Tips Jitu Menjadikan Anak Percaya Diri (PD)

Oleh : Ali Fauzi

Setiap anak memiliki kecenderungan yang berbeda-beda. Kecenderungan inilah yang banyak disebut sebagai faktor keturunan. Akan tetapi, Percaya Diri (PD) tidak terkait langsung dengan keturunan. PD bisa dilatih dan dikembangkan pada diri setiap anak.

Ada beberapa hal yang perlu kita lihat ketika anak kita percaya diri. Jangan-jangan, kepercayaan dirinya hanyalah semu. Yaitu, ketika anak merasa PD hanya karena mereka memiliki HP yang bagus, Jam tangan mewah, atau laptop baru. Kepercayaan diri seperti ini bukan kepercayaan diri dari dalam. Kepercayaan diri yang dimiliki bergantung pada faktor eksternal. Pada kasus seperti ini, anak akan sering kehilangan momen pada saat faktor luar tidak mendukung.

Share
Continue Reading

Anonim


Saya selalu mendampingi Anda. Saya adalah pembantu Anda yang paling rajin, atau beban Anda yang paling berat. Saya akan men-dorong Anda maju, atau menarik Anda jatuh ke dalam kegagalan. Saya sepenuhnya berada dalam kendali Anda. Setengah dari apa yang Anda lakukan mungkin akan Anda serahkan kepada saya, dan saya akan bisa melakukannya dengan cepat, tepat.
Saya mudah dikelola—Anda hanya perlu tegas terhadap saya. Tunjukkan bagai-mana tepatnya Anda ingin agar sesuatu dikerjakan, dan setelah beberapa pelajaran saya akan melakukannya secara otomatis. Saya adalah pelayan bagi semua orang hebat; dan apa boleh buat, juga bagi orang-orang yang gagal. Mereka yang gagal, saya yang membuat mereka gagal. Saya bukan mesin, sekalipun saya bekerja dengan presisi dari sebuah mesin ditambah kecerdasan manusia. Anda mau mendayagunakan saya dan mendapatkan keuntungan, atau memanfaatkan saya untuk kehancuran—hal itu tak ada beda-nya bagi saya. Ambil saya, latih saya, tegaslah terhadap saya, dan saya akan meletakkan dunia di bawah kaki Anda. Anggap enteng saya dan saya akan menghancurkan Anda.

Siapa saya? Saya adalah kebiasaan.

Renungan dari Stephen R Covey

Share
Continue Reading

Persiapan Awal tahun dengan Merancang Manajemen Kelas yang Positif

The-Learning-Process-1

Oleh: Ali Fauzi

Kelas adalah tempat dimulainya seluruh proses pembelajaran di sekolah. Dari kelaslah, kita akan membangun karakter individu siswa dan anak didik. mereka juga akan mulai belajar berbagi dengan sesama, belajar bertoleransi, dan belajar bertanggungjawab. Maka, menyajikan kondisi kelas yang nyaman dan menyenangkan adalah langkah awal untuk memulai membangun komunitas sebuah kelas yang menyenangkan dan dinamis.

Di awal tahun, perlu adanya manajemen kelas yang positif, agar perjalanan selama satu tahun ke depan menjadi proses yang aktif, menyenangkan, membangun, dan dinamis.

Share
Continue Reading

Sekolah yang Menjual atau Memproduksi? ( I )

oleh: M. Ali Fauzi

Munculnya sekolah dengan berbagai label, membuat sebagian orang tua harus lebih selektif dalam memilih pendidikan untuk anaknya. Beberapa contoh label sekolah, mulai dari sekolah bilingual, sekolah internasional, sekolah berbasis agama, fullday school, sampai sekolah alam. Hampir semua pihak sepakat bahwa kemunculan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Pertanyaannya adalah, apakah sebuah sekolah dengan label tertentu menjadi sekolah yang menjual atau sekolah yang memproduksi?

Ada perbedaan mendasar antara sekolah yang mampu memproduksi dan sekolah yang hanya menjual. Yaitu, pada pengelolaan dan pengajaran.

Sekolah yang hanya memiliki kemampuan menjual program, biasanya hanya menerapkan kurikulum diknas apa adanya tanpa pengolahan atas potensi dan kondisi masyarakat.
Sekolah dengan karakter ini, biasanya hanya mengambil program sekolah dan pengajaran dari tempat lain. Sekolah yang mengambil program atau manajemen dari tempat lain tanpa mengolah dan mematangkan sesuai kebutuhan setempat juga termasuk kategori sekolah yang “menjual”. Akibat yang paling terasa adalah lambatnya inovasi, penyikapan, dan penanganan terhadap masalah-masalah yang muncul di sekolah tersebut. Karakter sekolah ‘menjual’ biasanya menunggu perubahan dari tempat dia mengambil program sekolah.

Berbeda dengan sekolah yang ‘memproduksi’. Sekolah dengan karakter ini, benar-benar memiliki keinginan kuat mencetak generasi yang unggul. Inovasi pembelajaran selalu dilakukan agar potensi siswa betul-betul terfasilitasi.

‘memproduksi’ di sini berarti kemampuan menghasilkan program sekolah dan pengajaran terbaik bagi sekolah sendiri. Kemampuan menghasilkan ini pun bisa diperoleh melalui tempat lain, akan tetapi dikembangkan dan dipredalam sedemikian rupa sehingga tepat dalam penggunaan dan penerapannya.

Pada tingkat yang lebih tinggi, sekolah dengan karakter ‘memproduksi’ akan terus berinovasi dan menghasilkan metode terbaik bagi proses pembelajaran. Mulai dari pendidikan karakter, kecakapan hidup, enterpreneur, sampai pada perolehan prestasi akademik dan non akademis.

Untuk para orang tua. Menentukan pilihan sekolah bagi anak adalah investasi masa depan yang harus diperhatikan dengan sangat baik. Maka, lihatlah beberapa program khusus, program umum, program pengembangan, dan manajemen sekolah sebelum menentukan pilihan untuk anak-anak kita.

Untuk para guru. Memberikan yang terbaik kepada anak didik adalah tugas mulia. Berinovasi dan terus belajar adalah kunci untuk mengembangkan diri dan sekolah. Karena, apa yang kita berikan kepada anak dan siswa adalah modal mereka di masa yang akan datang.

Share
Continue Reading

Pentingnya Liburan Bagi Guru

oleh: M. Ali Fauzi

Stephen R. Covey pernah diminta mengisi tentang manajemen stress. Di hadapan peserta pelatihan, Covey membawa gayung ke depan dan mengisinya dengan air. Salah seorang peserta diminta maju dan mengangkat gayung tersebut. Covey bertanya apakah gayung tersebut terasa berat? Peserta tersebut menjawab tidak. Covey memintanya terus mengangkat selama satu jam. Apakah masih ringan? Peserta tersebut menjawab agak berat. Covey memintanya lagi mengangkat selama tiga jam. Kemudian, peserta tersebut mengatakan bahwa gayung tersebut sangat berat. Tangannya terasa kaku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa yang diungkapkan Stephen R. Covey sungguh mengagumkan. Dia mengungkapkan bahwa berat ringannya suatu masalah bukan pada masalahnya itu sendiri. Akan tetapi pada bagaimana kita mengelola dalam menyelesaikannya. Sebagaimana contoh di atas, sebenarnya gayung berisi air tersebut ringan. Akan tetapi, karena diangkat dalam waktu yang lama, maka terasa sangat berat. Akibatnya juga pada tangan kita yang terasa sakit.

Demikian halnya dengan masalah. Sebenarnya banyak sekali masalah yang ringan untuk menyelesaikannya. Seringkali yang kita lakukan adalah kita berlarut dan terus membawa masalah tersebut berhari-hari. Akibatnya, seolah masalah tersebut sangat berat.

Tidak hanya itu, terkadang ada pemikiran bahwa masalah yang kita anggap berat tadi seolah-olah jawabannya harus rumit. Sehingga kita tidak percaya apabila jawaban atas masalah tersebut begitu sederhana.

Maka, sebagai guru, tugas kita adalah menjadikan tugas harian kita menjadi tidak berat. Sarannya adalah saat pulang ke rumah, letakkan semua pekerjaan di sekolah dan jangan dibawa pulang. Agar kita bisa mengangkatnya kembali esok dengan tenaga yang lebih baru.

Begitu juga dengan liburan guru. Setelah setahun berjibaku dengan administrasi pembelajaran, mengoreksi hasil ujian, sampai menyiapkan rapot siswa, maka apakah yang diperlukan seorang guru agar bisa mengistirahatkan sejenak pikirannya?

Apapun pilihannya, asalkan benar-benar melepaskan tugas-tugas sekolah, maka akan berdampak positif. Agar di tahun ajaran baru, kita memiliki tenaga baru memulai dengan lebih baik.

Yang dibutuhkan adalah liburan psikologis. Selama satu tahun, guru harus berjuang secara psikologis mendampingi siswa, menuntaskan bahan ajar, dan berjuang melawan tekanan atasan dan seterusnya. Istirahatkan sejenak! agar kita memiliki kemampuan melupakan masalah tahun sebelumnya, mengambil pelajaran penting, lalu memberikan tenaga baru untuk tahun berikutnya.

Membaca Novel, Bertemu sahabat lama untuk membangun jaringan, menonton film, pulang kampung untuk menengok orang tua, atau apa saja.

Wahai para guru, Anak dan siswa dengan segala keunikannya sudah menunggu nasihat dan motivasi dari kita di tahun berikutnya. Maka, Liburkan diri beberapa saat. Agar Ketenangan tersebut membawa kembali kekuatan yang lebih baru, yang lebih menyegarkan, dan lebih mencerahkan bagi kita dan generasi bangsa ini.

Share
Continue Reading

Berdiri Sejajar Dengan Anak, Memulai Pendidikan Karakter

oleh: M. Ali Fauzi

Anak lelaki itu masih enggan menggerakkan kakinya. Dia hanya menunduk. Sesekali mendongakkan kepala. Tangannya memegang ujung baju dan melilitkannya ke jari. Dia masih diam. “Ayo, minta maaf!” ucap sang guru A. Anak lelaki itu masih membisu dan membatu. Matanya semakin merah dan berair.
Kemudian, lewatlah guru B. Setelah beberapa saat berbincang, guru B melipat kaki untuk mengambil posisi jongkok. Tangannya memegang bahu anak lelaki tersebut. Guru B melihat hati yang bersalah di mata yang berkaca-kaca. Kini, kepala sejajar dengan kepala. Mata bertemu mata tanpa perlu mendongak. Lalu, komunikasi terjadi. Dan bergeraklah anak lelaki itu kepada temannya untuk meminta maaf.

Menyampaikan pesan kepada anak harus dimulai dengan pemahaman. Ya, memahami bahasanya, memahami karakternya, memahami hatinya, dan memahami fisiknya. Apa yang dilakukan oleh guru B adalah proses penyetaraan hati dan perasaan melalui simbol fisik. Bagi anak, inilah kepedulian seorang ayah sekaligus teman. Sebuah efek psikologis yang berarti kepedulian penuh sayang sekaligus melindungi bagi anak.

Proses lembaga pendidikan adalah upaya memosisikan diri sejajar dengan murid. Upaya inilah yang akan membuka pengetahuan proses kreatif belajar mengajar. Kita menghadirkan kehidupan anak, misalnya, maka kita akan mengetahui apa yang mereka butuhkan.

Mereka butuh pengetahuan yang banyak karena mereka harus menghadapi dunia yang berbeda 20 tahun kemudian. Mereka butuh fondasi karakter akhlak yang kuat karena mereka kelak harus menghadapi pengaruh dari luar. Mereka membutuhkan kematangan sikap sosial karena mereka harus mandiri dan menjadi diri sendiri. Mereka membutuhkan keimanan yang kuat karena imanlah bekal terbaik menghadap Tuhan.

Ketika mata sejajar dengan mata anak, maka perjuangan dan dakwah akan mengalir. Mengalir dari mata turun ke hati. Dari hati akan mengalir menjadi tindakan dan sikap. Proses yang kontinyu seperti inilah yang membentuk butiran-butiran kristal indah dalam diri mereka sebagai karakter dan perilaku.

Pesannya adalah jangan pernah lelah. Karena kita juga harus mempersiapkan masa depan untuk anak dan cucu kita. Merekalah yang memimpin masa depan. Kita sebagai orang tua, guru, atau orang dewasa berkewajiban memberi mereka kesejahteraan yang lebih lengkap dan menyibak onak dan duri yang merintangi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jangan terburu kecewa ketika kita menanam bunga dan yang kita dapatkan adalah ulat bulu. Jangan pernah lelah. Dari ulat bulu akan lahir seekor kupu-kupu yang berwarna-warni.

Jangan juga mempercepat kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Berproses membentuk karakter adalah proses terus menerus yang harus konsisten. Bukan ijazah dengan sederetan nilai memuaskan yang akan membangun jiwa mereka. Kepribadian, akhlak, dan keimanan yang akan mendampingi mereka tumbuh menjadi dan memiliki jiwa-jiwa yang besar.

Sekarang adalah saatnya menanam. Saat harus mengencangkan otot untuk memulai. Saat harus banyak belajar. Saat harus menjaga dari hama yang tidak baik dan jahat. Di saat inilah, pikiran harus terbuka, kepedulian terhadap yang benar harus menjadi acuan, dan profesionalitas harus dijunjung tinggi. Pada saatnya, pasti akan tiba masa panen. Masa dimana kebahagiaan adalah hadiah terindah bagi mereka yang menanam.

Berdirilah sejajar!, maka kau akan memahami mereka.

Share
Continue Reading

Pentingnya Pengalaman Berprestasi

oleh: Ali Fauzi

Apa jadinya kalau Thomas Alva Edison tidak memiliki ibu yang hebat? Ketika gurunya mengatakan bahwa Edison adalah anak bodoh, maka satu-satunya orang yang melihat kelebihan Edison adalah ibunya. Sekarang, tidak hanya Edison yang bangga terhadap dirinya sendiri. Seluruh dunia sampai sekarang mengenal, mengagumi, dan membanggakan Edison.
Setiap orang tua, baik orang tua di rumah atau di sekolah, selalu menginginkan anaknya berprestasi. Tidak harus besar. Prestasi-prestasi kecil, apapun bentuknya, akan menempel sepanjang hidup. Prestasi inilah yang kemudian menggerakkan anak untuk berprestasi lebih baik.

Setiap anak mampu berprestasi. Pandangan yang beranggapan bahwa prestasi anak adalah prestasi nilai sekolah, tampaknya harus bergeser. Memang tidak mudah. Sudah bertahun-tahun menempel di alam bawah sadar bahwa prestasi demikianlah yang layak menyebut seorang anak dengan sebutan anak pintar. Efek yang tidak terasa adalah pada saat anak kita kurang berprestasi di bidang nilai di sekolah, maka dukungan kita terhadap prestasi lain agak mengurang.

Beruntungnya, paradigma lama ini hampir berganti. Banyak orang tua sekarang yang benar-benar tahu bahwa kelebihan setiap anak itu berbeda. Kalau dulu muncul pandangan bahwa setiap anak yang dilahirkan adalah sama. Sama otaknya, sama fisiknya, sama kemampuannya, dan juga sama potensinya. Maka sekarang, pandangan itu menjadi setiap anak yang dilahirkan ke dunia adalah unik. Mereka memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Tugas orang tua dan guru adalah menemukan potensi anak untuk meraih prestasi terbaik sesuai kesenangan dan keahliannya. Oleh karena itu, penyelenggara pendidikan di sekolah juga bertugas memberikan sebanyak mungkin pengalaman berprestasi kepada siswa. Mulailah dari hal-hal kecil. Misalnya, penghargaan atas ketekunan melaksanakan tugas piket atau penghargaan atas keramahan sikap.

Hal yang juga penting dilakukan adalah mengadakan kegiatan perlombaan dalam segala bidang. Mulai dari tingkat individu, kelas, antar kelas, sampai antar sekolah. Satu prestasi kecil yang diakui akan meningkatkan kepercayaan diri anak, menambah motivasi anak berprestasi lebih, dan yang paling penting anak merasa apa yang dilakukannya dihargai.

Prestasi yang diraih anak di usia sekolah akan membekas dan akan dikenangnya sepanjang hidup. Coba kita ingat, peristiwa apa yang paling mudah diingat?

Hal ini menjadi pendukung kuat untuk menghilangkan labelisasi siswa. Seperti ada siswa yang pintar, cerdas, ada juga siswa yang kurang pintar.

Berdasarkan hal inilah, memberikan pengalaman prestasi kepada anak adalah aset motivasi yang baik untuk jangka panjang.

Share
Continue Reading