaminya. Secara mengejutkan, Goma hanya memiliki satu cara untuk menyelesaikannya, dia menyuruh agar suaminya membawa Malati dan anaknya tinggal di rumah mereka. Sebuah penyelesaian yang tidak biasa.
Sebuah keputusan yang di satu sisi menjadi hukuman bagi Ramchandra, namun di sisi lain menunjukkan kebesaran hati Goma dalam menghadapi masalah dirinya sendiri, meskipun suaminya telah menyalahi kepercayaannya. Bagaimana mungkin, seorang istri harus berbagi atap dengan kekasih suaminya?.
Inilah sebuah kisah cinta yang luar biasa dan mengagumkan. Cinta yang tidak biasa. Cinta yang memaafkan. Cinta dengan segala kebesaran jiwa. Namun, siapakah sebenarnya yang menjadi “Sang Guru Cinta”?
Apakah Ramchandra yang di kemudian hari mampu keluar dari masalah dan mampu memberikan kembali cinta sejatinya bagi istrinya? Atau justru Goma, istri Ramchandra yang dengan toleransinya dalam situasi yang sulit, penerimaannya terhadap suami yang tidak setia, kasih sayangnya terhadap Malati, yang kesemuanya misterius, tak dapat dijelaskan dan tidak dapat dipahami, namun keputusan yang diambilnya sangatlah arif dan bijaksana. Sehingga Goma layak dinyatakan sebagai “sang guru sejati tentang cinta”?.
Sepanjang novel, sangat terasa warna budaya khas Nepal; makanan, pakaian, permainan, dan upacara keagamaan. Bahkan, beberapa kata dan istilah dibiarkan tetap dalam bahasa aslinya, sehingga kita dapat merasakan warna lokal novel ini. Kontradiksi antara moral, tradisi, dan kemodernan saling bertaut rapi dan kuat. Chaos moral yang tergambar dalam novel ini sesungguhnya merupakan cerminan kekacauan yang terjadi di Nepal, salah satu negara miskin di dunia.
Perjalanan selama sebelas tahun sejak tahun 1990 hingga pembunuhan massal di jalan-jalan, pemberontakan kaum Mao, dan puncaknya, penghabisan keluarga kerajaan oleh putra mahkota di tahun 2001, semuanya menjadi setting dalam novel ini. Yang secara bersamaan konflik antar tokoh dalam novel ini juga bergejolak.
Samrat Upadhyay—penulis pertama Nepal yang menulis dalam bahasa Inggris dan mempublikasikan karyanya di Barat—pernah dijuluki sebagai “Chekhov Buddhist”. Memang, Upadhyay bukanlah Anton Chekhov, dia adalah seorang Buddhist, dimana ajaran-ajaran agama sangat mempengaruhi dirinya. Dan nuansa spiritual begitu terasa dalam karya-karyanya.
Orang-orang Barat cenderung menganggap Nepal hanya sebagai jalan menuju pegunungan Himalaya, tempat menghisap obat-obatan terlarang dan sebagainya. Upadhyay dalam novelnya ini ingin merubah anggapan tersebut. Nepal dalam novel Upadhyay bukanlah Shangri-La. Nepal—dan juga India—ingin berbagi sebuah kebudayaan yang masih menjaga kedalaman tradisi dan nilai-nilai spiritual yang kesemuanya dapat diungkapkan dengan agung dan apik oleh Samrat Upadhyay.
“The Guru of Love” akhirnya menjadi sebuah pesan yang berupaya menyampaikan salam cinta kepada dunia. Sebuah usaha promosi pemahaman dan kerja sama antar daerah dan bangsa di dunia, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Di tengah gaduhnya dunia dengan berbagai bencana, kekacauan, kekerasan, dan lain sebagainya, Upadhyay ingin menyampaikan bahwa cinta dapat menjadi kekuatan penyatu antar berbagai perbedaan. Sebagaimana yang tersirat dalam epilog penutup novelnya.
Novel yang disebut-sebut sebagai New York Times Notable Book of The Year 2003 ini, mengungkapkan sebuah pengalaman terbuka yang tidak hanya menimpa keluarga Ramchandra, melainkan menimpa negara secara keseluruhan. Sebagaimana kata-kata dalam novel, “Masalah pribadiku adalah masalah negara ini”, “sejarahku ini adalah sejarah negara ini yang terabaikan”.[]

Share
Continue Reading

Surat-Surat Untuk sang “Rajawali” Galileo


Judul : Putri Sang Galileo; Kisah Sejati Tentang Pergulatan Agama, Sains,
dan Cinta
Penulis : Dava Sobel
Pengantar : Nirwan Arsuka
Tebal : 403 Hlm.
Cet. : I, Februari 2004
Penerbit : Mizan, Bandung

Dibuka dengan surat Suster Maria Celeste yang bertanggalkan 10 Mei 1623, buku ini menunjukkan begitu dalam kesedihan yang harus dialami Galileo sejak dari dalam diri keluarganya. “Ayahku tersayang, kami sangat sedih atas meninggalnya adik perempuanmu, bibi kami tercinta”, “sementara kukatakan kepadamu bahwa kami berbagi rasa dalam kesedihanmu, ayah akan memperoleh hiburan yang lebih besar lagi dengan merenungi penderitaan manusia umumnya, karena kita semua di bumi ini hanya bagaikan orang asing dan musafir yang segera akan kembali ke kampung halaman sejati kita di surga”. Kekuatan hati Galileo tidak melemah. Dan justru semakin membuat dia lebih berkonsentrasi terhadap dunia kosmos. Hanya satu yang tersisa, jalinan kasih korespondensi dengan anak tersayangnya. Surat menyurat itu tak pernah berhenti. Bahkan, ketika Celeste terlambat membalasnya, Galileo sedikit marah dan menegurnya. Setitik harapan dari sebuah surat yang selalu diakhiri dengan kata-kata “putri yang paling menyayangimu”.
Galileo, setiap orang mengetahuinya, dipersalahkan pertama-tama secara pribadi pada tahun 1616, dan kemudian secara publik pada tahun 1633, dimana pada kesempatan terakhir ini dia mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan pernah mempertahankan pendapatnya lagi bahwa bumi berotasi atau berevolusi. Memang, inkuisisi berhasil mengakhiri sains di Italia, namun gagal mencegah para ilmuwan untuk mengadopsi teori heliosentris. Dan justru gereja melakukan kesalahan yang harus disesalkan di kemudian hari. Terbukti banyak pembelaan atas Galileo serta pembenaran atas teori-teorinya. Pada tahun 1992, setelah sekitar 350-an tahun dari pengadilan Galileo, Gereja Katolik menebus kesalahan itu di bawah kepemimpinan Paus Johanes Paulus II.
Buku yang ditulis Dava Sobel ini merupakan bagian dari pekikan kecil untuk sang “Rajawali” bernama Galileo. Sebuah buku yang berangkat dari kisah tulus kasih hubungan antara anak dan ayahnya. Ditulis berdasarkan 124 pucuk surat suster Maria Celeste kepada ayahnya, Galileo. Sebuah pengalaman mengharukan apabila ditilik bahwa sang ayah yang bermasalah dengan gereja justru mendapat dukungan dari seorang anak yang memilih hidupnya sebagai biarawati. Bisa dipastikan bahwa apabila surat-surat balasan Galileo bisa diselamatkan, maka begitu agungnya kemudian sejarah sains dan ilmu pengetahuan. Tapi sayang, surat-surat balasan Galileo telah disisir berulang-ulang oleh para pemuka agama dan para peneliti yang berkepentingan.
Maka, buku ini sebenarnya lebih merupakan sebuah monolog daripada dialog. Namun, dalam baris-baris kalimat buku ini tampak sebuah dialog dengan kekayaan data yang luar biasa. Dan kepiawaian Sobel benar-benar membuktikan dirinya sebagai pencerita sejarah sains yang patut dihormati dan diakui. Sobel mampu menerangi hari-hari nan jauh itu, dengan kaluasan bacaannya, hingga tampak benar-benar hidup. Sebuah karya yang istimewa.
“Aku yakin filosof yang baik terbang sendirian, seperti Rajawali”, ungkap galileo dalam The Assayer, “dan bukan dalam gerombolan seperti burung Jalak. Ini disebabkan Rajawali adalah burung langka, mereka jarang tampak dan kurang terdengar, sementara burung-burung yang terbang seperti burung Jalak memenuhi langit dengan pekikan dan jeritan mereka, dan dimanapun mereka bertengger, mereka mengotori bumi di bawahnya.”
Galileo akhirnya benar-benar terbang sendirian di jagat alam semesta. Dia harus mengalami kepedihan tanpa pembelaan di hadapan otoritas inkuisisi Gereja. Juga, sendiri terombang ambing dalam jalan setapak berbahaya antara kepercayaan yang dia anut sebagai seorang Katolik dan rahasia langit yang dia singkap lewat teleskopnya. Juga, sendiri dalam dunianya, kedua putrinya terpisah darinya dalam biara, dan bekas kekasihnya—ibu anak-anaknya—telah tiada. Kesendiriannya itulah yang kemudian menggoreskan namanya dengan tinta emas dalam sejarah sains dan filsafat. Meski, di sisi lain namanya tertulis hitam dalam sejarah gereja.
Hanya ada satu pemeriksaan pengadilan atas diri galileo, meskipun tampaknya ada seribu—penindasan ilmu oleh agama, pembelaan individu oleh penguasa, perseteruan antara kemapanan dan perubahan, tantangan penemuan baru yang radikal terhadap kepercayaan kuno, pertempuran melawan tangan besi demi kebebasan pemikiran dan suara. Tidak satupun proses dalam sejarah gereja atau hukum adat memantul dalam sejarah yang lebih bermakna, lebih besar akibatnya, lebih banyak prasangkanya, serta lebih banyak penyesalannya, daripada kasus Galileo.
Dalam dunia sains tak bisa dilupakan nama seorang anak musisi dari abad ke XVI ini, namanya, Galileo (1564-1643). Yang lahir pada hari kematian Michelangelo, dan meninggal pada tahun kelahiran Newton. Dia adalah pendiri sains modern terbesar disamping Newton. Kegigihannya yang terbesar adalah pada keyakinannya akan teori heliosentris. Ide modern tentang alam semesta tanpa batas juga dipercaya dan dikembangkan sebelumnya oleh Copernicus, ilmuwan penting atas munculnya teori heliosentris dengan bukunya On The Revolutions of the Celestial Spheres. Yang tentu pendapat ini berseberangan dengan kepercayaan gereja saat itu dengan geosentris-nya. Galileo layaknya Giordano Bruno yang dengan terang-terangan mengakui heliosentris. Bedanya, Bruno harus mati dibakar di tiang pancang di pasar bunga Roma, karena mengakuinya secara terbuka dan berani. Sementara Galileo harus mati sebagai tahanan rumah, akibat pengakuan dalam bukunya Dialogue Concerning the Two Chief World Systems.
Secara teknis, undang-undang anti-Copernicus pada tahun 1616 dikeluarkan oleh dewan inkuisisi, bukan oleh gereja. Begitu juga pada 1633, Galileo diadili dan divonis oleh otoritas suci inkuisisi, bukan oleh gereja. Namun, sejarah Galileo selalu lebih besar merupakan sejarah pertentangan antara ilmu dan gereja atau pertentangan sains dan agama. Seolah keduanya harus berhadap-hadapan tanpa kompromi. Sebuah pertentangan yang lebih merupakan akibat dari pemaknaan literal terhadap kitab suci. Padahal, sebagaimana ditunjukkan dalam buku ini bahwa Galileo sebenarnya penganut Katolik yang taat. Dimana dia menyatakan tentang hubungan antara penemuan kebenaran di alam semesta untuk menyingkap kebenaran di dalam kitab suci. “kitab suci dan alam sama-sama merupakan emanasi kalam ilahi: yang pertama diturunkan oleh roh kudus, yang kedua dijalankan oleh pelaksana yang patuh terhadap perintah-perintah Tuhan” karenanya, tiada kebenaran yang ditemukan di alam bisa bertentangan dengan kebenaran sejati kitab suci.
Galileo meyakini bahwa alam semesta ini mengikuti perintah Tuhan, yang menyingkapkan pola tersembunyi bagi para penemu yang gigih, sementara Urbanus menolak untuk membatasi kemahakuasaan Tuhannya oleh konsistensi logis. Setiap akibat di alam semesta adalah pekerjaan tangan Tuhan, yang berhak menyatakan keluarbiasaannya sendiri, dan semua itu melampaui batas-batas imajinasi manusia—bahkan dari pikiran seperti pikiran cemerlangnya galileo.
Dan sebuah kenyataan bahwa Copernicus telah menghayati ayat-ayat itu lebih daripada Aristoteles atau Ptolemeus. Dua tokoh yang menjadi rujukan penting terhadap teori geosentris. Disamping (terutama) penafsiran atas teks-teks kitab suci.
Kini, nama Galileo terpahat rapi dalam sejarah sains. Albert Einstein menyebutnya sebagai bapak fisika modern, bahkan sains modern. Dan pekikan keras suara “Rajawali” itu kini tidak sendirian. Simpatisan bertambah banyak, namun (semoga) tidak sampai akan menjadi segerombolan burung Jalak yang hanya akan mengotori bumi di bawahnya tempat dia bertengger. []

Share
Continue Reading

BILLY, SI MANUSIA DENGAN 24 WAJAH

Oleh : Ali Fauzi

Judul : 24 Wajah Billy
Penulis : Daniel Keyes
Penerjemah : Miriasti & Meda Satrio
Tebal : 699 hlm.
Cet. : I, Juli 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

Pada saat diterbitkan pertama kali, tahun 1982, buku ini tidak mendapatkan sambutan bagus di Amerika Serikat. Sambutan bagus justru datang dari masyarakat Jepang. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, ribuan orang dari berbagai negara di dunia menanyakan; apa yang terjadi terhadap Billy selanjutnya?. William Stanley Milligan atau “Billy” adalah orang pertama dalam sejarah, yang melakukan kejahatan besar dan diputuskan tidak bersalah pada tahun 1978 dengan alasan ketidakwarasan, yakni berkepribadian ganda. 


Kisah kepribadian ganda sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sindrom pertama yang mampu menarik perhatian masyarakat adalah The Three Faces of Eve karya psikiater Corbett Thigpen dan Hervey Cleckley yang ditulis tahun 1957. Karya yang kemudian difilmkan itu, menceritakan pengalaman mereka dengan pasien yang bernama Eve White. Beberapa puluh tahun kemudian, kisah yang meneguhkan penyakit kepribadian ganda secara jelas adalah Sybil (1973) karya Flora Rheta Schreiber yang mengisahkan wanita dengan 16 kepribadian.

Novel karya Daniel Keyes ini, 24 Wajah Billy, merupakan kisah yang paling kuat, detail, mengharukan, dan dianggap buku paling bagus tentang kepribadian ganda. Mengisahkan tentang Billy Milligan, lelaki Ohio, yang memiliki 24 kepribadian. Sebuah buku yang mampu menarik simpati masyarakat dunia. Sebuah kisah yang meneguhkan sekali lagi, bahwa perpecahan kepribadian (split of personality) tidak selalu merupakan gejala schizophrenia.

Kisah menarik ini dibuka dengan seruntutan peristiwa dan pengaduan pemerkosaan, perampokan, dan penodongan di Ohio State University oleh seorang laki-laki tak dikenal. Berdasarkan ciri-ciri yang diungkapkan korban, maka Billy Milligan menjadi tersangka utama. Billy pun ditangkap dan ditahan. Namun, keberadaannya di penjara justru menjadi awal kehidupan yang tidak disadarinya. Berdasarkan keterangan para psikiater, Billy menderita penyakit kepribadian ganda. Di luar kontrol dirinya, kepribadian itu muncul secara bergantian, dan sangat mengguncang.

Dua puluh empat kepribadian itu diantaranya; William Stanley Milligan (“Billy”),26, sosok pribadi asli atau pribadi inti; Arthur, 22, pria Inggris yang rasional; Ragen, 23, pengelola rasa benci; Allen, 18, orang kepercayaan dan bersifat manipulatif; Tommy, 16, ahli elektronika dan ahli melepaskan diri dari segala macam kunci dan simpul ikatan; Danny, 14, anak yang selalu ketakutan; Christene, 3, si anak sudut; Christopher, 13, abang Christene; Adalana, 19, pemalu, kesepian, wanita lesbian yang menggunakan tubuh Billy untuk memperkosa; Kevin, 20, si perencana perampokan & penjahat kelas teri; Philip, 20, si penjahat Brutal; April, 19, si perempuan brengsek yang berambisi membunuh ayah tiri Billy; dan lain sebagainya, termasuk “Sang Guru”, 26 tahun, sosok yang merupakan kesatuan dari seluruh kepribadian, dan dianggap Billy seutuhnya.

Setelah diputuskan tidak bersalah, Billy mendapat perawatan dari pemerintah. Di rumah sakit jiwa milik negara, Athens Mental Health Center, Billy mendapat perawatan dari seorang psikiater ternama, Dr. David Caul. Dan selanjutnya, juga bertemu dengan seorang penulis yang akan menuliskan kisahnya kelak.

Maka, buku ini tidak hanya menjadi sebuah rekaman seorang berkepribadian ganda, namun juga menjadi kesaksian nyata selama dua tahun penulis novel ini, Daniel Keyes.
Di bagian dua, pribadi “sang Guru” menarik ingatan Billy ke masa kecilnya yang suram. Dimana dia mengalami kekejaman fisik, mental, bahkan kekerasan seksual terhadap dirinya. Trauma dan siksaan di masa kecilnya itulah yang menyebabkan dirinya merasa butuh “inner self helper” atau penolong di dalam diri, yang kemudian melahirkan beberapa kepribadian untuk bertahan hidup.
Keterpecahan kepribadian sebenarnya merupakan mekanisme untuk menyelamatkan jiwa. Saat ada masalah yang begitu berat, seseorang akan mencoba meyakinkan bahwa bukan dirinya yang mengalami. Ia akan menganggap, trauma itu bukan lagi miliknya. Dari sinilah, berbagai karakter pribadi lain biasanya akan muncul.

Di bagian akhir cerita, menyorot masa-masa seusai kemelut dan kegoncangan jiwa. Pribadi “Sang Guru” mulai semakin percaya diri, dan mulai mau dipanggil Billy. Kepribadian dan kehidupan Billy sudah mulai terbebas dan terkontrol. Pada sekitar bulan Februari 1979, Billy membaca surat ayah tirinya kepada Mr. Herb Rau yang didapat dari Miami News. Surat itulah yang akhirnya membuat Billy tidak siap menerima kebenaran tentang kehidupan keluarganya. Pribadinya pun terpecah lagi. Kali ini, Billy dapat mengontrolnya lebih cepat.

Serangan terhadap dirinya datang pula dari pihak pemerintah dan koran setempat, yang lagi-lagi, menggoncang jiwa Billy dengan sangat keras. Kesabarannya tak terkendalikan. Kepribadiannya terpecah lagi. Dia frustasi, dan hampir bunuh diri. Dari sinilah, tantangan terus menerus Billy tidak hanya untuk melawan dirinya yang terpecah, melainkan juga harus melawan serangan-serangan profesional dan politis dari luar.

Sebuah novel yang “benar-benar membuat shock.” Demikian komentar Flora Rheta Schreiber, penulis Sybil.

Kepribadian ganda adalah masalah kejiwaan yang paling diperdebatkan dewasa ini. Istilah kepribadian majemuk atau multiple personality disorder pun dirubah menjadi dissociative identity disorder oleh Asosiasi Psikiater Amerika (APA) pada tahun 1994, dengan asumsi bahwa tidak ada pribadi ganda dalam satu tubuh, melainkan yang ada adalah kegagalan mengintegrasikan berbagai macam aspek identitas ke dalam kesatuan dirinya.

Yang membuat istimewa novel ini adalah pada cara-cara inovatif penyembuhannya dan kisah yang detail, tajam, dan menyentuh. Penulis novel ini, Daniel Keyes—yang juga penulis Flowers for Algernon dan sukses di 30 negara dalam 27 bahasa yang berbeda—mampu menghidupkan seluruh karakter tokoh dengan penyajian rinci, detail, dan dilengkapi dengan data-data akurat.
Hal penting dalam novel ini adalah apa yang diajarkan oleh Dr. David Caul dalam menangani kepribadian ganda. Yakni bagaimana berkomunikasi dengan baik satu sama lain diantara mereka sendiri. Harapan terbesar setelah proses perawatan adalah lahirnya sebuah kesatuan pribadi yang fungsional.

Akhirnya, buku ini tidak hanya penting bagi profesional dan para psikiater, namun juga bagi siapapun yang ingin melihat lebih dalam terhadap sesuatu yang lain dari kepribadian individu manusia. Film yang diangkat dari kisah ini, yakni The Crowded Room disutradarai oleh Joel Schumacher, sedang dalam tahap proses.

Lebih dari tiga puluh tahun, Billy mengalami keterpecahan diri. Sebuah luka panjang yang menyatu dalam dirinya. Namun, luka itu sangat berharga bagi Billy dan orang lain. Sebagaimana terekam dalam buku ini, dalam masa-masa labilnya, dia mengkampanyekan anti kekerasan terhadap anak. Stiker Bumper yang dibagi-bagikannya bertuliskan: PELUK ANAK ANDA HARI INI. “PELUKAN TIDAK MENYAKITKAN”. TOLONG BANTU MENGHENTIKAN PENYIKSAAN ANAK—BILLY.[]

Share
Continue Reading

Integrasi Ilmu dan Agama

Judul : Integrasi Ilmu Dan Agama; Interpretasi Dan Aksi
Penulis (ed.) : Zainal Abidin Bagir, Jarot Wahyudi, Afnan Anshori
Tebal : 270 hlm.
Cet. : I, Oktober 2005
Penerbit : Mizan, Bandung


Hubungan ilmu (sains) dan agama adalah hubungan yang rumit tapi penting. Pertautan keduanya dalam sejarah mengalami benturan-benturan yang sulit. Peristiwa saling menghakimi satu sama lain pun terjadi secara kontinu. Hingga kini, upaya memadukan sains dan agama terus menerus dilakukan oleh berbagai agama dan berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sejarah telah mencatat, Gereja Katolik pada tahun 1992 dibawah kepemimpinan Paus Johannes Paulus II telah mengakui kebenaran teori Galileo setelah ratusan tahun yang lalu dipersalahakan oleh dewan inkuisisi Gereja. Sebuah pertanda terhapusnya permusuhan sains dan agama. Kini, semakin disadari bahwa semangat sains juga terus mendampingi sukma agama dalam membebaskan manusia.
Andai saja peristiwa pembakaran Giordano Bruno di tiang pancang di pasar bunga Roma pada tahun 1600, atau dikeluarkannya undang-undang anti Copernicus pada tahun 1616, serta diadili dan divonisnya Galileo pada 1633, tidak pernah terjadi dalam sejarah, barangkali sains dan agama tidak pernah dipertentangkan dengan keras sebagaimana yang pernah terjadi.
Konflik sains dan agama semakin mengemuka pada abad ke-19 melalui dua buku berpengaruh, yakni History of the Conflict Between Religion and Science karya J.W. Draper dan a History of the Warfare of Science With Theology in Christendom karya A.D. White. Dan dalam potret yang lebih populer, “perang sains melawan agama” dipertajam oleh beberapa media massa, karena kontroversi antara materialisme ilmiah dan literalisme biblikal jauh lebih diminati khalayak dari pada posisi yang lebih moderat.
Sejarah adalah sekumpulan ingatan yang tak bisa berulang. Dan justru sederetan peristiwa itulah yang dewasa ini melahirkan relasi apik dan dialog kreatif antara sains dan agama. Upaya yang dimatangkan oleh waktu dan kebutuhan akan merujukkan kembali sains dan agama, telah melahirkan nama-nama seperti Ian G. Barbour dengan pandangan empat relasi: konflik, independensi, dialog, dan integrasi; John F Haught dengan conflict, contrast, contact, dan confirmation. Dalam Islam, kita kenal Sayyed Al-Attas dengan dewesternisasi ilmu, Al-Faruqi dengan Islamisasi ilmu, Ziauddin Sardar dengan penciptaan ‘sains Islam’ kontemporer, Nasr dengan sains sacra, dan seterusnya.
Buku Integrasi Ilmu Dan Agama; Interpretasi Dan Aksi ini merupakan bagian kecil dari upaya membangun hubungan yang sinergi antara sains dan agama di Indonesia. Beberapa ahli di bidang sains dan agama dalam buku ini menuliskan bahwa hubungan yang harmonis antara ilmu dan agama harus dibangun tidak hanya pada tataran interpretasi (teoritis) saja, melainkan juga harus ada tindakan praktis yang mendukungnya, minimal dalam dunia pendidikan.
Perubahan tiga perguruan tinggi Islam di Indonesia dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN Jakarta, Malang, dan Yogyakarta) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) telah mengokohkan, sekaligus menjadi simbol integrasi antara sains dan Islam. Meski, dalam prakteknya, penyatuan ilmu dan agama di UIN seringkali masih pada tataran institutional tanpa implementasi di bidang konseptual dan operasional yang kuat.
Keragu-raguan adanya integrasi ilmu (sains) dan agama inilah yang juga sangat terasa dalam buku ini. Bambang Sugiharto, misalnya, mengamati bahwa hubungan yang terjadi bukanlah integrasi, melainkan interaksi. Karena proses-proses seperti teologisasi ilmu atau empirisasi teologi seringkali menjadi teori dan istilah yang konyol. Bahkan lebih jauh, L.Wilarjo lebih menerima Integrasi ilmu dan agama sebagai sesuatu yang ideal yang tidak akan pernah benar-benar tercapai. Ia kita pasang sebagai utopia, sebagai cita-cita yang kita gambarkan setinggi langit sebagaimana dianjurkan oleh bung Karno, untuk tetap menghidupkan semangat kita berbincang tentang ilmu dan agama.
Bangunan pemikiran yang sangat optimis terhadap integrasi ilmu (sains) dan agama ditunjukkan oleh tulisan rektor tiga Universitas Islam Negeri. Dimana, masing-masing mengembangkan seperangkat konseptual dan operasional dalam metode pendidikan di Universitas. Sebuah langkah yang berat namun perlu. Sebuah usaha yang patut mendapat respon positif.
Dalam catatan sejarah, peradaban dan pemikiran Islam menunjukkan sebuah perjalanan yang sangat luas. Mulai perjalanan aqidah Islamiyahnya hingga perkembangan ilmu pengetahuannya. Sains Islam yang terbentang dalam sejarah merupakan sebuah gambaran luas dan kompleks yang sangat mengakar sejak awal periode Abbasiyah di Baghdad selepas tahun 750 M dan bertahan hingga 600 tahun kemudian. Selama itu, ia tersebar di sejumlah luas wilayah geografi yang terbentang dari Andalusia sampai ke Asia Tengah. Selanjutnya, semangat keilmuan itu bangkit kembali pada masa Utsmani, Mughal, dan Syafawi.
Karena itu, perubahan IAIN menjadi UIN dapat menjadi simpul dalam jala-jala kebangkitan peradaban Islam di masa depan, yang menerima kembali sains islami sebagai si anak hilang untuk dikembangkan ke arah islami yang lebih konstruktif, produktif, dan harmonis bersaing dengan universitas-universitas umum untuk menjadi center of excellence. Akhirnya, mampu menjadi harapan bersama akan datangnya kebangkitan ketiga ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.
Bangkitnya kembali semangat spiritual dan agama di kalangan ilmuwan saat ini adalah wujud kegelisahan dan kerinduan manusia akan kehidupannya saat ini. Ketika krisis kemanusiaan yang diakibatkan oleh kemajuan sains dan teknologi semakin dalam, sementara manusia merindukan ketenangan dan kedamaian, maka dialog sains dan agama menjadi wacana penting dan dibutuhkan untuk mendampingi kehidupan manusia saat ini dan mendatang.[]

Share
Continue Reading