Video Tentang Manajemen Kelas ( 2 )

manajemen kelas || sejutaguru.com

Oleh : Ali Fauzi

Arnold Schwarzenegger berkata bahwa inilah film terbaik dari dirinya. Meski banyak film-film action yang dibintanginya yang sangat luar biasa, Film Kindergarten Cop menjadi film favorit Arnold.

Jika kita sebagai guru, melihat video di bawah ini dan kemudian mampu membuat list panjang tentang hal positif dan negatif terkait manajemen kelas, maka anda memiliki kemampuan untuk berubah.

Share
Continue Reading

Video Tentang Manajemen Kelas ( 1 )

manajemen kelas

Oleh: Ali Fauzi

Dari kelas, siswa akan membentuk diri dan jati dirinya. Suasana kelas sangat menentukan perkembangan anak. Dan dari kelas pulalah, seorang anak akan membuka diri untuk dunia yang lebih luas.

Seorang guru yang mampu bercerita dengan sangat apik, bisa membuat anak menyukai sejarah. Seorang guru yang mampu tampil dan menyajikan ilmu eksakta menjadi hal yang sederhana, maka ilmu eksakta bisa menjadi primadona. Seorang guru yang mampu membuat keindahan alam menjadi kata-kata, menyuarakan hati dengan bahasa yang berbunga-bunga, dan mengobarkan semangat hanya dengan bahasa, maka dunia sastra tidak menjemukan lagi bagi siswa.

Bahkan, seorang guru yang mampu membangun hubungan emosional dengan siswanya, maka sekolah akan menjadi rumah bagi anak-anak. Sekolah akan menjadi tempat yang dirindukan dan menjadi pemandu atau kompas bagi kehidupan anak-anak kelak.

Share
Continue Reading

Video Tentang Pentingnya Memilih Metode Mengajar Yang Tepat

Metode mengajar yang salah, terkadang mengecewakan murid.

Video bagus ini salah satu contohnya.

Potongan film ini menunjukkan hal yang sangat nyata. Ini adalah potongan film “Monalisa Smile”. Kali ini, kita mengambil pelajaran dari satu scene film tersebut. Sungguh sangat bermanfaat bagi kita sebagai guru.

Google telah memudahkan bagi siapa saja yang ingin mencari ilmu dan informasi. Bagi yang memiliki kemampuan dan kemauan, google sungguh sangat bermanfaat.

Bisa jadi, salah satu murid kita telah belajar banyak melampaui buku teks pelajarannya. Sehingga, jika kita hanya mengajar hanya berpatokan buku, maka ada saja murid yang merasa bosan. Jika belum mampu mengupdate materi, yuk minimal kita ubah cara menyampaikannya.

Silakan mengambil kesimpulan positif dari video ini terlepas dari apapun kekurangannya.

Video versi youtube ada di link

salam www.sejutaguru.com

 

Share
Continue Reading

Panduan Mudah Melakukan Penilaian

penilaian di sekolah || liputan6.com

Oleh : Ali Fauzi

Pilih mana yang paling bagus dalam melakukan penilaian

Manakah yang sering kita lakukan?
Bagian apa yang Sering kita lewatkan?

Misalkan kita sampaikan kepada 4 orang anak dengan cara yang berbeda seperti di bawah ini.

1. “Gambarlah ikan! Bebas.”

Setelah selesai dan dikumpulkan.
Kita memberikan nilai, lalu mengumumkan nilainya.
“Nilaimu adalah 75”

2. “Gambarlah ikan! Nanti akan dinilai”
Kemudian anak memulai menggambar.

3. “Gambatlah ikan! Nanti akan dinilai. Yang lengkap dengan hewan dan tanaman laut lainnya lebih tinggi nilainya”
Kemudian anak memulai menggambar.

4. “Gambarlah ikan! Nanti akan dinilai. Yang lengkap dengan hewan dan tanaman laut lainnya lebih tinggi nilainya. Jika diwarnai akan lebih sempurna nilainya”
Kemudian anak memulai menggambar.

Kira-kira manakah kemungkinan gambar yg lebih bagus yg akan dihasilkan anak?

Manakah yang lebih memotivasi anak untuk berusaha melebihi kemampuannya?

Manakah cara yang lebih adil dan faktual?

Silakan mencoba dan membuktikan

Share
Continue Reading

2 Jebakan Yang Sering Tidak Disadari Dalam Penerapan Reward and Punishment

reward and punishment || educenter.id

Oleh : Ali Fauzi

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa cara termudah untuk menegakkan disiplin adalah dengan sistem reward dan punishment. Ada juga yang berpendapat bahwa cara terbaik mengatur dan mengarahkan anak adalah dengan cara model reward dan punishment. Bahkan, untuk meningkatkan semangat belajar atau semangat berkarya, salah satu cara yang sering dilakukan adalah model reward dan punishment.

Tidak ada yang salah ketika reward dan punishment kita terapkan. Toh, hampir semua level kehidupan sangat sulit dipisahkan dari proses reward dan punishment.

Sayangnya, reward dan punishment seringkali muncul seolah-olah untuk menunjukkan “kekuasaan” orang dewasa. “Kekuasaan” guru terhadap muridnya, senior terhadap juniornya, atau orangtua terhadap anaknya. Mayoritas berdalih bahwa reward dan punishment merupakan cara terbaik dan satu-satunya untuk bisa mengendalikan keadaan.

Share
Continue Reading

Apa Yang Terjadi Jika Seorang Guru Tidak Lagi Membaca Buku?

membaca buku sumber gambar: gatesnotes.com

Oleh : Ali Fauzi

Seorang guru, suatu siang di saat jam istirahat sekolah, bertanya kepada rekannya.

Inilah percakapannya.

A: Bagaimana jika seorang guru tidak membaca buku sama sekali dalam tiga tahun terakhir?

B: Tidak masalah. Tidak ada aturan keguruan yang dilanggarnya. Toh, buktinya sangat banyak guru yang seperti itu dan guru tersebut biasa-biasa saja dan sekolah tempatnya mengajar berlangsung bertahun-tahun seperti biasa juga.

A: Tapi kan zaman sudah berubah. Kok guru tidak membaca buku sama sekali tidak masalah?

Share
Continue Reading

Sederhana Dan Mudahnya Pendidikan Karakter. Inilah Caranya…

pendidikan karakter || gambar dari okezone.com

Oleh : Ali Fauzi

Ketika melihat soal 2 + 2 = … Maka, rata-rata orahg dewasa  akan mampu menjawab dengan kecepatan seperti tanpa berpikir. Bahkan, kadang-kadang secepat gerakan reflek. Kecepatan ini akan melambat ketika kita sodorkan soal 74 X 39 = …

Saya yakin anda mampu menyelesaikan perkalian tersebut. Dengan hanya bermodal kertas dan pensil, semua bisa selesai dalam beberapa detik. Kalaupun tidak membutuhkan kertas dan pensil, anda membutuhkan waktu beberapa saat.

Kita coba lagi hal yang berbeda. Jika saya meminta anda menghitung mulai dari 23 s.d. 50, maka anda pasti bisa melakukannya dengan sangat mudah. Begitu juga ketika saya minta anda untuk menghitung mundur dari 85 s.d. 20, besar kemungkinan anda juga berhasil tanpa kesulitan.

Sekarang, saya minta anda menyebutkan alfabet dari “A” s.d.” Z”, maka anda juga lancar. Tantangan menjadi rumit ketika saya meminta anda untuk mengurutkan alfabet secara terbalik. Misalnya, dari “U” s.d. “G”. Sangat membutuhkan waktu karena kita hampir tidak pernah melakukannya.

Share
Continue Reading