Panduan Mudah Melakukan Penilaian

penilaian di sekolah || liputan6.com

Oleh : Ali Fauzi

Pilih mana yang paling bagus dalam melakukan penilaian

Manakah yang sering kita lakukan?
Bagian apa yang Sering kita lewatkan?

Misalkan kita sampaikan kepada 4 orang anak dengan cara yang berbeda seperti di bawah ini.

1. “Gambarlah ikan! Bebas.”

Setelah selesai dan dikumpulkan.
Kita memberikan nilai, lalu mengumumkan nilainya.
“Nilaimu adalah 75”

2. “Gambarlah ikan! Nanti akan dinilai”
Kemudian anak memulai menggambar.

3. “Gambatlah ikan! Nanti akan dinilai. Yang lengkap dengan hewan dan tanaman laut lainnya lebih tinggi nilainya”
Kemudian anak memulai menggambar.

4. “Gambarlah ikan! Nanti akan dinilai. Yang lengkap dengan hewan dan tanaman laut lainnya lebih tinggi nilainya. Jika diwarnai akan lebih sempurna nilainya”
Kemudian anak memulai menggambar.

Kira-kira manakah kemungkinan gambar yg lebih bagus yg akan dihasilkan anak?

Manakah yang lebih memotivasi anak untuk berusaha melebihi kemampuannya?

Manakah cara yang lebih adil dan faktual?

Silakan mencoba dan membuktikan

Share
Continue Reading

2 Jebakan Yang Sering Tidak Disadari Dalam Penerapan Reward and Punishment

reward and punishment || educenter.id

Oleh : Ali Fauzi

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa cara termudah untuk menegakkan disiplin adalah dengan sistem reward dan punishment. Ada juga yang berpendapat bahwa cara terbaik mengatur dan mengarahkan anak adalah dengan cara model reward dan punishment. Bahkan, untuk meningkatkan semangat belajar atau semangat berkarya, salah satu cara yang sering dilakukan adalah model reward dan punishment.

Tidak ada yang salah ketika reward dan punishment kita terapkan. Toh, hampir semua level kehidupan sangat sulit dipisahkan dari proses reward dan punishment.

Sayangnya, reward dan punishment seringkali muncul seolah-olah untuk menunjukkan “kekuasaan” orang dewasa. “Kekuasaan” guru terhadap muridnya, senior terhadap juniornya, atau orangtua terhadap anaknya. Mayoritas berdalih bahwa reward dan punishment merupakan cara terbaik dan satu-satunya untuk bisa mengendalikan keadaan.

Share
Continue Reading

Apa Yang Terjadi Jika Seorang Guru Tidak Lagi Membaca Buku?

membaca buku sumber gambar: gatesnotes.com

Oleh : Ali Fauzi

Seorang guru, suatu siang di saat jam istirahat sekolah, bertanya kepada rekannya.

Inilah percakapannya.

A: Bagaimana jika seorang guru tidak membaca buku sama sekali dalam tiga tahun terakhir?

B: Tidak masalah. Tidak ada aturan keguruan yang dilanggarnya. Toh, buktinya sangat banyak guru yang seperti itu dan guru tersebut biasa-biasa saja dan sekolah tempatnya mengajar berlangsung bertahun-tahun seperti biasa juga.

A: Tapi kan zaman sudah berubah. Kok guru tidak membaca buku sama sekali tidak masalah?

Share
Continue Reading

Sederhana Dan Mudahnya Pendidikan Karakter. Inilah Caranya…

pendidikan karakter || gambar dari okezone.com

Oleh : Ali Fauzi

Ketika melihat soal 2 + 2 = … Maka, rata-rata orahg dewasa  akan mampu menjawab dengan kecepatan seperti tanpa berpikir. Bahkan, kadang-kadang secepat gerakan reflek. Kecepatan ini akan melambat ketika kita sodorkan soal 74 X 39 = …

Saya yakin anda mampu menyelesaikan perkalian tersebut. Dengan hanya bermodal kertas dan pensil, semua bisa selesai dalam beberapa detik. Kalaupun tidak membutuhkan kertas dan pensil, anda membutuhkan waktu beberapa saat.

Kita coba lagi hal yang berbeda. Jika saya meminta anda menghitung mulai dari 23 s.d. 50, maka anda pasti bisa melakukannya dengan sangat mudah. Begitu juga ketika saya minta anda untuk menghitung mundur dari 85 s.d. 20, besar kemungkinan anda juga berhasil tanpa kesulitan.

Sekarang, saya minta anda menyebutkan alfabet dari “A” s.d.” Z”, maka anda juga lancar. Tantangan menjadi rumit ketika saya meminta anda untuk mengurutkan alfabet secara terbalik. Misalnya, dari “U” s.d. “G”. Sangat membutuhkan waktu karena kita hampir tidak pernah melakukannya.

Share
Continue Reading

Guru, Jangan Hanya Kau Kenalkan Namamu. Ceritakan Tentang Dirimu…

hari pertama sekolah ||sumber gambar bisnis.com

Oleh : Ali Fauzi

Tulisan ini untuk guru dan untuk siapapun yang memiliki jiwa pendidik. Bisa untuk guru baru, guru senior yang membutuhkan penyegaran, atau sekadar pengingat.

Hari pertama sekolah adalah saat dimana teka-teki dalam diri anak akan terjawab. Setiap anak, terkadang orangtua juga, menyimpan rapi teka-teki dalam dirinya. Tentang sekolah, kelas, teman, teman sebangku, teman lama, guru, wali kelas, gedung sekolah, bahkan tentang dirinya sendiri.

Apapun yang anak dapatkan di hari pertama, akan memengaruhi harapan anak di sekolahnya. Apakah hari pertama langsung menentukan? Iya, tapi tidak besar. Dengan catatan, kesalahan hari pertama harus langsung diperbaiki di hari berikutnya. Anak-anak di sekolah akan membangun harapan dan kesan pada minggu pertama sampai bulan pertama. Jika hari pertama terlewati dengan biasa saja, maka mari menyempurnakannya di hari-hari berikutnya.

Share
Continue Reading

Untuk Orangtua; Beranikah Ambil Rapor Anak Tanpa Bertanya Ranking?

ranking kelas | honolulumagazine.com

oleh: Ali Fauzi

Kalau merasa sulit menahan untuk tidak bertanya peringkat, maka itu adalah kewajaran. Barangkali, kita tumbuh pada zaman dimana satu-satunya ukuran kesuksesan adalah peringkat di sekolah. Saat ini, tidak salah jika kita mulai mengubah mindset itu. Toh, zaman juga sudah jauh berubah.

Robert T Kiyosaki pernah mengungkapkan bahwa siswa yang hebat di kelas atau “siswa unggulan akan berhasil jika bermain aman di zona yang nyaman. Namun, begitu mereka memasuki dunia yang bertempo cepat dan sangat kompetitif, kemampuan mereka tidak terlalu berarti”.

Mari memberanikan diri untuk tidak bertanya peringkat dalam arti tertentu, yakni peringkat dan hasil belajar sebagai perolehan nilai semata. Mari mulai berani mengubahnya!

Share
Continue Reading

3 Cara Melakukan Inovasi Di Sekolah. Peran Guru Muda Salah Satu Pilar Terpenting

peran guru || tes.com

Oleh : Ali Fauzi

Suatu ketika, saat harus menjual perusahaan kepada Microsoft, pemimpin Nokia berkata, “kami tidak melakukan apapun yang salah, tetapi entah bagaimana, kami kalah.”

Nokia jelas-jelas memiliki SDM yang handal dan mumpuni. Seluruh kinerjanya terukur, rapi, dan terkendali secara mutu. Namun yang terjadi sungguh mengagetkan. Hal ini membuka mata kita bahwa saat ini bermain aman saja tidak cukup. Setiap lembaga kini membutuhkan perubahan, kecepatan, inovasi, dan kreativitas.

Tidak begitu penting sebuah sekolah memiliki konsultan khusus atau pelatih khusus di bidang inovasi. Setiap guru memiliki suara, ide, dan kreativitas. Sehingga, inovasi bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Hal inilah yang diketahui betul oleh Ken Robinson ketika mengatakan, “pemimpin kreatif tidak harus memiliki banyak ide, yang dibutuhkan adalah menciptakan budaya di mana setiap orang dapat bersuara dan memiliki ide dan kemudian mereka merasa dihargai.”

Share
Continue Reading
1 3 4 5 6 7 16