PERJALANAN YANG MENGGERAKKAN

Judul Buku : Historiografi Haji Indonesia
Penulis : Dr. M. Shaleh Putuhena
Tebal : xx + 436 hlm.
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cet. : I, Januari 2007

Mekkah dan Madinah telah menjadi sebuah perjalanan ideal kaum muslim di seluruh dunia. Menyempurnakan ibadah dengan mengunjungi ‘Rumah Tuhan’ adalah nilai puncak perjalanan makhluk kepada Tuhannya. Dalam sejarah Indonesia, perjalanan ke Makkah telah menjadi salah satu penggerak revolusi dalam sejarah Indonesia. Meski tidak langsung, peran itu sangat kentara.
Sejarah haji di Indonesia sangat terkait dengan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di bumi nusantara. Menelusuri sejarah haji berarti berupaya mengungkap salah satu penggerak sosial Islam Indonesia. Bagaimana tidak, naik haji ke Makkah pada saat itu dimaksudkan bukan hanya mengunjungi Kota Suci dan bangunan-bangunan suci, melainkan yang lebih penting adalah untuk memperbaiki praktik-praktik dan pengetahuan keagamaan. Perjalanan itu telah menjadi perjalanan ideal bagi kalangan muslim di bumi nusantara untuk menuntut ilmu.
Buku karya Dr. M. Shaleh Putuhena ini merupakan karya akademis yang serius yang mencoba memberikan peta historiografi haji di Indonesia. Dalam hubungannya dengan sejarah Islam Indonesia, Dr. M. Shaleh Putuhena memandang haji lebih dari sekedar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan sebuah proses transformasi sosial, pendidikan, ekonomi, dan politik bagi masyarakat Indonesia. Buku ini mencoba menunjukkan bahwa proses ibadah haji di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan sosial-politik di Indonesia.
Haji di Indonesia bermula ketika terbukanya jalan dagang internasional di bumi nusantara pada sekitar abad VIII, yang juga telah membuka kesempatan bagi warga pribumi untuk melakukan perdagangan dan pelayaran ke berbagai negara dunia, seperti India dan Arab. Beberapa pelabuhan di nusantara, seperti di Samudera Pasai, telah menjadi lalu lintas perdagangan internasional yang ramai.
Salah satu sumber dari Venesia menyebutkan bahwa pada tahun 1565 dan 1566 ada lima buah kapal dari kerajaan Aceh yang berlabuh di Jeddah yang pada saat itu lebih berfungsi sebagai pelabuhan niaga, bukan pelabuhan haji. Hal ini menjadi bukti bahwa pada abad XVI telah ada orang pribumi yang datang dan berlabuh di Makkah dengan kapalnya sendiri untuk berdagang. Tujuan utama mereka sebenarnya adalah berdagang. Namun, mereka menyempatkan diri berkunjung ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji.
Tidak hanya berdagang. Menurut catatan sumber-sumber tradisional jawa, kunjungan ke Makkah juga ada yang berdasarkan tugas sebagai diplomat. Nurullah yang kemudian lebih dikenal sebagai Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati berangkat ke Makkah sebagai diplomat untuk meminta bantuan Turki Utsmani agar mengusir Portugis dari Pasai.
Haji di nusantara sudah dimulai sejak abad XVI, yang sebenarnya lebih kepada tujuan dagang dan melaksanakan tugas dari pemerintahannya. Mereka inilah yang kemudian dianggap sebagai angkatan perintis haji Indonesia.
Pada abad XVII keberangkatan orang nusantara ke tanah Haramain (Makkah-Madinah) semakin meningkat dengan tujuan berdagang dan menuntut ilmu. Pusat-pusat pendidikan Islam pun menyebar di berbagai penjuru nusantara, terutama di pulau jawa dan Sumatra. Di Banten dan Sailon, misalnya, menjadi pusat pendidikan yang terkenal karena ada tokoh besar seperti Syekh Yusuf Makassar. Aceh menjadi pusat pendidikan yang kondang karena ada Syekh Abdurrauf Singkel. Ulama lain yang terkenal adalah Nuruddin Ar-Raniry.
Hal ini tampaknya selaras dengan tradisi muslim yang lebih luas dalam transmisi pengetahuan antar-generasi. Transmisi antar-pribadi menjadi jantung dari proses transmisi pengetahuan Islam. Para sarjana muslim di seluruh dunia melakukan perjalanan dari satu pusat belajar ke pusat belajar lainnya dengan tanah Makkah dan Madinah sebagai tujuan akhir yang paling dicita-citakan, adalah untuk memperoleh pengetahuan keagamaan yang otoritatif secara langsung. Para ulama yang telah pulang dari Makkah inilah yang kemudian memberi warna perubahan bagi kehidupan masyarakat di nusantara. Tidak hanya dalam skala lokal namun juga skala nasional. Pada posisi inilah, haji telah menjadi penggerak sosial Islam Indonesia.
Namun, baru pada abad XVIII perjalanan ke tanah Haramain sudah dengan tujuan utama untuk melaksanakan ibadah haji. Jumlah orang yang pergi ke Makkah pun meningkat dari tahun ke tahun, bahkan hingga sekarang. Pada tahun 1853-1858 tercatat ada sekitar 12.985 orang yang pergi ke Makkah. Snouck Hurgronje, yang pernah tinggal di Makkah pada 1884/1885 mengamati bahwa “jarang ada bagian dari dunia muslim mana pun yang proporsi antara jumlah penduduk dan orang naik haji setiap tahunnya yang lebih tinggi dari kepulauan Malaya.”
Paling tidak terdapat dua alasan kondusif yang membuat jumlah orang naik haji pada akhir abad XIX meningkat dengan pesat. Pertama, diperkenalkannya kapal uap, dibukanya Terusan Suez yang berorientasi laba yang membantu lalu lintas haji. Kedua, memburuknya kondisi-kondisi sosio-ekonomi di nusantara dan semakin ketatnya kontrol atas aktivitas-aktivitas keagamaan, setelah terjadinya pemberontakan-pemberontakan oleh pribumi terhadap pemerintah kolonial.
Haji juga berpengaruh pada dunia politik tanah air. Para ulama yang pernah bermukim dan menuntut ilmu di Makkah, kembali ke tanah air tidak hanya membentuk pusat-pusat pendidikan di daerah-daerah. Namun juga menggerakkan dan memberantas praktik-praktik keagamaan yang menyimpang. Pada tahun 1803, tiga orang ulama Minangkabau, Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang kembali dari Makkah. Kegiatan mereka dan kelompoknya yang kemudian dikenal dengan Gerakan Padri pada mulanya bertujuan untuk memberantas praktik-praktik keagamaan yang menyeleweng. Akan tetapi, kemudian mendapat perlawanan dari pemerintah kolonial Belanda. Pada puncaknya, meletuslah Perang Padri (1821-1832). Peran para ulama Haji juga sangat menonjol dalam pemberontakan Cilegon (1888