‘RING’ DAN PESAN KEMATIAN UNTUK DUNIA

Pernah dimuat di harian Media Indonesia, 9 Januari 2006

Judul : RING
Penulis : Koji Suzuki
Penerjemah : Utti Setiawati
Tebal : 433 hlm.
Cet. : I, November 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

Koji Suzuki sering disebut sebagai Stephen King dari Jepang. Novel-novel horornya memikat tidak hanya bagi masyarakat Jepang. Karya masterpiece-nya yang berjudul “Ring”, telah memukau banyak orang dan menghasilkan tren supernatural baru di seluruh dunia.

Sejarah dunia mencatat dan mengenal Jepang sebagai sebuah negara dengan tradisi lokal tinggi dan teknologi yang maju. Kondisi masyarakatnya yang konsumerisme telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan tradisi-tradisi lokal. Persinggungan keduanya terus terjadi. Kondisi inilah yang ditangkap dengan baik oleh Koji Suzuki. Novel yang telah difilmkan di Jepang dengan judul Ringu dan di Hollywood dengan judul Ring ini menggambarkan teror di Jepang pada era postmodern. Sebuah teror yang lahir dari perpaduan tradisi lokal dan dunia modern di Jepang. Sungguh, ancaman ini adalah teror psikologis yang mengkhawatirkan.

Situasi pertentangan antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru yang terjadi di Jepang dan dunia secara keseluruhan inilah yang telah memberi kekuatan makna tersendiri bagi novel ‘Ring’. Novel ini menarik bukan hanya karena ceritanya yang menegangkan, menakutkan, dan mencekam. Novel yang bersetting di Tokyo ini sangat kompleks, memuat tema-tema seperti misanthropy, hermaphrodisme, gender, kasih sayang, penyakit, media, moralitas, juga nilai-nilai utilitarianisme. Sebuah perpaduan genius yang memikat.

Kisah menarik ini diawali ketika suatu malam di Tokyo, empat remaja tewas dengan tidak wajar di tempat terpisah. Kazuyuki Asakawa, seorang jurnalis surat kabar di Tokyo, adalah orang pertama yang menyadari dan mengetahui peristiwa tersebut dan kemudian tertantang untuk mengungkap misteri di balik kematian yang tidak wajar dan sulit dipahami tersebut.

Ya, semua bermula dari kisah supir taksi mengenai tewasnya Shuichi Iwata yang kemudian mengingatkan Asakawa kepada keponakan istrinya, Tomoko Oishi, yang juga tewas pada malam yang sama dan dengan penyebab yang sama: serangan jantung mendadak. Keyakinan Asakawa pun menguat setelah ia mendapatkan berita dua orang remaja lainnya yang juga tewas pada malam yang sama. Bahwa peristiwa tersebut tidak sekedar kebetulan, melainkan ada misteri yang terselubung. Oleh virus atau apapun.

Penulis novel ini, Koji Suzuki, sengaja membangun karakter cerita dengan sederhana, kuat dan cepat. Setelah melakukan penelusuran, Asakawa pergi ke sebuah resort di Hakone. Sebuah tempat dimana empat remaja tersebut menginap bersama seminggu sebelumnya dan menonton sebuah video yang mengandung kutukan kematian bagi penontonnya, termasuk Asakawa. “Siapapun yang menonton gambar-gambar ini ditakdirkan untuk mati pada jam yang sama satu minggu dari sekarang”.

Kutukan itu sebenarnya memiliki penangkal. Celakanya, bagian yang mengatakan tentang penangkal itu, justru rusak terhapus. Maka, Asakawa harus berlomba dengan waktu memecahkan misteri penangkal atau ia sendiri harus mati seperti keempat remaja sebelumnya. Satu-satunya orang yang dapat membantu, yang ada dalam pikiran Asakawa adalah Ryuji Takayama, teman sekolahnya dulu yang juga seorang profesor filsafat.

Kisah ini mengalir begitu dingin dan mencekam. Penulis novel ini menghadirkan plot yang menakutkan dan mengejutkan, yang kesemuanya dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari. Cerita pun bergerak secara mengejutkan. Istri dan anak Asakawa ternyata juga telah menonton video tersebut. Asakawa menjadi takut dan berusaha lebih keras. Akhirnya, sedikit demi sedikit terkuaklah tabir gelap yang melingkupi kutukan itu. Si pembuat kutukan adalah Sadako, seorang gadis jelita yang meninggal dua puluh lima tahun lalu. Ia merekam video maut tersebut melalui lensa matanya dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, mencoba menyampaikan pesan kepada dunia luar (penonton) perihal kematiannya. Petualangan pun dimulai.

Yang membuat novel ini istimewa adalah kompleksitas makna yang dikandungnya. Misal, perubahan jenis kelamin tokoh protagonist Kazuyuki Asakawa yang laki-laki dalam novel menjadi tokoh protagonist berjenis kelamin perempuan dalam filmnya, baik yang di Jepang, (Ringu, 1998), maupun yang di Hollywood (Ring, 2002). Pertimbangan utama memilih tokoh perempuan adalah bahwa tradisi merawat anak perempuan di Jepang bersifat maternalistik atau tugas seorang ibu. Sebenarnya, pemilihan Suzuki dengan karakter laki-laki dalam novel ini adalah ingin memberi wacana baru atas tugas seorang ayah bagi masyarakat Jepang. Tema hermaphrodisme muncul dalam tokoh Sadako. Dan sepanjang novel, persoalan-persoalan moralitas, utilitarianisme bertaburan memperkuat karakter penceritaan novel ini.

Semakin menyentuh dan menarik. Novel ini juga menyajikan tema drama yang tampak kuat meski hanya muncul beberapa saat. Tepatnya, cinta seorang ayah terhadap istri dan anaknya. Sebagaimana diakui oleh Koji Suzuki, dasar tema novel ini sebenarnya tentang cinta Suzuki kepada anaknya. Disamping itu, tampaknya pengarang tidak ingin memberi celah bagi pembaca untuk mengernyitkan dahi. Dengan sangat detail dan apik, Koji Suzuki secara brillian telah menciptakan ketegangan yang mampu membuat betah pembacanya dari halaman ke halaman buku ini. Sebuah kisah horror yang tanpa melibatkan darah.

Bangunan kombinasi antara dimensi mistis dan ilmu pengetahuan modern yang tertuang dalam novel ini sungguh mengagumkan. Psikologi paranormal, studi atas dunia supernatural dan okultisme, seringkali dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun dalam buku ini, psikologi paranormal justru menjadi salah satu kunci untuk menyingkap struktur alam semesta. Hal inilah yang tampak bagi sebagian kalangan disebut sebagai pseudo-science.

Bungkusan lokal atas nilai-nilai universal dalam novel ini menjadikannya sebagai sebuah buku lintas dunia, meski sedikit terbatas ruang lingkupnya. Bagi penyuka kisah-kisah horror dan thriller psikologi, karya-karya Koji Suzuki sangat layak disimak. Bagi pecinta cerita detektif, buku ini sangatlah tidak mengecewakan.
Novel yang dalam versi Jepangnya telah terjual lebih dari tiga juta kopi ini pada akhirnya menjadi sebuah pesan kematian bagi dunia. Sebuah pesan yang akan menggugah kesadaran manusia terhadap diri dan peradabannya. Teror yang mengemuka dalam kisah novel ini hanya bagian dari “sebuah ujian bagi spesies manusia. Di setiap abad, Setan akan muncul kembali dengan samaran yang berbeda. Kau bisa membasminya, dan terus membasminya, tapi dia akan terus datang lagi, lagi, dan lagi”(hlm.433).

Peradaban manusia boleh maju setinggi langit. Namun, anak peradaban itu sendirilah yang akan melahirkan pembunuhnya. Ancaman akan hilangnya perdamaian, kenyamanan, dan ketenteraman manusia bisa menjadi semacam teror kematian untuk dunia. Selamatkanlah diri, keluarga, dan peradabanmu!. Inilah pesan utama buku ini.[]

Share
Continue Reading

KISAH NESTAPA PENJUAL DONGENG


Judul Buku :
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Rahartati Bambang
Tebal : 394 hlm.
Cet. : I, Februari 2006
Penerbit : Mizan, Bandung


Gaarder selalu memiliki ketangkasan khusus dalam memasuki pikiran dan dunia anak-anak. Seluruh anak yang lahir dalam karyanya selalu memiliki keunikan, kecerdasan, dan cenderung eksentrik. Setiap keunikan dalam diri anak-anak khayal Gaarder selalu mencerminkan kebebasan dan kemerdekaan sikap dan pikir. Cerita yang disajikan Gaarder pun selalu mudah diikuti, imajinatif, sekaligus menakjubakan.
Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini merupakan kisah yang kompleks, mengisahkan perjalanan seorang anak dengan bakat imajinasi yang luar biasa menuju kehidupannya yang lebih tua dan dewasa. Novel yang berjudul asli The Ringmaster’s Daughter ini mengukuhkan sekali lagi status Gaarder sebagai salah satu penulis Skandinavia paling menonjol, sekaligus sebagai seorang novelis dan pendongeng yang andal.
Mengisahkan cerita anak-anak dengan segala hobi dan kebiasaannya, masa keremajaan yang harus disiapkan, serta menyiapkan masa tua yang matang adalah bagian dari upaya regenerasi yang berkualitas. Kecerdasan yang lebih, keunikan anak-anak, dan segala macam nilai kejujuran di usia dini adalah sederetan tema yang begitu lihai dipersembahkan oleh Gaarder dalam setiap karya-karyanya. Pembaca setia Gaarder tentu tak bisa melupakan kisah gadis misterius dalam Sophies World (Dunia Sophie), juga kisah menarik lainnya dalam Solitaire Mystery, Christmas Mystery, Maya, Through A Glass Darkly, dan Vita Brevis. Nyatalah, Gaarder telah membuktikannya dengan brillian sebagai pencerita dengan kualitas prima.
Petter “Si Laba-Laba”, tokoh utama dalam novel Putri Sirkus ini adalah sosok yang misterius, unik, dan penuh imajinasi. Dialah sosok yang paling membuat penasaran dalam karya Gaarder setelah Sophie Amundsend dalam Dunia Sophie. Sebagaimana anak kecil lainnya, keingintahuan Petter terhadap segala sesuatu begitu besar. Namun, Petter memiliki imajinasi yang begitu bebas, liar, dan kuat. Ia pun sulit menemukan kawan dan lebih suka menyendiri di dalam dunia yang diciptakannya sendiri. Tontonan acara televisi, film-film yang dia tonton bersama ibunya di bioskop telah menciptakan alam yang seolah-olah nyata dalam dunia khayalnya. Akhirnya, ia pun tumbuh tampak menjadi seorang anak yang dewasa sebelum waktunya.
Aktivitas sehari-hari yang dijalaninya bersama sang ibu, telah menginspirasi Petter terhadap dunia perempuan. Ketika sang ibu meninggal, Petter benar-benar masuk dalam kesendirian yang sesungguhnya. Kebebasan berimajinasi Petter pun menemui aral. Imajinasinya bukan terhambat ataupun mandek, melainkan butuh media komunikasi psikis dan fisik untuk menajamkan pisau khayalnya. Dari sinilah, novel ini tampak bukan novel yang sepenuhnya cocok untuk anak-anak. Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini lebih merupakan sebuah pesta pora imaji dan cerita. Sebuah dongeng fantasi untuk orang dewasa.
Mengajak wanita untuk sekedar ngobrol, nonton, bahkan menginap di apartemen telah menjadi kebiasaan sehari-hari Petter sepeninggal ibunya. Dengan gaya hidup seperti itu, Petter membutuhkan penghasilan lebih. Kemampuan imajinasinya yang mengagumkan telah memproduksi secara massal cerita-cerita dalam dunia khayalnya. Akhirnya, Petter menciptakan Writer’s Aid, sebuah program yang didesain untuk menyediakan cerita-cerita bagi pengarang-pengarang besar internasional yang mengalami kebuntuan ide.
Petter memiliki kemampuan bercerita yang sangat prima. Namun dia tidak ingin menjadi penulis. Ketenaran adalah salah satu hal yang dibencinya. Memberi penulis sebuah kompas alur cerita adalah hal yang sangat disukainya. Karena di masa kecil hingga dewasa, Petter begitu terobsesi dengan cerita, dongeng, dan film. Tentu saja, disamping tujuannya untuk mendapatkan penghasilan lebih.
Gaya bertutur Gaarder selalu penuh makna nan ringan diikuti. Beberapa dongengnya begitu mengesankan, bertaburan kata-kata indah, penuh makna sosial, filosofis, kekeluargaan, dan begitu menyentuh. Inilah yang mengingatkan kita akan pentingnya mengkomunikasikan ide dan nilai-nilai moral melalui cerita.
Kehidupan Petter menjadi lebih baik. Salah satu kisah yang paling membuatnya terobsesi sepanjang hidupnya adalah cerita Panina Manina, kisah seorang putri sirkus yang terpisah dengan ayahnya sejak kecil. Setelah menjadi bintang gadis pemain trapeze yang terkenal, Panina Manina harus bertemu dengan ayahnya dalam kondisi patah leher dalam pertunjukan sirkus. Sungguh, sebuah kisah yang mengharukan.
Kisah Panina Manina yang begitu dikaguminya selama ini, ternyata telah mempengaruhi hidup Petter melebihi yang dia bayangkan. Sungguh sebuah alur yang menakjubkan dan tak terduga dari novel ini.
Julukan Petter “si laba-laba” pun telah benar-benar membentuk sistem laba-laba dalam kehidupan Petter. “Sungguh Menakjubkan menjadi seekor laba-laba. Sepanjang hari ia merajut dengan segulung benang yang ada dalam dirinya”(hlm.231). Program Writer’s Aid yang pada mulanya sukses, kini semakin tampak boroknya. Petter mulai terperangkap dalam jejaring yang dibuatnya sendiri. Perselingkuhan penulis berskala internasional pun terbongkar.
Dengan plot yang begitu ragam, kuat, dan ringan, Gaarder—mantan seorang guru filsafat—benar-benar piawai dalam bertutur. Nilai-nilai sosial dan budaya diolahnya dengan sangat ringan. Akhirnya, novel ini menjadi hadiah persembahan tidak hanya bagi penggemar Gaarder, namun juga penggemar dunia fantasi dan dongeng-dongeng klasik.
Dari sebuah novel kecil ini, kita akan merasa mendapatkan sebuah pelajaran yang begitu besar tentang nilai-nilai kebersamaan, kemerdekaan diri, dan pentingnya nilai-nilai keluarga. Bagi penggemar novel-novel filsafat, novel ini tidaklah mengecewakan. Bagi yang tidak menyukai filsafat, novel ini begitu berharga dan amat sayang untuk dilewatkan.[]

Share
Continue Reading

MOZART; SI JENIUS YANG PENURUT


Judul buku : MOZART; Simfoni Hidup Sang Maestro
Penulis : Peter Gay
Penerjemah : Agung Prihantoro
Tebal : 233 hlm.
Cet. : I, April 2005
Penerbit : Bentang, Yogyakarta

Ada satu saat dalam sejarah musik di mana semua pihak yang berlawanan pandangan sepakat, dan saat itu ada pada Mozart. Seorang komposer yang tidak perlu merevisi satu nada pun dalam karyanya.
Mozart adalah seorang musisi dan komponis besar, yang namanya menurut Robert Schumann, merupakan salah satu dari tiga jenius musik bersama Ludwig van Beethoven dan Johann Sebastian Bach. Dia juga dianggap setingkat dengan prestasi Raphael dan Shakespeare dalam bidangnya. Sebagian orang menyebutnya sebagai salah satu jenius terbesar dalam peradaban Barat. Dia telah menghasilkan lebih dari 600 karya selama hidupnya yang hanya berumur 35 tahun.
Namun, Mozart yang jenius ternyata juga memiliki sisi lain kehidupan yang menarik, terutama hubungannya dengan ayahnya. Mozart adalah seorang anak penurut yang taat kepada ayah dan keluarganya.
Orang biasa menyebut dan mengenalnya Mozart. Padahal nama lengkapnya agak panjang, Wolfgang Amadeus Mozart. Dan, setelah dibaptis namanya menjadi lebih panjang lagi: Joannes Christostomos Wolfgang Gottlieb Mozart. Ayahnya, Leopold Mozart, adalah seorang musisi profesional yang berpendidikan tinggi. Lahir dari keluarga musisi pada 27 Januari 1756 di Salzburg, Austria, Mozart menjadi sosok fenomenal dan mungkin sebelumnya tidak ada orang seperti dia. Pada usia tiga tahun ia telah mulai belajar musik dan memahami pelajaran secepat pelajaran tersebut diberikan kepadanya. Pada usia lima tahun ia telah mencipta beberapa karya dan kord-kord yang menyenangkan. Saat berumur enam tahun, ia telah menulis sejumlah karya cantik untuk harpsikord dan berupaya menciptakan sebuah konserto.
Mozart kecil, Si Anak Ajaib yang dikenal sebagai pencipta Eine Kleine Nachtmusik, juga simfoni, konserto, opera, dan sonata, memang tak ubahnya sebuah bintang nan amat cemerlang di angkasa musik. Bukan saja musik-musik gubahannya mempesona, tetapi juga karena ia melambangkan kejeniusan yang fenomenal. Julukan “sang maestro Mozart” diberikan kepadanya pada usia belum genap delapan tahun. Di sisi lain, kehidupan keluarganya yang penuh gejolak juga patut disimak. Ayah Mozart, Leopold Mozart, adalah figur yang dominan. Dan Mozart, di luar bakat briliannya sebagai komposer, terus menjadi “anak kecil” di bawah bayang-bayang ayahnya.
Kisah hubungan antara Mozart dan ayah (keluarganya) ini, menjadi sorotan utama buku ini. Hidup sebagai borjuis lokal membuat ayah Mozart sangat berambisi menjadikan anak-anaknya untuk bekerja keras demi kehidupan dan martabatnya kelak. Karenanya, keluarga Mozart memegang teguh nilai-nilai borjuis lokal; kerja keras, jujur, setia pada pasangan, dan cepat melunasi tagihan.
Wolfgang Mozart adalah anak yang baik dan penurut, tetapi apakah Leopold Mozart adalah ayah yang baik?. Pengaruh ayahnya tampak sangat jelas dan bertahan sangat lama sehingga tak seorang pun penulis biografi Mozart dapat melewatkan hubungan ayah-anak yang penting ini. Leopold Mozart adalah guru, kolaborator, penasehat, perawat, sekretaris, impresario, agen pers, dan pemandu sorak bagi Mozart. Sejak sangat belia, ia tahu siapa paling berjasa bagi dirinya: “sesudah Tuhan”, katanya, “papa-lah yang paling banyak berjasa.” Meski terkadang dengan kesabaran dan kerendahan hati yang menyentuh, ia menangkis tuduhan kasar ayahnya yang hampir selalu tanpa dasar menduga Mozart melakukan kesalahan atau kekeliruan tertentu. “Aku hanya memiliki satu permintaan,” tulisnya dengan nada sedih pada akhir tahun 1777, ketika usianya mendekati dua puluh dua, “yaitu janganlah terlalu berprasangka buruk tentang diriku.”
Sikap ayahnya yang demikian merupakan tuntutan sekaligus kekhawatiran sang ayah terhadap kehidupan keluarganya. Hidup dari keluarga sederhana, tumpuan hidup dan ekonomi keluarga Mozart diperoleh dari kegiatannya bermusik. Singkatnya, ada beragam motivasi yang membentuk hubungan Leopold Mozart dengan sang anak dan ini tentu sangat manusiawi. Langkah-langkah Leopold Mozart ini diantaranya didorong oleh kekhawatirannya yang irasional tentang masalah keuangan keluarga.
Mozart merupakan komponis pertama dalam sejarah yang berusaha hidup dari pekerjaannya sebagai seniman yang berdiri sendiri. Ini terjadi, terutama setelah hubungannya dengan uskup agung Hieronymus, pangeran Colloredo, retak pada tahun 1781, dan sampai akhir hayatnya, Mozart hidup dalam kemiskinan.
“Keliru kalau orang mengira bahwa seni datang dengan gampang pada saya. Tidak seorang pun yang mencurahkan begitu banyak waktu dan pikiran bagi komposisi seperti saya. Tidak ada seorang empu (musik) masyhur yang musiknya tidak saya kaji berulang-ulang.”
Penjelasan Mozart di atas mungkin ia pandang perlu karena pencinta musik gubahannya banyak yang mempercayai bahwa musik adalah urusan gampang bagi jenius kelahiran Salzburg tahun 1756 ini. Wajar saja dugaan itu muncul. Sebab, bagi Mozart, musik itu seperti begitu saja lahir dan mengalir indah, dengan style yang bisa dikatakan sempurna. Yang mendengar musik Mozart pun lebih kurang akan berpandangan sama.
Kemasyhuran Mozart di bidang musik menyebabkan nama dan komposisinya–selain Johann Sebastian Bach–menjadi paling sering dijadikan tema festival di seluruh dunia hingga kini. Sebagian dari festival-festival tersebut sudah berumur bertahun-tahun dan termasuk festival yang bergengsi di dunia, seperti halnya “Mostly Mozart Festival” di New York yang sudah berumur 37 tahun dan selalu dihadiri artis-artis besar dunia.
Komponis besar ini hanyalah satu dari sekian banyak komponis kondang dari Austria. Sebut saja Ludwig van Beethoven, Anton Bruckner, Franz Joseph Hayden, Franz Schubert, Johann Srausses, Franz von Suppe, Franz Lehar, Gustav Mahler, Richard Strauss, Alban Berg, Anton Webern, dan Arnold Schoenberg. Austria juga menghasilkan dirigen kondang, misalnya, Felix Weingartner, Clemens Krauss, dan Herbert von Karajan. Itulah sebabnya Austria disebut sebagai “Bumi Musik”. Di Vienna, Austria, ada dua gedung opera yang begitu kondang, Volksoper (Opera Rakyat) yang dibuka tahun 1904, dan Vienna State Opera yang dibuat pada tahun 1869.
Puluhan atau bahkan ratusan buku telah dibuat tentang Mozart. Sejarah hidupnya telah banyak ditulis oleh banyak penulis biografi. Masa hidupnya yang pendek, tetapi menarik menjadi sumber cerita yang dirangkai secara imajinatif oleh Franz Xaver Niemetschek, seorang pemuja Mozart dari Praha, dalam Leben des K.K.Kapellmeisterswolfgang Gottlieb Mozart nach Originalquellen Beschrieben (1798), yang juga dianggap sebagai penulis biografi Mozart pertama. Sebuah biografi utuh terbaru karya Maynard Solomon, Mozart: A Life (1995),merupakan buku yang sangat mengesankan karena penulisnya memakai perspektif psikoanalitis dalam mengeksplorasi penguasaan musik Mozart. Sebuah buku lebih dari 600 halaman ini, mampu menyuguhkan informasi tentang karir musik Mozart dan menelisik kehidupan batinnya yang ditulis secara mendetail. Dan masih banyak buku-buku yang lain.
Sementara itu, buku yang ditulis oleh Peter Gay ini terfokus pada konflik endemik ayah-anak, dan banyak mengutip buku hasil tesis Solomon. Inilah sisi lain kehidupan Mozart. Di satu sisi, dia harus menerima perlakuan ayahnya yang dominan terhadap dirinya, di sisi lain dia harus tetap mencipta dan menggubah karya musik yang bagus.
Bahkan, kisah hidup Mozart juga diangkat dalam pita seluloid pada tahun 1984. Sebuah film yang diangkat dari cerita hidup Mozart berjudul Amadeus garapan sutradara Milos Forman telah memenangkan delapan Academy Award. Sebuah penghargaan yang luar biasa.
Dalam sakit parah di masa-masa akhir hidupnya, sebuah Requiem agung diciptanya, yang ternyata menjadi pengantar kematiannya sendiri pada tahun 1791. Mozart segera dilupakan orang. Tanda kuburnya pun tak pernah diketahui pasti hingga sekarang. Seniman besar sepanjang abad ini mewarisi dunia dengan karya musik dalam jumlah dan nilai keindahan yang luar biasa besar dan tinggi. Musiknya penuh kewajaran. Ekspresi dan keagungan dituangkannya dalam keseimbangan isi dan bentuk yang klasik sempurna.
Kini, berbagai penghargaan dan festival-festival musik di seluruh dunia yang menggunakan namanya semakin banyak. Penghormatan dan penghargaan semakin meluas. Selanjutnya, kita layak menyimak sebuah kaidah mazhab Mozartian: semakin orang menganggap serius musik Mozart, semakin serius dia diperhi