KISAH NESTAPA PENJUAL DONGENG


Judul Buku :
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Rahartati Bambang
Tebal : 394 hlm.
Cet. : I, Februari 2006
Penerbit : Mizan, Bandung


Gaarder selalu memiliki ketangkasan khusus dalam memasuki pikiran dan dunia anak-anak. Seluruh anak yang lahir dalam karyanya selalu memiliki keunikan, kecerdasan, dan cenderung eksentrik. Setiap keunikan dalam diri anak-anak khayal Gaarder selalu mencerminkan kebebasan dan kemerdekaan sikap dan pikir. Cerita yang disajikan Gaarder pun selalu mudah diikuti, imajinatif, sekaligus menakjubakan.
Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini merupakan kisah yang kompleks, mengisahkan perjalanan seorang anak dengan bakat imajinasi yang luar biasa menuju kehidupannya yang lebih tua dan dewasa. Novel yang berjudul asli The Ringmaster’s Daughter ini mengukuhkan sekali lagi status Gaarder sebagai salah satu penulis Skandinavia paling menonjol, sekaligus sebagai seorang novelis dan pendongeng yang andal.
Mengisahkan cerita anak-anak dengan segala hobi dan kebiasaannya, masa keremajaan yang harus disiapkan, serta menyiapkan masa tua yang matang adalah bagian dari upaya regenerasi yang berkualitas. Kecerdasan yang lebih, keunikan anak-anak, dan segala macam nilai kejujuran di usia dini adalah sederetan tema yang begitu lihai dipersembahkan oleh Gaarder dalam setiap karya-karyanya. Pembaca setia Gaarder tentu tak bisa melupakan kisah gadis misterius dalam Sophies World (Dunia Sophie), juga kisah menarik lainnya dalam Solitaire Mystery, Christmas Mystery, Maya, Through A Glass Darkly, dan Vita Brevis. Nyatalah, Gaarder telah membuktikannya dengan brillian sebagai pencerita dengan kualitas prima.
Petter “Si Laba-Laba”, tokoh utama dalam novel Putri Sirkus ini adalah sosok yang misterius, unik, dan penuh imajinasi. Dialah sosok yang paling membuat penasaran dalam karya Gaarder setelah Sophie Amundsend dalam Dunia Sophie. Sebagaimana anak kecil lainnya, keingintahuan Petter terhadap segala sesuatu begitu besar. Namun, Petter memiliki imajinasi yang begitu bebas, liar, dan kuat. Ia pun sulit menemukan kawan dan lebih suka menyendiri di dalam dunia yang diciptakannya sendiri. Tontonan acara televisi, film-film yang dia tonton bersama ibunya di bioskop telah menciptakan alam yang seolah-olah nyata dalam dunia khayalnya. Akhirnya, ia pun tumbuh tampak menjadi seorang anak yang dewasa sebelum waktunya.
Aktivitas sehari-hari yang dijalaninya bersama sang ibu, telah menginspirasi Petter terhadap dunia perempuan. Ketika sang ibu meninggal, Petter benar-benar masuk dalam kesendirian yang sesungguhnya. Kebebasan berimajinasi Petter pun menemui aral. Imajinasinya bukan terhambat ataupun mandek, melainkan butuh media komunikasi psikis dan fisik untuk menajamkan pisau khayalnya. Dari sinilah, novel ini tampak bukan novel yang sepenuhnya cocok untuk anak-anak. Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini lebih merupakan sebuah pesta pora imaji dan cerita. Sebuah dongeng fantasi untuk orang dewasa.
Mengajak wanita untuk sekedar ngobrol, nonton, bahkan menginap di apartemen telah menjadi kebiasaan sehari-hari Petter sepeninggal ibunya. Dengan gaya hidup seperti itu, Petter membutuhkan penghasilan lebih. Kemampuan imajinasinya yang mengagumkan telah memproduksi secara massal cerita-cerita dalam dunia khayalnya. Akhirnya, Petter menciptakan Writer’s Aid, sebuah program yang didesain untuk menyediakan cerita-cerita bagi pengarang-pengarang besar internasional yang mengalami kebuntuan ide.
Petter memiliki kemampuan bercerita yang sangat prima. Namun dia tidak ingin menjadi penulis. Ketenaran adalah salah satu hal yang dibencinya. Memberi penulis sebuah kompas alur cerita adalah hal yang sangat disukainya. Karena di masa kecil hingga dewasa, Petter begitu terobsesi dengan cerita, dongeng, dan film. Tentu saja, disamping tujuannya untuk mendapatkan penghasilan lebih.
Gaya bertutur Gaarder selalu penuh makna nan ringan diikuti. Beberapa dongengnya begitu mengesankan, bertaburan kata-kata indah, penuh makna sosial, filosofis, kekeluargaan, dan begitu menyentuh. Inilah yang mengingatkan kita akan pentingnya mengkomunikasikan ide dan nilai-nilai moral melalui cerita.
Kehidupan Petter menjadi lebih baik. Salah satu kisah yang paling membuatnya terobsesi sepanjang hidupnya adalah cerita Panina Manina, kisah seorang putri sirkus yang terpisah dengan ayahnya sejak kecil. Setelah menjadi bintang gadis pemain trapeze yang terkenal, Panina Manina harus bertemu dengan ayahnya dalam kondisi patah leher dalam pertunjukan sirkus. Sungguh, sebuah kisah yang mengharukan.
Kisah Panina Manina yang begitu dikaguminya selama ini, ternyata telah mempengaruhi hidup Petter melebihi yang dia bayangkan. Sungguh sebuah alur yang menakjubkan dan tak terduga dari novel ini.
Julukan Petter “si laba-laba” pun telah benar-benar membentuk sistem laba-laba dalam kehidupan Petter. “Sungguh Menakjubkan menjadi seekor laba-laba. Sepanjang hari ia merajut dengan segulung benang yang ada dalam dirinya”(hlm.231). Program Writer’s Aid yang pada mulanya sukses, kini semakin tampak boroknya. Petter mulai terperangkap dalam jejaring yang dibuatnya sendiri. Perselingkuhan penulis berskala internasional pun terbongkar.
Dengan plot yang begitu ragam, kuat, dan ringan, Gaarder—mantan seorang guru filsafat—benar-benar piawai dalam bertutur. Nilai-nilai sosial dan budaya diolahnya dengan sangat ringan. Akhirnya, novel ini menjadi hadiah persembahan tidak hanya bagi penggemar Gaarder, namun juga penggemar dunia fantasi dan dongeng-dongeng klasik.
Dari sebuah novel kecil ini, kita akan merasa mendapatkan sebuah pelajaran yang begitu besar tentang nilai-nilai kebersamaan, kemerdekaan diri, dan pentingnya nilai-nilai keluarga. Bagi penggemar novel-novel filsafat, novel ini tidaklah mengecewakan. Bagi yang tidak menyukai filsafat, novel ini begitu berharga dan amat sayang untuk dilewatkan.[]

Share
Continue Reading

MOZART; SI JENIUS YANG PENURUT


Judul buku : MOZART; Simfoni Hidup Sang Maestro
Penulis : Peter Gay
Penerjemah : Agung Prihantoro
Tebal : 233 hlm.
Cet. : I, April 2005
Penerbit : Bentang, Yogyakarta

Ada satu saat dalam sejarah musik di mana semua pihak yang berlawanan pandangan sepakat, dan saat itu ada pada Mozart. Seorang komposer yang tidak perlu merevisi satu nada pun dalam karyanya.
Mozart adalah seorang musisi dan komponis besar, yang namanya menurut Robert Schumann, merupakan salah satu dari tiga jenius musik bersama Ludwig van Beethoven dan Johann Sebastian Bach. Dia juga dianggap setingkat dengan prestasi Raphael dan Shakespeare dalam bidangnya. Sebagian orang menyebutnya sebagai salah satu jenius terbesar dalam peradaban Barat. Dia telah menghasilkan lebih dari 600 karya selama hidupnya yang hanya berumur 35 tahun.
Namun, Mozart yang jenius ternyata juga memiliki sisi lain kehidupan yang menarik, terutama hubungannya dengan ayahnya. Mozart adalah seorang anak penurut yang taat kepada ayah dan keluarganya.
Orang biasa menyebut dan mengenalnya Mozart. Padahal nama lengkapnya agak panjang, Wolfgang Amadeus Mozart. Dan, setelah dibaptis namanya menjadi lebih panjang lagi: Joannes Christostomos Wolfgang Gottlieb Mozart. Ayahnya, Leopold Mozart, adalah seorang musisi profesional yang berpendidikan tinggi. Lahir dari keluarga musisi pada 27 Januari 1756 di Salzburg, Austria, Mozart menjadi sosok fenomenal dan mungkin sebelumnya tidak ada orang seperti dia. Pada usia tiga tahun ia telah mulai belajar musik dan memahami pelajaran secepat pelajaran tersebut diberikan kepadanya. Pada usia lima tahun ia telah mencipta beberapa karya dan kord-kord yang menyenangkan. Saat berumur enam tahun, ia telah menulis sejumlah karya cantik untuk harpsikord dan berupaya menciptakan sebuah konserto.
Mozart kecil, Si Anak Ajaib yang dikenal sebagai pencipta Eine Kleine Nachtmusik, juga simfoni, konserto, opera, dan sonata, memang tak ubahnya sebuah bintang nan amat cemerlang di angkasa musik. Bukan saja musik-musik gubahannya mempesona, tetapi juga karena ia melambangkan kejeniusan yang fenomenal. Julukan “sang maestro Mozart” diberikan kepadanya pada usia belum genap delapan tahun. Di sisi lain, kehidupan keluarganya yang penuh gejolak juga patut disimak. Ayah Mozart, Leopold Mozart, adalah figur yang dominan. Dan Mozart, di luar bakat briliannya sebagai komposer, terus menjadi “anak kecil” di bawah bayang-bayang ayahnya.
Kisah hubungan antara Mozart dan ayah (keluarganya) ini, menjadi sorotan utama buku ini. Hidup sebagai borjuis lokal membuat ayah Mozart sangat berambisi menjadikan anak-anaknya untuk bekerja keras demi kehidupan dan martabatnya kelak. Karenanya, keluarga Mozart memegang teguh nilai-nilai borjuis lokal; kerja keras, jujur, setia pada pasangan, dan cepat melunasi tagihan.
Wolfgang Mozart adalah anak yang baik dan penurut, tetapi apakah Leopold Mozart adalah ayah yang baik?. Pengaruh ayahnya tampak sangat jelas dan bertahan sangat lama sehingga tak seorang pun penulis biografi Mozart dapat melewatkan hubungan ayah-anak yang penting ini. Leopold Mozart adalah guru, kolaborator, penasehat, perawat, sekretaris, impresario, agen pers, dan pemandu sorak bagi Mozart. Sejak sangat belia, ia tahu siapa paling berjasa bagi dirinya: “sesudah Tuhan”, katanya, “papa-lah yang paling banyak berjasa.” Meski terkadang dengan kesabaran dan kerendahan hati yang menyentuh, ia menangkis tuduhan kasar ayahnya yang hampir selalu tanpa dasar menduga Mozart melakukan kesalahan atau kekeliruan tertentu. “Aku hanya memiliki satu permintaan,” tulisnya dengan nada sedih pada akhir tahun 1777, ketika usianya mendekati dua puluh dua, “yaitu janganlah terlalu berprasangka buruk tentang diriku.”
Sikap ayahnya yang demikian merupakan tuntutan sekaligus kekhawatiran sang ayah terhadap kehidupan keluarganya. Hidup dari keluarga sederhana, tumpuan hidup dan ekonomi keluarga Mozart diperoleh dari kegiatannya bermusik. Singkatnya, ada beragam motivasi yang membentuk hubungan Leopold Mozart dengan sang anak dan ini tentu sangat manusiawi. Langkah-langkah Leopold Mozart ini diantaranya didorong oleh kekhawatirannya yang irasional tentang masalah keuangan keluarga.
Mozart merupakan komponis pertama dalam sejarah yang berusaha hidup dari pekerjaannya sebagai seniman yang berdiri sendiri. Ini terjadi, terutama setelah hubungannya dengan uskup agung Hieronymus, pangeran Colloredo, retak pada tahun 1781, dan sampai akhir hayatnya, Mozart hidup dalam kemiskinan.
“Keliru kalau orang mengira bahwa seni datang dengan gampang pada saya. Tidak seorang pun yang mencurahkan begitu banyak waktu dan pikiran bagi komposisi seperti saya. Tidak ada seorang empu (musik) masyhur yang musiknya tidak saya kaji berulang-ulang.”
Penjelasan Mozart di atas mungkin ia pandang perlu karena pencinta musik gubahannya banyak yang mempercayai bahwa musik adalah urusan gampang bagi jenius kelahiran Salzburg tahun 1756 ini. Wajar saja dugaan itu muncul. Sebab, bagi Mozart, musik itu seperti begitu saja lahir dan mengalir indah, dengan style yang bisa dikatakan sempurna. Yang mendengar musik Mozart pun lebih kurang akan berpandangan sama.
Kemasyhuran Mozart di bidang musik menyebabkan nama dan komposisinya–selain Johann Sebastian Bach–menjadi paling sering dijadikan tema festival di seluruh dunia hingga kini. Sebagian dari festival-festival tersebut sudah berumur bertahun-tahun dan termasuk festival yang bergengsi di dunia, seperti halnya “Mostly Mozart Festival” di New York yang sudah berumur 37 tahun dan selalu dihadiri artis-artis besar dunia.
Komponis besar ini hanyalah satu dari sekian banyak komponis kondang dari Austria. Sebut saja Ludwig van Beethoven, Anton Bruckner, Franz Joseph Hayden, Franz Schubert, Johann Srausses, Franz von Suppe, Franz Lehar, Gustav Mahler, Richard Strauss, Alban Berg, Anton Webern, dan Arnold Schoenberg. Austria juga menghasilkan dirigen kondang, misalnya, Felix Weingartner, Clemens Krauss, dan Herbert von Karajan. Itulah sebabnya Austria disebut sebagai “Bumi Musik”. Di Vienna, Austria, ada dua gedung opera yang begitu kondang, Volksoper (Opera Rakyat) yang dibuka tahun 1904, dan Vienna State Opera yang dibuat pada tahun 1869.
Puluhan atau bahkan ratusan buku telah dibuat tentang Mozart. Sejarah hidupnya telah banyak ditulis oleh banyak penulis biografi. Masa hidupnya yang pendek, tetapi menarik menjadi sumber cerita yang dirangkai secara imajinatif oleh Franz Xaver Niemetschek, seorang pemuja Mozart dari Praha, dalam Leben des K.K.Kapellmeisterswolfgang Gottlieb Mozart nach Originalquellen Beschrieben (1798), yang juga dianggap sebagai penulis biografi Mozart pertama. Sebuah biografi utuh terbaru karya Maynard Solomon, Mozart: A Life (1995),merupakan buku yang sangat mengesankan karena penulisnya memakai perspektif psikoanalitis dalam mengeksplorasi penguasaan musik Mozart. Sebuah buku lebih dari 600 halaman ini, mampu menyuguhkan informasi tentang karir musik Mozart dan menelisik kehidupan batinnya yang ditulis secara mendetail. Dan masih banyak buku-buku yang lain.
Sementara itu, buku yang ditulis oleh Peter Gay ini terfokus pada konflik endemik ayah-anak, dan banyak mengutip buku hasil tesis Solomon. Inilah sisi lain kehidupan Mozart. Di satu sisi, dia harus menerima perlakuan ayahnya yang dominan terhadap dirinya, di sisi lain dia harus tetap mencipta dan menggubah karya musik yang bagus.
Bahkan, kisah hidup Mozart juga diangkat dalam pita seluloid pada tahun 1984. Sebuah film yang diangkat dari cerita hidup Mozart berjudul Amadeus garapan sutradara Milos Forman telah memenangkan delapan Academy Award. Sebuah penghargaan yang luar biasa.
Dalam sakit parah di masa-masa akhir hidupnya, sebuah Requiem agung diciptanya, yang ternyata menjadi pengantar kematiannya sendiri pada tahun 1791. Mozart segera dilupakan orang. Tanda kuburnya pun tak pernah diketahui pasti hingga sekarang. Seniman besar sepanjang abad ini mewarisi dunia dengan karya musik dalam jumlah dan nilai keindahan yang luar biasa besar dan tinggi. Musiknya penuh kewajaran. Ekspresi dan keagungan dituangkannya dalam keseimbangan isi dan bentuk yang klasik sempurna.
Kini, berbagai penghargaan dan festival-festival musik di seluruh dunia yang menggunakan namanya semakin banyak. Penghormatan dan penghargaan semakin meluas. Selanjutnya, kita layak menyimak sebuah kaidah mazhab Mozartian: semakin orang menganggap serius musik Mozart, semakin serius dia diperhitungkan.[]

Share
Continue Reading

BEBAN BERAT PEREMPUAN SUCI


Pernah dimuat di harian Media Indonesia, 8 Oktober 2006

Judul : Perempuan Suci
Penulis : Qaisra Shahraz
Alih Bahasa : Anton Kurnia dan Atta Verin
Tebal : 517 hlm
Cet. : I, Agustus 2006
Penerbit : Mizan, Bandung

Hampir setiap penulis novel yang keluar dari tanah kelahirannya dan menetap di negara lain, selalu mengangkat tema-tema lintas-budaya dalam setiap karya mereka. Konflik dua nilai dan tradisi yang berbeda selalu memikat di tangan para penulis imigran. Tidak hanya benturan nilai yang terasa menarik, namun narasi yang unik dan detail yang tajam selalu mampu menawarkan pesona yang berbeda. Gaya penulisan ini pulalah yang terdapat dalam diri Qaisra Shahraz, perempuan penulis Inggris kelahiran Pakistan.

Qaisra Shahraz, penulis novel ini, memiliki bakat yang istimewa. Dia tidak hanya sukses di bidang menulis, ia juga sukses di bidang pendidikan. Ketika menjadi jurnalis freelance, ia menulis feature dan artikel untuk beberapa koran dan majalah nasional maupun internasional. Ia juga menulis cerita-cerita pendek, skenario untuk televisi dan radio, juga dengan sangat piawai menulis novel. Maka, tak heran atas berbagai prestasinya itulah, ia masuk dalam daftar The Asian Women of Achievement Awards pada tahun 2002 dan masuk dalam daftar the Muslim News Awards for Excellence tahun 2003.

Novel “Perempuan Suci” ini adalah debut pertama Shahraz dalam menulis novel. Sebuah novel lintas budaya yang bersetting di Pakistan, Kairo, London, Arab Saudi, dan Malaysia. Novel ini merupakan sebuah kisah yang menggambarkan secara khusus salah satu kehidupan masyarakat desa di Pakistan. Tidak banyak novel karya penulis Pakistan yang bersetting kehidupan desa. Beberapa diantara mereka adalah Bapsi Sidhwa dengan novel The Bride (1983), Tehmina Durrani dengan Blasphemy (1998).

Dengan menggunakan tokoh protagonis wanita, Shahraz ingin menunjukkan bahwa wanita di Pakistan memiliki kekuatan, kemandirian dan independensi yang luar biasa. Namun, di balik itu semua mereka sangat lemah dan tidak memiliki kekuasaan untuk mengontrol nasib hidupnya dalam masyarakat. Karena itu, mereka memiliki rahasia dan kisah hidup pribadi yang tidak pernah diketahui masyarakat lain. Kondisi seperti inilah yang tercermin dalam diri Zarri Bano, tokoh utama novel ini.

Bersetting di Sindu, Pakistan, Zarri Bano adalah wanita yang sangat beruntung; cantik, tumbuh dalam keluarga muslim yang kaya, hidup dengan kemewahan, dan berpendidikan tinggi. Di umurnya yang ke 27 tahun, Zarri Bano belum juga menikah. Berbagai pinangan laki-laki dari berbagai penjuru daerah di Pakistan, tidak ada yang menarik hatinya. Suatu ketika, lelaki dari Karachi, Sikander Din, telah membuat hatinya terpikat dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta pun bersemi. Pesta pertunangan pun diadakan dengan resmi.

Dengan penciptaan karakter tokoh yang kuat, alur cerita pun bergerak cepat. Sehingga kita akan merasakan dan menikmati novel ini halaman demi halaman dengan sangat ringan. Konflik pun bermula ketika Jafar, adik kandung Zarri Bano, meninggal mendadak dalam sebuah kecelakaan. Berdasarkan tradisi nenek moyang yang berlaku, ketika satu-satunya ahli waris laki-laki meninggal dunia, maka ahli waris diturunkan kepada anak perempuan pertama. Perempuan itu disyaratkan tidak akan pernah meninggalkan rumah ayahnya. Akibatnya, dia tidak bisa menikah dan harus menjadi Perempuan Suci.

Zarri Bano pun harus menerima takdirnya sebagai seorang Perempuan Suci, seorang Shahzadi Ibadat. Yakni, perempuan yang harus menikah dengan al-Qur’an, keimanan dan agamanya. Sosok perempuan yang disimbolkan sebagai ulama Islam, seorang guru moral